LOGO PASPI WEB

Super Deduction Tax Jadi Amunisi Untuk Tingkatkan Inovasi Hilirisasi Sawit

Daftar Isi

Hilirisasi menjadi senjata industri sawit untuk menjadi lokomotif perekonomian nasional dan menghasilkan “kue ekonomi” yang semakin besar seperti mengoptimalkan devisa ekspor produk hilir yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, mensubstitusi produk impor hingga menciptakan multiplier effect (penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan) yang lebih besar dan lebih berkelanjutan.

Hal tersebut dibuktikan dari kinerja ekspor produk hilir khususnya produk oleokimia berbasis sawit yang mengalami peningkatan baik nilai maupun volume yang mencapai 3.8 juta ton dengan nilai USD 2.6 miliar di tengah masa pandemi dan resesi ekonomi global tahun 2020. Ekspor oleokimia sawit tersebut didorong oleh tingginya demand masyarakat global terhadap produk higenitas di masa pandemi seperti sabun, deterjen, hand sanitizer hingga disinfektan.

Bukti lain produk hilir sawit mampu memberikan multimanfaat bagi perekonomian Indonesia adalah biodiesel sawit. Penggunaan biodiesel mampu mengurangi penggunaan solar impor sehingga terjadi penghematan devisa impor yang berimplikasi pada mengurangi defisit neraca migas. Tidak hanya itu, industri biodiesel juga mampu meningkatkan nilai tambah, menyerap tenaga kerja hingga berkontribusi pada penurunan emisi GRK.

Berbagai manfaat dari kegiatan dan produk yang dihasilkan dari hilirisasi sawit tersebut semakin mendorong untuk terus berinovasi dalam mengoptimalkan potensi kelapa sawit baik minyaknya (termasuk kandungan fitonutriennya) maupun bagian tubuh tanaman (biomassa) seperti batang, pelepah, serat, bungkil dan lain-lain, untuk menjadi produk bernilai tambah dan bernilai ekonomi tinggi. Oleh karena itu untuk mempercepat hilirisasi sawit, Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan seperti pajak ekspor (bea keluar dan pungutan ekspor) dan insentif pajak bagi industri hilir.

Salah satu bentuk insentif pajak yang diberikan dalam rangka mempercepat hilirisasi sawit adalah Super Deduction Tax. Regulasi fikal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 45/2019. Insentif pajak tersebut bertujuan untuk mendorong kegiatan riset mandiri pada sektor industri.

Dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Majalah Sawit Indonesia dan APOLIN, Emil Satria selaku Direktur Industri Hasil Hutan Dan Perkebunan Kementerian Perindustrian RI memaparkan terkait insentif Super Deduction Tax yang dapat mendukung pengembangan hilirisasi sawit di Indonesia.

Berdasarkan paparan tersebut, insentif Super Deduction Tax diberikan kepada lembaga riset penelitian dan pengembangan (litbang) yang Wajib Pajak dan memenuhi beberapa kriteria berikut diantaranya adalah memiliki tujuan untuk memperoleh penemuan baru dan menciptakan sesuatu yang bisa ditransfer secara bebas atau diperdagangkan di pasar.

Dalam lampiran PMK 153/2020 terdapat fokus dan tema litbang yang menjadi objek pemberian insentif pajak, dimana industri hilir sawit termasuk dalam fokus litbang pangan, farmasi dan kosmetik, agroindustri dan energi yang berhak menerima fasilitas perpajakan tersebut.

Dalam PMK tersebut, khususnya pada Pasal 2 diatur besaran fasilitas insentif pajak berupa pengurangan penghasilan bruto paling tinggi sebesar 300 persen. Rincian dari besaran insentif tersebut yaitu pengurangan penghasilan bruto sebesar 100 persen biaya riil yang dikeluarkan untuk kegiatan litbang, dan tambahan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 persen dari akumulasi biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan litbang dalam jangka waktu tertentu (yang terdiri dari: 50% yang menghasilkan hak kekayaan intelektual (Paten atau PVT) yang didaftarkan di dalam negeri; 25% yang menghasilkan hak kekayaan intelektual (Paten atau PVT) selain yang didaftarkan dalam negeri dan juga didaftarkan di luar negeri; 100% jika riset inovasi tersebut telah mencapai tahap komersialisasi; dan 25% jika litbang tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan lembaga litbang pemerintah, dan/atau lembaga pendidikan tinggi di Indonesia).

Selain itu, biaya penelitian dan pengembangan yang dapat diberikan fasilitas terdiri dari: (1) biaya aktiva selain tanah dan bangunan; (2) biaya barang dan/atau bahan; (3) biaya gaji, honor, atau pembayaran sejenis yang dibayarkan kepada pegawai, peneliti, dan/atau perekayasa yang dipekerjakan; (4) biaya pengurusan HAKI (Paten atau Hak PVT); dan (5) imbalan yang dibayarkan kepada lembaga litbang pemerintah dan/atau lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

Insentif Super Deduction Tax merupakan bentuk komitmen kuat Pemerintah untuk mendorong dan mempercepat pengembangan hilirisasi sawit di Indonesia, sekaligus juga bentuk perhatian kepada lembaga riset, penelitian dan pengembangan berperan sebagai creator, inovator dan tulang punggung industri sawit.

Dukungan dan sinergitas antara stakeholder sawit (pemerintah, periset dan industri) tersebut menjadi amunisi dalam pengembangan produk hilir berbasis sawit yang inovatif dan berdaya saing di pasar domestik maupun global. Dengan demikian, industri sawit diharapkan semakin kokoh menjadi tambang dan juga lokomotif yang mampu menghasilkan “kue ekonomi” yang semakin besar bagi masyarakat Indonesia. 

BAGIKAN ARTIKEL INI

0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
MARI BERLANGGANAN PASPI NEWSLETTER