Rendang Sawit is More Delicious and Healthier, is it True?

  • English
  • Bahasa Indonesia

Who doesn’t know about rendang? The menu of processed meat with very strong spices and an authentic taste has become one of the traditional dishes originating from the Minangkabau of ​​West Sumatra Province.

rendang sawit
Source: Pariwisata Indonesia

Besides being known for its delicious taste, rendang also has a deep cultural meaning, especially in Minangkabau society, which describes deliberation and consensus. The four main ingredients of rendang have a philosophy, dagiang (beef) symbolizing niniak mamak (traditional ethnic group leaders), karambia (coconut) symbolizing cadiak pandai (intellectuals), lado (chili) symbolizing alim ulama who firmly teach religious law, and pemasak (spice) symbolizes the whole society.

The depth of philosophy in rendang cuisine makes this menu a special main dish served at every traditional celebration, wedding/circumcision or welcoming guests of honor. However, nowadays, all Indonesians can easily enjoy rendang cuisine in Padang restaurants or it can also be found as a menu dish during special holidays such as Eid al-Fitr.

The popularity of rendang as a delicious food is not only known by Indonesians and people in allied countries such as Malaysia or Singapore, but its popularity is more recognized internationally. Even CNN International made rendang the most delicious dish in the world in first place in the World’s 50 Most Delicious Foods in 2011. Rendang also became the defending champion by occupying the first position as the most delicious food in the world for 8 consecutive years.

The coronation of rendang as the most delicious food in the world is very suitable. The authentic taste is a combination of savory, salty, and spicy flavors and the soft texture of the meat is obtained from a cooking process that takes hours with heating processes repeated using coconut milk until the gravy shrinks and becomes dry.

But behind its deliciousness, consuming rendang too often, which is actually a coconut milk-based food, will have a negative impact on your health. Reporting on the online health media Halodoc.com, it is stated that excessive consumption of coconut milk (such as rendang) will cause health problems such as high blood pressure, heart problems, minor strokes, increased stomach acid, and cholesterol.

Therefore, new creative innovations have emerged by using creamer as a substitute for coconut milk in the process of making rendang. The creamer (non-dairy creamer) has the main components in the form of dietary fiber and vegetable fat and is claimed to help healthy digestion and is considered healthier than pure coconut milk, which contains more fat or sugar. This means that the use of creamer, which is claimed to be able to substitute coconut milk and is healthier because it is low in fat and high in fiber, and does not change the authentic taste of rendang.

Vegetable creamers use vegetable oils as raw materials, including coconut oil and palm oil (especially palm kernel oil). Compared to coconut oil, creamer made from palm oil has several advantages, such as being more durable and not having a musty smell if stored for a long time. In addition, palm oil is also considered more competitive because the price is lower, which implies a more affordable price for creamer products. This shows that palm kernel oil-based creamers are more favored by industry and consumers. The best non-dairy creamer products are obtained from a combination of palm olein-palm kernel oil, palm oil-palm super olein, and palm kernel oil-palm super olein.

This inovation of palm rendang (rendang sawit) was also discussed again in the Webinar initiated by Majalah Sawit Indonesia by one of the speakers, Prof. Dr. Ir. Eriza Hambali, who is a professor at IPB University. In the webinar, she told about the use of palm oil-based creamer in making the rendang process to save time, where it only takes about 45 minutes. In addition, the use of palm creamer is also to reduce the smell of coconut (coconut milk) in rendang which is not liked by consumers, especially global consumers.

 

The innovation of “palm rendang” or “rendang sawit” by Prof. Erliza was also brought to an exhibition in Toronto, Canada, where an importer was interested in doing business of palm creamer-based rendang seasoning. Currently, this rendang seasoning is sold on Amazon for the Canadian and American markets.

The use of palm oil-based creamer used in the process of making rendang will further strengthen the identity of the Indonesian nation. This is because Indonesia is known as the largest producer of palm oil in the world, which in this case is also known as the country with the most delicious cuisine in the world. Not only that, the use of palm oil-based creamer in rendang is also claimed to be healthier by not changing the taste of the rendang itself.

Siapa yang tidak kenal rendang?. Menu olahan daging dengan bumbu rempah-rempah yang sangat kuat dan khas ini menjadi salah satu masakan tradisional dari daerah Minangkabau Provinsi Sumatera Barat.

rendang sawit
Source: Pariwisata Indonesia

Selain dikenal karena rasanya yang otentik dan khas, rendang juga memiliki makna budaya yang cukup dalam khususnya dalam tatanan masyarakat Minangkabau yang menggambarkan musyawarah dan mufakat. Empat bahan utama rendang melambang memiliki filosofi yaitu dagiang (daging sapi) melambangkan niniak mamak (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) melambangkan cadiak pandai (kaum intelektual), lado (cabai) melambangkan alim ulama yang tegas mengajarkan syariat agama, dan pemasak (bumbu) melambangkan keseluruhan masyarakat.

Dalamnya filosofi pada masakan rendang menjadikan menu ini sebagai hidangan utama yang istimewa disajikan dalam setiap perayaan adat, acara pernikahan/khitanan atau menyambut tamu kehormatan. Namun saat ini, seluruh masyarakat Indonesia dapat dengan mudah menikmati menu rendang di restauran masakan padang atau juga menjadi menu masakan ketika hari besar keagamaan seperti Idul Fitri.

Popularitas rendang sebagai makanan yang enak tidak hanya diketahui oleh masyarakat Indonesia atau masyarakat di negara serumpun seperti Malaysia atau Singapura, tetapi popularitasnya juga semakin dikenal luas di dunia internasional. Bahkan CNN Internasional menjadikan rendang sebagai masakan terlezat di dunia pada peringkat pertama dalam World’s 50 Most Delicious Foods pada tahun 2011. Rendang juga menjadi juara bertahan dengan menduduki posisi pertama sebagai makanan terenak di dunia selama 8 tahun berturut-turut.

Penobatan rendang sebagai makanan terenak di dunia sangat tepat. Cita rasa yang otentik dengan perpaduan rasa gurih, asin, dan pedas serta tekstur daging yang empuk diperoleh dari proses memasak yang membutuhkan waktu berjam-jam dengan proses pemanasan yang berulang-ulang menggunakan santan hingga kering sehingga menyisakan potongan daging berwarna hitam pekat.

Namun dibalik kelezatannya, mengkonsumsi rendang yang notabenenya merupakan makanan bersantan terlalu sering akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Dilansir pada media kesehatan online Halodoc.com menyebutkan bahwa konsumsi santan  yang berlebih (seperti pada rendang) akan menimbulkan gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, stroke ringan, asam lambung meningkat dan kolesterol.

Oleh karena itu, muncul inovasi kreasi baru dengan menggunakan krimer sebagai pengganti santan dalam proses pembuatan rendang.  Krimer (non-dairy creamer) memiliki komponen utama berupa serat pangan dan lemak nabati serta diklaim dapat membantu menyehatkan pencernaan dan dianggap lebih sehat dibandingkan santan murni yang lebih banyak mengandung lemak atau gula. Artinya penggunaan krimer yang diklaim dapat menggantikan santan sehingga lebih sehat karena rendah lemak dan tinggi serat, namun tidak merubah rasa otentik rendang.

Krimer nabati memanfaatkan minyak nabati sebagai bahan baku, diantaranya adalah minyak kelapa (coconut oil) dan minyak sawit (khususnya minyak inti sawit/palm kernel oil). Dibandingkan minyak kelapa, krimer dari minyak sawit memiliki beberapa keunggulan seperti lebih tahan lama dan tidak berbau apek jika disimpan dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, minyak sawit juga dianggap lebih kompetitif karena harganya lebih murah sehingga berimplikasi pada harga produk krimer yang lebih terjangkau. Hal ini menunjukkan bahwa krimer berbasis minyak inti sawit lebih digemari oleh industri dan konsumen. Produk krimer non susu terbaik didapatkan dari kombinasi palm olein-palm kernel oil, palm oil-palm super olein, dan palm kernel oil-palm super olein.

Inovasi rendang sawit ini juga kembali diperbincangkan pada Webinar yang digagas oleh Majalah Sawit Indonesia oleh salah satu narasumbernya yaitu Prof. Dr. Ir. Eriza Hambali yang merupakan guru besar di IPB. Dalam webinar tersebut, guru besar IPB tersebut menceritakan penggunaan krimer sawit untuk menghemat waktu proses pembuatan rendang, dimana waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 45 menit. Selain itu juga, penggunaan krimer sawit juga untuk mengurangi bau kelapa (santan) pada rendang yang tidak disukai konsumen khususnya konsumen global.

Hasil inovasi “rendang sawit” karya Prof. Erliza pun dibawa pada pameran di Toronto, Kanada yang kemudian ada importir yang tertarik untuk berbisnis bumbu rendang berbasis krimer sawit tersebut. Saat ini, bumbu tersebut telah dijual di Amazon untuk pasar Kanada dan Amerika.

Penggunaan produk berbasis minyak sawit pada krimer yang digunakan dalam proses pembuatan rendang akan semakin mengokohkan identitas bangsa Indonesia dalam menu masakannya. Hal ini dikarenakan Indonesia dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang juga dalam hal ini dikenal sebagai negara dengan masakan terlezat di dunia. Tidak hanya itu, penggunaan krimer sawit pada rendang juga diklaim lebih sehat dengan tidak merubah rasa rendang itu sendiri.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *