POME Processing to Reduce Palm Oil Mill’ Emissions, All at Once able to Producing High Economic Value Products

  • English
  • Bahasa Indonesia

So far, the palm oil industry has always been the target of negative campaigns from anti-palm NGOs and other environmental activists. They said palm oil industry produce biggest amount of greenhouse gasses or emissions from deforestation, peatland utilization, and land and forest fires.

In contrast, the facts shows that the palm oil industry has contributes to reducing GHG emissions. Like other crops, palm oil also has a role to reabsorb CO2 from the Earth’s atmosphere through photosynthesis. Not only that, the other contribution of palm oil through development of biodiesel and in the future, other low emission altervative fuels namely green diesel, green gasoline and green avtur. The development of low emission altervative fuels/energies based on palm oil is an effort to reduce consumption on fossil fuel, which we know as the main emitter of greenhouse gases.

Although the palm oil industry has a role in reducing emissions, but this industry still produces emissions. The largest GHG emissions in the palm oil industry (upstream sector) are from palm oil mill. According to Hasanudin U (2008), the largest contributor to emissions at palm oil mill are 63.2 percent, the production rate of fresh fruit bunches are 21.6 percent, and the rest are in the refinery process.

The largest source of emissions in palm oil mill from the liquid waste generated during the processing of FFB into CPO. Liquid waste is Palm Oil Mill Effluent (POME) which contains many organic compounds that can release hazardous materials such as methane. The volume of POME produced by palm oil mill is also very large reach about 0.62-0.77 m3/ton TBS and the processing is widely carried out in open waste pool; this makes palm oil mills as the largest contributor of emissions in the palm oil industry.

POME
Limbah Cair Kelapa Sawit (Source: bpdp.or.id)

In line with the argument, one of the researchers in the field of Technology Engineering and Environmental Management of the Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), Dr. M. Ansori Nasution in an “Bincang Pakar” webinar session, mentioned that based on the results of a study conducted by IOPRI found that emissions on POME waste are approximately 97.6 kg of CO2/ton TBS.

Dr. Ansori in his exposure also mentioned efforts to reduce emissions while producing high economic value-added products can be done using POME waste management technology. For example, the way POME processing becomes biogas, then also can process POME cetane into compost, POME can also be utilized with line application, then POME can also be developed utilization as biogas with membrane. The application of methane capture plant for POME will also reduce emissions by about 8.7 percent so that it will be more environmentally friendly.

Source: Tribunnews.com

Methane capture technology is POME processing through biogas digester tank (methane capture) to produce biogas/bio-methane. PASPI study shows, if it is assumed that 1 ton FFB will produce 0.67m3 POME, then POME production is estimated to reach 139 million m3. And every 1 m3 POME can produce 28 m3 biogases/bioelectric, then biogas production is estimated to reach 3.9 billion m3.

One of the pome waste treatment actors, PT. Pasadena Engineering Indonesia, in the Pojok Iklim 2018 seminar said that the technology used for POME processing using Cover Lagoon. The technology can collect methane gas which will then be converted into biogases that are useful as both fuel and bioelectric. From one factory with a production capacity of 45 tons/hour, it can generate electricity of 1MW which can supply the electricity needs of about one village or a thousand houses.

In addition of the technology, POME processing to produce value-added products can also used as a medium for algae cultivation. PASPI’s study also shows the potential production of algae biodiesel to be produces with the assumption every 1 m3 POME can produce 0.67 kg of biodiesel algae, then the biodiesel algae that can be produced reaches 93 thousand tons.

The Japanese investor, Mobiol Crop CEO Group in collaboration with Tsukuba University in 2019, offers business opportunities for the Indonesian palm oil industry related to POME processing as a medium of cultivation of Novel Algae-DHA. POME mixing technology with algae will produce DHA (docosahexaenoic acid) and high quality ester oils for cosmetics as well as aquatic feed and animal feed, which has high economic value.

By innovating through technological improvements, especially in POME waste processing in palm oil mills can help in reducing and decreasing the existing emissions in the palm oil industry. So that with reduced emissions produced can also support the palm oil industry become zero waste industry and more sustainable.

Once paddled, two and three islands exceeded are suitable proverbs to be associated with POME processing technology which was mentioned above. This is because in addition to being able to reduce emissions at the palm oil mills level, POME processing with various technological methods will also produce products of high economic value so that it is expected to produce multiplier effect on the economy and regional welfare is getting bigger.

Selama ini industri kelapa sawit selalu menjadi sasaran kampanye negatif dari para LSM anti sawit serta penggiat lingkungan lainnya. Mereka menyebut industri sawit menghasilkan emisi yang besar yang berasal dari deforestasi, pemanfaatan lahan gambut, dan kebakaran hutan.

Sebaliknya, fakta menunjukkan bahwa industri sawit mampu berkontribusi menjadi bagian penting dalam pengurangan emisi GHG (Greenhouse Gas). Sebagaimana tanaman lainnya, kelapa sawit juga memiliki peran untuk menyerap kembali CO2  dari atmosfer bumi melalui fotosintesis. Tidak hanya itu, kontribusi kelapa sawit lainnya melalui pengembangan biodiesel dan kedepannya juga akan dikembangkan bahan bakar alternatif lainnya yang rendah emisi yakni green diesel, green gasoline dan green avtur. Pengembangan energi rendah emisi berbasis minyak sawit merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak fossil yang kita ketahui sebagai emitter utama gas rumah kaca.

Meskipun industri kelapa sawit memiliki peran dalam menghemat emisi, namun industri ini juga masih tetap menghasilkan emisi. Emisi GHG terbesar pada industri sawit (sektor hulu) yakni berasal dari pabrik kelapa sawit (PKS). Menurut Hasanudin U (2008), penyumbang emisi terbesar yaitu pada pabrik kelapa sawit sebesar 63.2 persen, tahap produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 21.6 persen, dan sisanya ada di proses refinery.

Sumber emisi terbesar di PKS berasal dari limbah cair yang dihasilkan selama pemrosesan TBS menjadi CPO. Limbah cair yang dimaksud adalah Palm Oil Mill Effluent (POME) yang mengandung banyak senyawa organik yang dapat melepaskan bahan berbahaya seperti methana. Dengan volume POME yang dihasilkan PKS terbilang sangat besar mencapai sekitar 0.62-0.77 m3/ton TBS dan pengolahan POME juga selama ini  banyak dilakukan dikolam limbah terbuka, hal ini yang menjadikan PKS sebagai penyumbang emisi terbesar dalam industri sawit.

POME
Limbah Cair Kelapa Sawit (Source: bpdp.or.id)

Sejalan dengan hal tersebut, salah satu peneliti bidang Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Dr. M. Ansori Nasution dalam sesi Webinar “Bincang Pakar”,  menyebutkan berdasarkan hasil kajian yang dilakukan PPKS menemukan bahwa besarnya emisi pada limbah POME sekitar 97.6 kg CO2/ton TBS.

Dr. Ansori dalam paparannya juga menyebutkan upaya untuk mengurangi emisi sekaligus menghasilkan produk yang bernilai tambah ekonomi yang tinggi dapat dilakukan menggunakan teknologi pengelolaan limbah POME. Misalnya cara pengolahan POME menjadi biogas, kemudian juga dapat mengolah cetane POME tersebut menjadi kompos, POME juga dapat dimanfaatkan dengan line aplikasi, lalu POME juga dapat dikembangkan pemanfaatannya sebagai biogas dengan membran. Pengaplikasian methane capture plant untuk POME juga akan mereduksi emisi sekitar 8.7 persen sehingga akan lebih ramah lingkungan.

Source: Tribunnews.com

Teknologi methane capture yakni pengolahan POME melalui tanki digester biogas (methane capture) untuk menghasilkan biogas/biomethane. Kajian PASPI menunjukkan, Jika diasumsikan 1 ton TBS akan menghasilkan 0.67 m3 POME, maka produksi POME diperkirakan mencapai 139 juta m3. Dan setiap 1 m3 POME dapat menghasilkan 28 m3 biogas/biolistrik, maka produksi biogas diperkirakan mencapai 3.9 miliar m3.

Salah satu pelaku pengolahan limbah POME yakni PT. Pasadena Engineering Indonesia dalam kesempatannya seminar Pojok Iklim 2018 mengatakan bahwa teknologi yang digunakan untuk pengolahan POME dengan menggunakan Cover Lagoon. Teknologi tersebut dapat mengumpulkan gas methana yang kemudian akan dikonversi menjadi biogas yang bermanfaat baik sebagai bahan bakar maupun biolistrik. Dari satu pabrik dengan kapasitas produksi 45 ton/jam, dapat menghasilkan listrik sebesar 1MW yang dapat memasok kebutuhan listrik sekitar satu desa atau seribu rumah.

Selain teknologi tersebut, pengolahan POME untuk menghasilkan produk bernilai tambah dapat dilakukan sebagai media kultivasi algae sehingga dapat menghasilkan biodiesel alga. Kajian PASPI juga menunjukkan potensi produksi biodiesel algae yang akan dihasilkan dengan asumsi setiap 1 m3 POME dapat menghasilkan 0.67 kg biodiesel algae, maka biodiesel algae yang dapat diproduksi mencapai 93 ribu ton.

Investor asal Jepang yaitu Grup CEO Mobiol Crop yang bekerjasama dengan Tsukuba University pada tahun 2019 telah menawarkan peluang bisnis bagi industri sawit Indonesia terkait pengolahan POME sebagai media kultivasi Novel Algae-DHA. Teknologi pencampuran POME dengan algae tersebut akan menghasilkan DHA (docosahexaenoic acid) dan minyak ester berkualitas tinggi untuk kosmetik serta aquatic feed dan pakan ternak yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dengan melakukan inovasi-inovasi melalui improvement teknologi khususnya pada pengolahan limbah POME yang ada pada PKS dapat membantu dalam mengurangi dan menurunkan emisi yang ada pada industri kelapa sawit. Sehingga dengan berkurangnya emisi yang dihasilkan juga dapat mendukung industri sawit sebagai industri zero waste dan makin sustainable.

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui adalah peribahasa yang cocok untuk dikaitkan dengan teknologi pengolahan POME yang telah dipaparkan di atas. Hal ini dikarenakan selain dapat menurunkan emisi di tingkat PKS, pengolahan POME dengan berbagai metode teknologi tersebut juga akan menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi sehingga diharapkan dapat menghasilkan multiplier effect terhadap perekonomian dan kesejahteraan daerah yang semakin besar.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *