The Sweetest Business Prospect of the Palm Oil Brown Sugar

  • English
  • Bahasa Indonesia

During this time, many people think that palm oil is only a producer of Crude Palm Oil (CPO) which is then processed into various products ranging from cooking oil, margarine, cosmetics, and other products. But the palm oil is a plant that has multiple benefits and versatile. Not only the fruit, but all parts of palm oil can be used as a variety of products that we can use every day.

One part of oil palm that can be used in addition to the fruit is the oil palm trunk. The trunks have several contents including cellulose, hemicellulose, lignin, ash, and other extractive materials. In addition to being processed as raw material for furniture and building materials, palm oil stems containing palm juice can also be used as raw materials for palm oil brown sugar.

Currently, brown sugar is one of the food that have a very good economic prospect. As we see on social media, various food preparations are now becoming more popular by adding brown sugar in various food and beverage products. One of them is a coffee product with the addition of brown sugar so that it attracts and high demand by consumers, especially millennials.

Indonesian people only know that brown sugar is produced from palm trees, whereas brown sugar can also be produced from oil palm trees. The quality of palm oil brown sugar is also not lower than palm brown sugar from palm tree. Oil palm juice making has also been cultivated by farmers in Ghana since 1958. According to Suwandi research (1994), oil palm juice is a source of vitamin B complex and carbohydrates and is also enriched with fat and protein.

The process of processing palm sugar is quite simple and easy without the need to use modern and sophisticated technology. The making of palm sugar starts from cutting down old, unproductive oil palm trunks, then the top is skinned until it appears white. Oil palm juice that has been tapped or removed from the shoots is then filtered to remove impurities or insects that are carried from the garden.  Then the oil palm juice cooked using a cauldron until the water content disappears and the texture of the sap thickens and forms smooth foam. The next step is to enter the sugar with a ratio of 1:2 or 1:3 or 1:4, depending on the low quality. This aims to increase the hardness so that the texture of palm oil brown sugar after forming becomes denser.

Each oil palm thrunks is able to produce average 300 liters of oil palm juice which can be processed into about 60 kg of palm oil brown sugar in the form of molds. Even farmers in Lau Tador Village succeeded in producing 5-7 liters of oil palm juice/trunk/day. This means that with the production period per tree for 30-40 days outside of the tapping period which takes 2-3 days, and then the production of oil palm juice is relatively the same as the production of palm juice.

Based on the results of the economic feasibility analysis of palm oil brown sugar, assuming: (1) the production phase for 30 days; (2) 1 hectare consists of 120 trees with 5.5 liter oil palm juice; (3) the ratio of sugar and oil palm juice as much as 1:2; and (4) palm oil brown sugar production in these phase of 223 kg/day/hectare, so the potential economic value obtained from the manufacture of palm oil brown sugar is quite large, reaching Rp. 18.4 million per hectare to Rp. 22.9 million per hectare. Meanwhile, the economic value of unprocessed palm oil thrunk is only Rp. 1.8 million per hectare. This shows that the palm sugar business is very profitable to be developed.

The amount of potential generated in the manufacture of palm oil brown sugar and the abundance of old oil palm stems as raw material for oil palm sugar can be a source of income for farmers during replanting, especially at the age of immature plants. However, a large scale of production (plantation area) is needed so that the profit potential is higher. This means that more farmers are involved in this business, but it can also have potential risk of business palm oil brown sugar being failure. The alternative is the production of palm oil brown sugar can be managed by cooperation or organaztion oil palm farmers smallholders. The cooperative institution will be focus on palm oil brown sugar business on producing until marketing the products.

The sweetest business prospect of palm oil brown sugar b can not only be enjoyed by oil palm farmers, millennials who have the desire to jump into the oil palm industry or become palm oil entrepreneurs (or sawitpreneur) can also grasp this business opportunity. With the innovation and creativity possessed by the sawitpreneur, they can build business systems and supply chain channels that adjust to the preferences of consumers in this digital age.

The palm oil brown sugar business can also be developed through a partnership and profit sharing system between sawitpreneur as palm oil brown sugar entrepreneurs and farmers who have plantations and palm trees. Sawitpreneur can buy oil palm trunks to be uprooted and carry out a well-organized felling process. Oil palm farmers can also benefit by not spending the cost of cutting down palm trees and obtaining compensation for oil palm trunks and sharing profits from the sale of palm oil brown sugar. With this pattern, the sweetness of oil palm brown sugar not only creates higher income for sawitpreneur and oil palm farmers, but this industry will develop into an inclusive economic sector.

Selama ini, banyak orang yang mengira kelapa sawit hanyalah tanaman penghasil Crude Palm Oil yang kemudian diolah menjadi berbagai produk mulai dari minyak goreng, margarin, kosmetik, dan produk lainnya. Namun, kelapa sawit merupakan tanaman yang memiliki multi manfaat. Bukan hanya buahnya saja, tetapi semua bagian dari kelapa sawit dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk yang dapat kita gunakan sehari-hari.

Salah satu bagian dari kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan selain buahnya yaitu batang kelapa sawit. Batang kelapa sawit memiliki beberapa kandungan yaitu diantaranya selulosa, hemiselulosa, lignin, abu, serta bahan ekstraktif lainnya. Selain dapat diolah sebagai bahan baku pembuatan furniture dan bahan bangunan, batang kelapa sawit yang mengandung nira juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku gula merah sawit.

Saat ini, gula merah menjadi salah satu bahan pangan yang memiliki prospek ekonomi yang sangat bagus. Seperti yang kita lihat di sosial media, berbagai olahan pangan saat ini menjadi lebih populer dengan menambahkan brown sugar di berbagai produk makanan dan minuman. Salah satunya adalah produk kopi dengan tambahan brown sugar yang begitu laris di kalangan konsumen khususnya kaum milenial.

Masyarakat Indonesia umumnya hanya tahu bahwa gula merah dihasilkan dari pohon aren, padahal gula merah juga dapat dihasilkan dari pohon kelapa sawit. Kualitas gula merah sawit juga tidak kalah dengan gula merah yang berasal dari kelapa ayai aren. Pembuatan air nira sawit juga sudah banyak diusahakan oleh para petani di Ghana sejak tahun 1958. Menurut penelitian Suwandi (1994), air nira sawit menjadi salah satu sumber vitamin B kompleks dan karbohidrat dan juga diperkaya dengan kandungan lemak dan protein.

Proses pengolahan gula merah kelapa sawit pun terbilang cukup sederhana dan mudah tanpa perlu menggunakan teknologi modern dan canggih. Pembuatan gula merah sawit dimulai dari penebangan batang kelapa sawit tua yang sudah tak produktif, lalu bagian pucuknya dikuliti hingga tampak berwarna putih. Air nira sawit yang sudah disadap atau dikeluarkan dari pucuk tersebut lalu kemudian disaring untuk menghilangkan kotoran atau serangga yang terbawa dari kebun. Air nira tersebut kemudian dimasak dengan menggunakan kuali hingga kadar air nya menghilang dan tekstur nira semakin mengental dan membentuk busa halus. Langkah selanjutnya adalah memasukkan gula pasir dengan perbandingan 1:2 atau 1:3 atau 1:4, tergantung dari kualitas niranya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kekerasan sehingga tekstur gula merah sawit setelah dicetak menjadi lebih padat.

Setiap batang kelapa sawit rata-rata mampu menghasilkan 300 liter air nira yang dapat diolah menjadi sekitar 60 kg gula merah sawit dalam bentuk cetakan. Bahkan petani di Desa Lau Tador berhasil menghasilkan air nira sawit sebanyak 5-7 liter/batang/hari. Artinya dengan masa produksi per pohon selama 30-40 hari di luar masa penyadapan yang memakan waktu 2-3 hari, maka produksi nira sawit relatif sama dengan produksi nira aren.

Berdasarkan hasil analisis kelayakan ekonomi gula merah sawit, dengan asumsi: (1) fase produksi selama 30 hari; (2) 1 hektar terdiri dari 120 pohon dengan produksi air nira sebanyak 5.5 liter per hari; (3) perbandingan gula pasir dan nira sawit sebanyak 1:2; dan (4) produksi gula sawit pada fase produksi sebesar 223 kg/hari/hektar, maka potensi nilai ekonomi yang didapatkan dari pembuatan gula merah sawit pun cukup besar yakni mencapai Rp. 18.4 juta per hektar hingga Rp. 22.9 juta per hektar. Sementara itu, nilai ekonomi dari batang sawit yang belum diolah hanya sebesar Rp 1.8 juta per hektar. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis gula merah sawit sangat profitable untuk dikembangkan.

Besarnya potensi yang dihasilkan dalam pembuatan gula merah sawit dan melimpahnya batang kelapa sawit tua sebagai bahan baku gula merah sawit dapat menjadi salah satu sumber pendapatan petani pada saat masa peremajaan khususnya saat usia TBM. Namun, dibutuhkan skala produksi (luas kebun) yang besar agar usahanya semakin profitable. Artinya lebih banyak petani yang harus terlibat dalam usaha ini, namun banyaknya partisipan memiliki resiko potensi kegagalan usaha produksi gula merah sawit. Alternatifnya produksi gula merah sawit ini dapat dikelola oleh koperasi atau kelembagaan pekebun sawit sekawasan sebagai tempat bernaungnya para petani swadaya. Koperasi/kelembagaan tersebutlah yang akan fokus dalam memproduksi hingga memasarkan gula merah sawit.

Manisnya prospek bisnis gula merah sawit ini juga tidak hanya bisa dinikmati oleh petani sawit, para generasi milenial yang memiliki keinginan untuk terjun ke industri sawit atau menjadi sawitpreneur juga dapat menangkap peluang bisnis gula merah sawit ini.  Dengan inovasi dan kreativitas yang dimiliki oleh para sawitpreneur dapat membangun sistem bisnis dan alur supply chain yang menyesuaikan dengan preferensi konsumen di era digital ini.

Bisnis gula merah sawit juga dapat dikembangkan dengan pola partnership dan sistem profit sharing antara sawitpreneur sebagai pengusaha gula merah sawit dan petani yang memiliki kebun dan pohon sawit. Sawitpreneur dapat membeli batang sawit yang akan ditumbangkan dan melakukan proses penumbangan secara terorganisir dengan baik. Petani sawit pun dapat memperoleh keuntungan dengan tidak mengeluarkan biaya penebangan pohon sawit serta memperoleh kompensasi atas batang sawit dan sharing profit dari penjualan gula merah sawit. Dengan pola yang demikian, manisnya gula merah sawit tidak hanya menciptakan pendapatan yang lebih tinggi bagi sawitpreneur dan petani, tetapi industri ini akan berkembang menjadi sektor ekonomi yang inklusif.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *