Palm Oil is Part of the Solution to Achieve Indonesia’s Target of Emission Reduction

  • English
  • Bahasa Indonesia

Global warming and global climate change have become a problem and concern for the world community. This phenomenon has the potential to cause substantial losses and even threaten the sustainability of life on Earth.In relation to the magnitude of the impact and losses caused, the governments of various countries in the world have agreed to undertake efforts to mitigate and overcome climate change.

The Conference of the Parties (COP) is an annual high-level forum to discuss climate change and how countries in the world should deal with it. This conference is also a part of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), which has been ratified by every country. The first COP-1 meeting was held on March 21, 1994, and the COP-26 meeting is scheduled to take place in Scotland, United Kingdom, on November 1-12, 2021.

Indonesia has hosted COP-13 in Bali in 2017. At COP-26, Indonesia also plays an important role as co-chair with the UK. Not only in the COP, Indonesia is also active in various international forums to combat global climate change. Indonesia is listed as one of the countries that ratified the Paris Agreement, which means it shows our strong commitment to reducing greenhouse gas (GHG) emissions and preventing climate change.

Although not included in the  Top-5 emitters in the world, Indonesia is making strong efforts to reduce GHG emissions by setting targets set out in the Nationally Determined Contribution (NDC). The document contains a plan to reduce Indonesia’s emissions until 2030 by 29% (Business as Usual/BAU) up to 41% (with international support). The emission reduction targets are assigned to five sectors, namely: forestry (17.2%), energy (11%), agriculture (0.32%), industry (0.1%), and waste (0.38%).

As part of Indonesia’s strategic sector, the palm oil industry (including its plantations) has a role in reducing GHG emissions and achieving NDC targets. Based on Petrus Gunarso’s explanation in a webinar held by Relawan Jaringan Rimbawan, he explained that estate plantation (not specifically oil palm plantations) were included into the forestry sector or forestry and other land use (FOLU) in the NDC document.

Palm oil

Regarding its contribution to reducing GHG emissions, oil palm is also one of the plants that has a morphological form as a tree/annual plant. With this morphology, oil palm plants also have a function as the “lungs” of the ecosystem, namely absorbing carbon dioxide from the atmosphere and supplying oxygen to the atmosphere. Several studies also show that oil palm plantations have the ability to absorb carbon dioxide in a net (carbon sink) greater than tropical forests.

Carbon stock contained in oil palm plantations, both in the form of oil and biomass, and even waste, can be used as an alternative to the use of fossil fuel, where the production and consumption of fossil fuel (coal/BBM) is one of the world’s major sources of GHG emissions.

The palm oil industry is capable of producing the first generation of biofuel energy (biodiesel and greenfuel/bio-hydrocarbons) from processing palm oil (CPO/CPKO); second generation biofuel energy (biopremium/biogasoline/bioethanol, biopellet, biogas/bioelectricity, biobara) from oil palm biomass (empty fruit bunches, shells and fruit fibres, stems and midribs); and third generation biofuel energy (biogas/bioelectricity and biodiesel algae) from POME liquid waste. In addition to replacing the use of fossil energy, palm oil biofuels are also low in carbon emissions and more sustainable, so they have great potential to reduce GHG emissions as the cause of global warming and climate change.

Empirical evidence of reducing carbon emissions due to the use of palm oil-based biofuel is shown by the implementation of biodiesel in Indonesia. APROBI noted that the use of biodiesel (B30) managed to reduce the carbon emissions of about 24.6 million tonnes of CO2, equivalent to 7.8% of the target’s energy mix by 2030. We can imagine the magnitude of the potential reduction in carbon emissions if products such as palm-diesel, palm-gasoline, and palm-avtur were used in Indonesia.

The processing of POME, in addition to producing third-generation biofuels that are low in emissions, more sustainable and able to reduce the potential for fuel-food trade-offs, has also proven to be an effort to reduce emissions at the plantation/PKS level. The largest source of emissions in palm oil mills comes from POME liquid waste, which contains a lot of organic compounds that can release hazardous materials such as methane. The application of a methane capture plant in POME to produce biogas/biomethane will also reduce methane emissions.

The contribution of palm oil in reducing GHG emissions should not be underestimated, considering the large potential contribution, both through emission absorption (ecosystem lungs) and the production of low-emission palm biofuels and reducing the use of fossil energy. Moreover, through improving the management of oil palm plantations, both the moratorium policies, ISPO and PSR, have also proven to be strategic steps that have implications for reducing deforestation in Indonesia, which will increase the contribution to achieving of Indonesia’s NDC target.

Pemanasan global dan perubahan iklim global telah menjadi masalah dan perhatian masyarakat dunia. Hal ini dikarenakan fenomena tersebut dapat menimbulkan banyak kerugian bahkan dapat mengancam keberlanjutan kehidupan di planet bumi. Berkaitan dengan besarnya dampak dan kerugian yang ditimbulkan, pemerintah berbagai negara di dunia sepakat untuk melakukan upaya mitigasi dan penanggulangan perubahan iklim.

Conference of the Parties (COP) adalah salah satu forum tingkat tinggi tahunan antar pemimpin dunia untuk membahas terkait perubahan iklim dan bagaimana negara-negara di dunia menanggulanginya. Konferensi ini juga menjadi bagian Konvensi Kerangka Kerja PBB atas Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCC) yang telah diratifikan oleh setiap negara. Pertemuan COP-1 diadakan pertama kalinya pada tanggal 21 Maret 1994 dan pertemuan COP-26 diagendakan akan berlangsung di Skotlandia, Inggris Raya pada tanggal 1-12 November 2021.

Indonesia pernah menjadi tuan rumah COP-13 di Bali pada tahun 2017. Dalam COP-26 ini, Indonesia juga memainkan peran penting sebagai co-chair bersama Inggris. Tidak hanya dalam COP, Indonesia juga aktif dalam berbagai forum internasional untuk memerangi perubahan iklim global. Indonesia tercatat menjadi salah satu negara yang meratifikasi Paris Agreement yang berarti kuatnya komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan mencegah terjadinya perubahan iklim.

Meskipun tidak termasuk negara Top-5 emitter dunia, namun Indonesia berupaya kuat untuk menurunkan emisi GRK dengan menyusun target yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Dalam dokumen tersebut, memuat rencana penurunan emisi Indonesia hingga tahun 2030 sebesar 29% (Business as Usual/BAU) sampai dengan 41% (dengan dukungan internasional). Target penurunan emisi tersebut dibebankan pada lima sektor yaitu: kehutanan (17.2%), energi (11%), pertanian (0.32%), industri (0.1%), dan limbah (0.38%).

Sebagai bagian dari sektor strategis Indonesia, industri sawit (termasuk perkebunannya) juga memiliki peran dalam penurunan emisi GRK dan pencapaian target NDC. Berdasarkan paparan Petrus Gunarso dalam webinar yang diadakan oleh Relawan Jaringan Rimbawan, menjelaskan bahwa perkebunan/estate plantation (tidak spesifik perkebunan sawit) tergabung dalam sektor kehutanan atau Forestry and Other Land Use (FOLU) dalam dokumen NDC.

Palm oil

Berkaitan dengan kontribusinya dalam penurunan emisi GRK, kelapa sawit juga merupakan salah satu tanaman yang memiliki bentuk morfologi sebagai pohon/tanaman tahunan. Dengan morfologi tersebut, tanaman kelapa sawit juga memiliki fungsi sebagai “paru-paru” ekosistem yakni menyerap karbon dioksida dari atmosfer planet bumi dan memasok oksigen ke atmosfer bumi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa perkebunan sawit memiliki kemampuan dalam menyerap karbondioksida secara netto (carbon sink) yang lebih besar dibandingkan hutan tropis.

Carbon stock yang terdapat dalam tanaman kelapa sawit baik dalam bentuk minyak maupun biomassa bahkan limbahnya juga dapat menjadi solusi alternatif penggunaan energi fosil, dimana produksi dan konsumsmi energi fosil (batu bara/BBM) menjadi salah satu sumber emisi GRK terbesar di dunia.

Industri sawit mampu menghasilkan energi biofuel generasi pertama (biodiesel dan greenfuel/biohidrokarbon) dari pengolahan minyak sawit (CPO/CPKO); energi biofuel generasi kedua (biopremium/biogasoline/bioethanol, biopelet, biogas/biolistrik, biobara) dari biomassa sawit (tandan kosong, cangkang dan serat buah, batang dan pelepah); dan energi biofuel generasi ketiga (biogas/biolistrik dan biodiesel algae) dari limbah cair POME. Selain mengganti penggunaan energi fosil, biofuel sawit tersebut juga rendah emisi karbon dan lebih berkelanjutan sehingga berpotensi besar untuk menurunkan emisi GRK sebagai penyebab dari pemanasan dan perubahan iklim global.

Bukti empiris dari penurunan emisi karbon akibat penggunaan biofuel sawit ditunjukkan oleh implementasi biodiesel di Indonesia. APROBI mencatat bahwa penggunaan biodiesel (B30) berhasil menurunkan emisi karbon sekitar 24.6 juta ton CO2 atau setara dengan 7.8% dari target bauran energi tahun 2030. Dapat dibayangkan besarnya potensi penurunan emisi karbon jika produk greenfuel seperti bensin sawit, solar sawit dan avtur sawit telah digunakan di Indonesia.

Pengolahan limbah cair POME selain menghasilkan biofuel generasi ketiga yang rendah emisi, lebih berkelanjutan dan mampu menurunkan potensi trade-off fuel-food, juga terbukti menjadi upaya dalam penurunan emisi di tingkat perkebunan/PKS. Sumber emisi terbesar di PKS berasal dari limbah cair POME yang mengandung banyak senyawa organik dan berpotensi melepaskan bahan berbahaya seperti methana. Pengaplikasian methane capture plant pada POME untuk menghasilkan biogas/biomethane juga akan mereduksi emisi methane.

Kontribusi sawit dalam penurunan emisi GRK seharusnya jangan dipandang sebelah mata, mengingat besarnya potensi kontribusi baik melalui penyerapan emisi (paru-paru ekosistem) maupun produksi biofuel sawit yang rendah emisi dan menggurangi penggunaan energi fosil. Terlebih melalui perbaikan tata kelola perkebunan sawit baik kebijakan moratorium, ISPO dan PSR juga terbukti menjadi langkah startegis yang berimplikasi pada penurunan deforestasi di Indonesia akan semakin berkontribusi terhadap pencapaian target Indonesia dalam NDC.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *