Indonesia Requires Roadmap for Palm Oil-Based Nutraceutical Products Development

  • English
  • Bahasa Indonesia

Researchers both in Indonesia and in other countries have proven that palm oil is a healthy vegetable oil through studies that are published in articles and scientific journals. The rich content of various phytonutrients such as beta carotene, tocopherol, tocotrienol, and squalane, and other characteristics such as essential fatty acid content, relatively balanced saturated and unsaturated fatty acid content, and does not contain trans fatty acids are the advantages of palm oil, so that the predicate of healthy vegetable oil is suitable. Even with these advantages, the consumption of palm oil which is rich in antioxidants can prevent degenerative diseases such as cancer, cardiovascular/atherosclerosis, and diabetes.

palm oil

If we linked with Covid-19, the phytonutrient content and fatty acids in palm oil also act as an immunomodulator that boost immune system and prevents viral infections as has been proven by a study by PPKS researchers. Prof. Sri Rahardjo also explained that the high palmitic acid content in Virgin Red Palm Oil has functions to maintain and protect lung health. Palmitic acid is the main component, which is about 60% of the phospholipid compounds that line the inner walls of the alveoli cavity of the lungs. These phospholipids function as surfactants which can help facilitate the exchange of gases (oxygen and carbon dioxide) from the alveoli cavity to the blood vessels or vice versa.

The various advantages of palm oil make it has potential become nutraceutical product. The term nutraceutical itself comes from “nutrition” and “pharmaceutical”, or it can be defined as a substance (obtained from or part of food) that has physiological benefits or provides protection against chronic diseases, delays the aging process, and increases life expectancy. This role is due to the fact that most nutraceutical compounds have activity as an antioxidant.

As we know, palm oil is the most traded and consumed vegetable oil in the world. This is confirmed by the USDA (2021) states that around 40 percent of vegetable oil consumed in the world is palm oil. And most of the use of palm oil is currently used for food products. This fact can be proven from more than 50 percent of packaged food products sold in supermarkets containing palm oil.

This shows that the role of palm oil as a food source can fulfilling the nutritional needs and also provides physiological benefits to the body. In other words, it’s role as a nutraceutical product is more being proven. If the discussion is linked to the Sustainable Development Goals (SDGs) as a global development platform, then the development of palm oil for nutraceutical products will also contribute to the achievement of SDG-2 (Zero Hunger) and SDG-3 (Good Health and Well-Being).

The description above shows the urgency of developing a palm oil-based nutraceutical industry, especially the market potential for this product amid the Covid-19 pandemic is growing. It is estimated that the potential economic value of the development of the palm oil’s phytonutrients compound extraction industry reaches USD 4.7 billion-USD 7.8 billion for Beta carotene and USD 2.7 billion-USD 4.5 billion for Tocopherol. This is driven by higher consumer awareness of health and prefers to consume natural products. Therefore, Indonesian need roadmap for development of palm oil-based nutraceutical products. The roadmap contains guidelines for the development of the domestic nutraceutical industry as well as including mitigation actions to address challenges such as food safety and sustainability issues.

Previously, BPDPKS in collaboration with researchers had created “Indonesian Palm Oil Research Roadmap for 2016-2030”, which included research of the development of palm oil-based nutritional products. The roadmap for the development of the palm oil-based nutraceutical product can continue this existing research roadmap in the nutraceutical.

Apart from the need for a roadmap, Indonesia as largest producer country of palm oil that has huge potential as a nutraceutical product must also have a positioning paper or scientific consensus. As stated by Prof. Purwayitno Hariyadi in a webinar initiated by the Majalah Sawit Indonesia also emphasized that there is a need for a scientific consensus on the status of palm oil as a food material and health product related to food safety, nutrition, and sustainability. This consensus involve some experts in food science, nutrition, medical, toxicology, sustainability, and agricultural.

The aim of the scientific consensus is to provide scientific evidence-based references related to palm oil in fulfilling food and nutritional needs as well as achieving the SDGs.It’s  also hoped that it become a public education program as well as to counter black campaigns that use health issues to attack oil palm, and also be able to reduce the Palm Oil Free labeling on products that are found both in the domestic market and the international market.

Pembuktian minyak sawit adalah minyak nabati yang sehat sudah banyak dilakukan oleh para peneliti baik di Indonesia maupun di negara lain melalui studi yang diterbitkan pada tulisan artikel dan jurnal ilmiah. Kandungan berbagai macam phytonutrient seperti beta caratone, tocopherol, tocotrienol dan squalane yang sangat besar dan karakteristik lainnya seperti kandungan asam lemak esensial, asam lemak jenuh dan tak jenuh yang relatif seimbang serta tidak mengandung asam lemak trans merupakan keunggulan yang dimiliki minyak sawit sehingga predikat minyak nabati yang sehat cocok untuk disematkan. Bahkan dengan keunggulannya tersebut, konsumsi minyak sawit yang kaya antioksidan dapat mencegah timbulnya penyakit degeneratif seperti kanker, cardiovaksuler/aterosklerosis dan diabetes.

palm oil

Jika dikaitkan dengan Covid-19, kandungan phytonutrient dan asam lemak dalam minyak sawit juga mampu berperan sebagai immunodulator yang meningkatkan sistem imunitas tubuh dan mencegah infeksi virus seperti yang telah dibuktikan oleh studi peneliti PPKS. Prof. Sri Rahardjo juga memaparkan bahwa kandungan asam palmitat yang tinggi pada Virgin Red Palm Oil berfungsi menjaga dan melindungi kesehatan paru-paru. Asam palmitat merupakan komponen utama yakni sekitar 60% dari senyawa fosfolipida yang melapisi dinding bagian dalam rongga alveoli paru-paru. Fosfolipida ini berfungsi sebagai surfaktan yang dapat membantu memudahkan pertukaran gas (oksigen dan karbondioksida) dari rongga alveoli ke pembuluh darah atau sebaliknya.

Berbagai keunggulan minyak sawit tersebut menjadikan minyak sawit berpotensi sebagai produk nutraseutikal. Istilah nutraseutikal sendiri berasal dari kata “nutrisi” dan “farmasi” atau secara umum dapat didefinisikan sebagai zat (yang berasal atau bagian dari makanan) yang memiliki manfaat fisiologis atau memberikan perlindungan terhadap penyakit kronis, menunda proses penuaan dan meningkatkan harapan hidup. Peranan tersebut disebabkan karena sebagian besar senyawa nutraseutikal memiliki aktivitas sebagai antioksidan.

Seperti yang kita ketahui, minyak sawit adalah minyak nabati yang paling banyak diperdagangkan dan dikonsumsi di seluruh dunia. Hal tersebut terkonfirmasi dari USDA (2021) yang menyebutkan bahwa sekitar 40 persen minyak nabati yang dikonsumsi dunia adalah minyak sawit. Dan sebagian besar pemanfaatan minyak sawit saat ini digunakan untuk food product. Fakta tersebut juga dapat dibuktikan dari lebih dari 50 persen produk makanan kemasan yang dijual di supermarket mengandung minyak sawit.

Hal tersebut menunjukkan bahwa peranan minyak sawit sebagai sumber bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan juga sekaligus memberikan manfaat fisiologis bagi tubuh. Dengan kata lain, peranan minyak sawit sebagai produk nutraseutikal semakin terbukti. Jika pembahasan tersebut dikaitkan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai platform pembangunan global, maka pengembangan minyak sawit untuk produk nutraseutikal juga akan berkontribusi terhadap pencapaian SDG-2 (Zero Hunger) dan SDG-3 (Good Health and Well-Being).

Uraian diatas menunjukkan urgensi pengembangan industri nutraseutikal berbasis minyak sawit, terlebih potensi pasar untuk produk tersebut di tengah pandemi Covid-19 semakin meningkat. Diperkirakan potensi nilai ekonomi dari pengembangan industri ekstraksi senyawa phytonurients minyak sawit mencapai USD 4.7 miliar-USD 7.8 miliar untuk Beta carotene dan USD 2.7 miliar-USD 4.5 miliar untuk Tocopherol. Besarnya pasar produk nutraseutikal tersebut didorong oleh tingginya consumer awareness terhadap kesehatan yang lebih memilih mengkonsumsi produk alami. Oleh karena itu, dibutuhkan roadmap pengembangan industri yang menghasilkan produk nutraseutikal berbasis minyak sawit. Roadmap tersebut berisi pedoman pengembangan industri nutraseutikal domestik sekaligus memasukkan langkah mitigasi untuk menjawab tantangan seperti keamanan pangan dan isu sustainability.

Sebelumya, BPDPKS yang bekerjasama dengan para peneliti telah menghasilkan Roadmap Riset Kelapa Sawit Indonesia 2016-2030, yang didalamnya terdapat riset pengembangan produk nutrasetikal berbasis minyak sawit. Roadmap pengembangan industri nutraseutikal berbasis minyak sawit dapat meneruskan roadmap riset bidang nutraseutikal yang telah ada.

Selain dibutuhkan roadmap, Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar yang memiliki potensi sebagai produk nutraseutikal juga harus memiliki positioning paper atau konsensus ilmiah. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Purwayitno Hariyadi dalam webinar yang digagas oleh Majalah Sawit Indonesia, yang menekankan bahwa perlu adanya konsesus ilmiah tentang status kelapa sawit sebagai bahan pangan dan kesehatan yang berkaitan keamanan, gizi dan keberlanjutan. Konsensus tersebut melibatkan para ahli dalam ilmu pangan, gizi, medis, toksikologi, keberlanjutan dan ilmu pertanian.

Tujuan dari konsensus ilmiah tersebut adalah untuk memberikan acuan berbasis bukti ilmiah terkait minyak sawit dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi maupun pencapaian SDGs. Diharapkan juga hasil konsensus ilmiah tersebut dapat menjadi program edukasi publik sekaligus meng-counter black campaign yang menggunakan isu kesehatan untuk menyerang sawit, dan juga mampu mengurangi gerakan labelisasi Palm Oil Free pada produk yang banyak ditemukan baik di pasar domestik maupun pasar internasional.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *