Palm Oil Opportunities To Take Advantage Of Who Regulation “Trans Fats Elimination By 2023”

  • English
  • Bahasa Indonesia

The World Health Organization (WHO) will implement a policy of free industrially produced trans fatty acids in the supply chain of a food product by 2023. To achieve this goal, WHO has also made action packages and global guidelines to eliminate trans fats as REPLACE (Review, Promote, Legislate, Assess, Create, Enforce). As many as 23 countries have implemented mandatory limits on the use of trans industrial fatty acids by the end of 2018 and it is estimated that around 58 countries will introduce laws by the end of 2021.

This policy was taken as a step to reduce the millions of premature deaths triggered by the consumption of food products containing industrial-free fatty acids. Various studies state that consumption of industrially produced trans fatty acids has a detrimental impact on human health to cause death caused by various diseases such as cardiovascular, atherosclerosis, obesity, type-2 diabetes, and infertility in women.

One of them is a journal article published in the Journal of the American Medical Association found that people who lived in parts of New York State where trans fats had been banned for three or more years had significantly lower rates of heart attacks and strokes. Another study conducted by The American Journal of Preventive Medicine showed that this policy was successful in saving an average of 14.2 lives per 100,000 people each year.

In contrast to natural trans fatty acids that are found in animal foods such as milk and meat, industrially produced trans fatty acids are produced from industrial processes such as the hydrogenation process (especially partial hydrogenation) to increase the density and stability of edible oil or edible fat, which is the raw material for food products such as cooking oil, bread, crackers, cakes, and others.

The WHO policy regarding the ban on the use of industrially processed trans fatty acids in food products can be seen as an opportunity for palm oil to fulfilling the global needs. Palm oil is one of the edible oils which is proven as free of industrially (artificial) trans fatty acids. The natural composition of palm oil contains relatively high saturated fatty acids (around 44 percent) has implications for its semi-solid form with a melting point from 33oC-39oC and stable at high temperatures around 180oC. These characteristics cause palm oil can be applied to food products without through the hydrogenation process.

palm oil

The opportunity for palm oil to meet the  needs of the global community will be even greater with the implementation of WHO’s regulation. Because palm oil will substitute the need for soft oils such as soybean oil and sunflower seed oil which contain high trans fatty acids due to their production process that they produced through both fully hydrogenated and partially hydrogenated processes. This fact confirm by Prof. Purwayitno Hariyadi in the book “Mengenal Minyak Sawit dengan Beberapa Karakter Unggulya” states that the unsaturated-trans fatty acids content in hydrogenated soybean oil reach 13-30 percent.

Thus, palm oil, especially stearin, can substitute vegetable oils containing trans fatty acids as a material of food products. Dr. Puspo Edi Giriwono, a researcher at the SEAFAST Center, who said that the United States Government also severely limits the use of soybean oil produced from the hydrogenation process and then substituted by palm oil.

 

Similar to that statement, Prof. Purwayitno Hariyadi who also serves as Vice-Chair of the Alimentarius Codex Commission also said in a webinar organized by the National Standardization Agency (BSN) which also discusses WHO policies related to the elimination of industrially process trans fatty acids, states that in some countries palm oil has been used as an alternative to subsitutes edible oil produced from Partially Hydrogenated Oil (PHO) contains trans fatty acids.

On different webinar, Prof. Purwayitno Hariyadi emphasized that Indonesia as the largest palm oil producer in the world must be serious about seizing the opportunity for palm oil to fulfilling the global needs along with the implementation of WHO policies related to the elimination of trans fats by 2023.

Therefore, government attention and support is needed through programs and policies or roadmaps in order to implement the WHO policy as well as promote the use of palm oil as an alternative for edible oil which is free of trans fats. This government policy or roadmap must also be supported by a scientific consensus carried out by experts to present scientific evidence addressing the role and benefits of palm oil in the achievement of WHO policy goals by 2023.

World Health Organization (WHO) akan menerapkan kebijakan larangan penggunaan Asam Lemak Trans Industrial (ALTi) dalam supply chain produk pangan pada tahun 2023. Untuk mencapai tujuan tersebut, WHO juga telah membuat action package dan pedoman global untuk mengeliminasi trans fats atau yang dikenal dengan REPLACE (Review, Promote, Legislate, Assess, Create, Enforce). Sebanyak 23 negara sudah menerapkan kebijakan mandatory limits penggunaan asam lemak trans industrial pada akhir tahun 2018 dan diperkirakan sekitar 58 negara yang akan memperkenalkan regulasi tersebut diakhir tahun 2021.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah untuk mengurangi jutaan kematian prematur yang dipicu oleh konsumsi produk pangan yang mengandung asam lemak bebas industrial. Berbagai penelitian dunia menyebutkan bahwa konsumsi trans fat yang dihasilkan industri (industrially produced trans fatty acids) memiliki dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia hingga meyebabkan kematian yang disebabkan karena berbagai penyakit seperti cardiovaskuler, atherosklerosis, obesitas, diabetes tipe-2 dan ganguan kesuburan pada wanita.

Salah satunya adalah artikel jurnal yang dipublikasi pada Journal of the American Medical Association yang menyebutkan bahwa jumlah kasus serangan jantung dan stroke di New York mengalami penurunan yang cukup signifikan ketika larangan penggunaan trans fat diberlakukan pada tahun 2015-an (atau sebelumnya). Studi lain yang dilakukan oleh The American Journal of Preventive Medicine menunjukkan bahwa kebijakan tersebut berhasil menyelamatakan sekitar 14.2 nyawa per 100 ribu orang per tahun.

Berbeda dengan asam lemak trans alami yang banyak ditemukan pada pangan hewani seperti susu dan daging, asam lemak trans industrial dihasilkan dari proses industri seperti proses hidrogenisasi (khususnya hidrogenisasi parsial) untuk meningkatkan kepadatan dan stabilitas suatu minyak makan (edible oil) atau lemak makan yang menjadi bahan baku produk pangan seperti minyak goreng, roti, crackers, kue dan lainnya.

Kebijakan WHO terkait larangan penggunaan asam lemak bebas industrial pada produk pangan dapat dilihat sebagai peluang bagi minyak sawit untuk mengisi kebutuhan dunia. Minyak sawit adalah satu edible oil yang terbukti bebas asam lemak trans industrial. Komposisi alami minyak sawit yang mengandung asam lemak jenuh yang relatif tinggi (sekitar 44 persen) sehingga berimplikasi pada sifatnya yang semi solid dengan titik leleh berkisar antara 33oC-39oC dan stabil pada suhu tinggi sekitar 180oC. Karakteristik yang demikian menyebabkan minyak sawit dapat dapat diaplikasikan pada produk pangan tanpa perlu melewati proses hidrogenasi.

palm oil

Peluang bagi minyak sawit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dunia akan semakin besar seiring dengan diimplementasikannya larangan WHO. Hal ini dikarenakan minyak sawit akan mensubstitusi kebutuhan soft oil seperti minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari yang memiliki kandungan asam lemak trans yang tinggi karena dihasilkan melalui proses hidrogenasi baik hidrogenasi penuh (fully hydrogenated) maupun hidrogenisasi parsial (partially hydrogenated). Fakta tersebut terkonfirmasi oleh Prof. Purwayitno Hariyadi dalam buku “Mengenal Minyak Sawit dengan Beberapa Karakter Unggulya” menyebutkan bahwa kandungan asam lemak tak jenuh trans pada minyak kedelai yang mengalami hidrogenasi bisa mencapai 13-30 persen.

Dengan demikian, minyak sawit khususnya stearin dapat menggantikan minyak nabati yang mengandung asam lemak trans sebagai bahan produk pangan. Dr. Puspo Edi Giriwono, peneliti SEAFAST Centre menyebutkan bahwa Pemerintah Amerika Serikat juga sangat membatasi penggunaan minyak kedelai yang dihasilkan dari proses hidrogenisasi dan kemudian disubsitusi oleh minyak sawit. Serupa dengan pernyataan tersebut, Prof. Purwayitno Hariyadi yang juga menjabat sebagai Vice-Chair Alimentarius Codex Commission juga dalam webinar yang diselenggarakan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang juga membahas kebijakan WHO terkait eliminasi asam lemak trans industrial, menyebutkan bahwa di beberapa negara minyak sawit sudah dijadikan alternatif menggantikan minyak yang dihasilkan dari Partially Hydrogenated Oil (PHO) yang mengandung asam lemak trans.

Dalam kesempatan webinar yang berbeda, Prof. Purwayitno Hariyadi kembali menekankan bahwa Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia harus serius untuk menangkap peluang minyak sawit dalam alternatif untuk memenuhi kebutuhan global seiring dengan diimplementasikan kebijakan WHO terkait eliminasi trans fats di tahun 2023. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian pemerintah yang didukung melalui program dan kebijakan atau roadmap dalam rangka mengimplementasikan kebijakan WHO tersebut sekaligus mempromosi penggunaan minyak sawit sebagai alternatif minyak yang bebas trans fats. Kebijakan atau roadmap pemerintah tersebut juga harus didukung oleh konsesus ilmiah yang dilakukan oleh para ahli untuk menyajikan bukti scientific yang meng-address peran dan manfaat minyak sawit dalam ketercapaian tujuan kebijakan WHO pada tahun 2023.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *