Sustainable Batik is Launched by Indonesian Stakeholder Collaboration

  • English
  • Bahasa Indonesia

The palm oil industry continues to innovate continuously by producing various downstream products that are beneficial to humans. In recent years, the Indonesian people have been surprised by the innovation of biofuels, which are 100 percent made from palm oil, such as palm diesel, palm gasoline and palm avtur. And now, we are again shocked by the new innovation of palm oil, namely Palm Batik (Batik Sawit).

batik
Source: InfoSAWIT

Batik Sawit uses wax, called Malam, that is produced from palm oil also known as Bio-PAS. Bio-PAS products are made from hydro genetic stearin which is processed from palm oil. The use of processed products from palm stearin is to reduce the use of fossil paraffin, which has been used for a long time. The Bio-PAS innovation is the result of the innovation of researchers from the Agency for the Assessment and Application of Technology (BPPT) in collaboration with the Crafts and Batik Center (BBKB) in Indonesia.

The Bio-PAS products have been socialized through workshops to Batik craftsmen in Java. Already there are 300 groups consisting of batik craftsmen, around 60-70 craftsmen in a group that have used palm oil-based Malam (Bio-PAS). According to batik craftsmen who have used Malam from Bio-PAS, this product has advantages such as a good color barrier, no seepage of color that enters the canting tread and the coloring results are sharp and bright because it is resistant to alkaline and acid solutions due to synthetic dyes. In terms of price, batik craftsmen admit that the price between Bio-PAS and fossil paraffin for Malam is relatively competitive, and the current trend shows that fossil paraffin is slightly cheaper than Bio-PAS.

The socialization of Batik Sawit also does not stop among craftsmen as batik producers, but socialization also needs to be done to consumers as batik users. Therefore, GAPKI collaborated with BPDPKS, Musim Mas Group, and BPPT to launch and introduce Batik Sawit Nusantara made from Malam which contains Bio-PAS. The creation of Batik Sawit Nusantara has also been handed over to President Joko Widodo, Vice President Ma’ruf Amin, as well as to all government in Indonesia Maju Cabinet.

 

The production of Indonesian Palm Batik is also full of meaning by having 3 basic concepts, namely Mother Earth (Ibu Pertiwi), Indonesia, and Sustainability. Mother Earth or Ibu Pertiwi, reflects a mother whose love will never end and is tireless. The concept of Indonesia reflects diversity as stated in the motto Bhinneka Tunggal Ika. Meanwhile, the concept of sustainability reflects the sustainability between nature and Indonesian culture.

The Indonesian Palm Batik fabric is also inspired by the beauty of Indonesian culture and Indonesia’s abundant natural products which are reflected in two motifs, namely Batik Cipta Dira and Batik Panca Jagat. The motif of Ciptadira, adapted from Sansekerta, which is symbolizes the combination of creation and the meaning of wisdom. The word “dira” is an acronym for “Indonesia Raya“. So, the name Ciptadira is a symbol of hope for wisdom in maintaining the trust and glory mandated by the leaders.

While the Panca Jagat symbolizes the four basic elements of nature (fire, air, earth, and water) in the one-dimensional space of the universe, which are the elements of life. This motif shows a picture of a cleaver and deer antlers, as a symbol that this meaningful idea originated in Bogor, the first place where oil palm was planted in Indonesia.

Using Malam for Indonesian Palm Batik will also accentuate the identity of Indonesia as the owner of Batik cultural richness as well as the largest palm oil producer in the world. The combination of these two Indonesian treasures produces sustainable batik, because Malam made from palm oil is the result of Indonesia’s abundant and renewable natural resources, compared to fossil paraffin wose availability will run out.

Using Malam of Bio-PAS is also an effort to continue and maintain the existence of Indonesian batik. If batik craftsmen continue to depend on fossil paraffin, it has the potential to threaten the existence of batik, along with the depletion of the available stock of fossil paraffin, which is classified as a non-renewable resource. With the use of Malam, it will reduce dependence on fossil paraffin, so it is expected to further extend the life and preservation of Indonesian batik. Not only that, the use of Malam from Bio-PAS also helps to improve Indonesia’s trade balance, considering that most of the fossil paraffins are imported.

It is hoped that the launch of Batik Sawit Nusantara as a form of socialization to the wider community can form branding among consumers so that the demand and market for this sustainable Batik Sawit will grow and continue to increase. In addition, it is hoped that this activity can also have an impact on educating of the Indonesian people regarding the use of palm oil products, which are so close to people’s daily lives, so that it is expected to a positive image of palm oil can be formed.

Industri sawit tidak henti-hentinya terus berinovasi dengan menghasilkan berbagai produk hilir yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan inovasi bahan bakar nabati (BBN) yang 100 persen terbuat dari minyak sawit seperti diesel sawit, bensin sawit dan avtur sawit. Dan saat ini, masyarakat Indonesia kembali digemparkan dengan inovasi baru sawit yaitu Batik sawit.

batik
Source: InfoSAWIT

Batik sawit tersebut menggunakan Malam dari sawit atau yang dikenal dengan Bio-PAS. Produk Bio-PAS dibuat dari hydro genetic stearin yang merupakan hasil olahan dari minyak sawit. Penggunaan produk olahan dari stearin sawit tersebut untuk mengurangi penggunaan parafin fosil yang selama ini sudah sejak lama digunakan dalam industri batik. Inovasi Bio-PAS ini merupakan hasil inovasi para peneliti dari BPPT yang berkolaborasi dengan BBKB (Balai Besar Kerajinan dan Batik).

Produk Bio-PAS telah disosialisasikan melalui workshop kepada para pengrajin Batik di wilayah Jawa. Sudah ada 300 kelompok perajin batik yang beranggotakan sekitar 60-70 pengrajin dalam satu kelompok yang telah menggunakan Malam sawit (Bio-PAS). Menurut para pengrajin batik yang telah menggunakan Malam dari Bio-PAS, produk tersebut memiliki keunggulan seperti perintang warna yang bagus, tidak terdapat rembesan warna yang masuk di tapak canting dan hasil pewarnaannya tajam serta cerah dikarenakan tahan terhadap larutan alkali dan asam akibat zat pewarna sintesis. Dari segi harganya, para pengrajin batik mengakui bahwa harga antara Bio-PAS sawit dengan parafin fosil relatif kompetitif, dan saat ini trennya menunjukkan parafin fosil lebih murah sedikit dibandingkan Bio-PAS.

Sosialisasi batik sawit tersebut juga tidak berhenti dikalangan pengrajin sebagai produsen batik, tetapi sosialisasi juga perlu dilakukan kepada konsumen sebagai pengguna batik. Oleh karena itu, GAPKI berkolaborasi dengan BPDPKS, Musim Mas Grup dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) meluncurkan dan memperkenalkan Batik Sawit Nusantara yang terbuat dari Malam yang mengandung Bio-PAS. Karya Batik Sawit Nusantara saat ini juga telah diserahkan kepada Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, serta ke seluruh pejabat negara dan kabinet Indonesia Maju.

Pembuatan Batik Sawit Nusantara juga sarat makna dengan memiliki 3 landasan konsep dasar yaitu Ibu Pertiwi, Indonesia, dan Keberlanjutan. Ibu Pertiwi mencerminkan seorang ibu yang kasih sayangnya tidak akan pernah putus dan tak kenal lelah. Konsep Indonesia mencerminkan keberagaman seperti yang tertuang pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sementara itu,, konsep keberlanjutan mencerminkan kelestarian antara alam dan budaya Indonesia.

Kain Batik Sawit Nusantara juga terinspirasi dari keindahan budaya Indonesia dan hasil alam Indonesia yang melimpah yang tercermin dari dua motif yaitu Batik Cipta Dira dan Batik Panca Jagat. Ciptadira diadaptasi dari bahasa Sansekerta melambangkan gabungan kreasi dan makna kebijasaan. Kata “dira” sendiri juga merupakan singkatan dari Indonesia Raya. Nama Ciptadira menjadi simbol harapan sebuah kebijaksanaan dalam menjaga kepercayaan dan kemuliaan yang diamanatkan pada para pemimpin.

Sedangkan Panca Jagat melambangkan empat elemen dasar alam (api, udara, tanah dan air) dengan 1 ruang dimensi alam semesta yang merupakan unsur-unsur kehidupan. Dalam motif ini tampak gambar Kujang dan tanduk rusa, sebagai simbol bahwa ide sarat makna ini berawal dari Bogor, kota pertama tempat kelapa sawit ditanam di Indonesia.

Penggunan Malam sawit dalam Kain Batik Nusantara ini juga akan semakin menonjolkan indentitas bangsa Indonesia sebagai pemilik kekayaan budaya Batik sekaligus sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Kombinasi kedua kekayaan Indonesia ini menghasilkan karya sustainable batik, karena Malam berbahan baku minyak sawit merupakan hasil sumberdaya alam Indonesia yang melimpah dan renewable, dibandingkan parafin fosil yang ketersediannya akan habis.

Penggunaan Bio-PAS pada Malam juga sebagai upaya untuk terus menjaga eksistensi batik Indonesia. Jika para pengrajin batik terus bergantung pada parafin fosil, maka berpotensi mengancam eksistensi batik seiring dengan habisnya stok ketersedian parafin fosil yang tergolong sebagai non-renewable resources. Dengan penggunaan Malam sawit maka akan mengurangi ketergantungan terhadap parafin fosil, sehingga diharapkan akan semakin memperpanjang umur dan kelestarian batik Indonesia. Tidak hanya itu, penggunaan Malam dari Bio-PAS ini juga turut membantu menyehatkan neraca perdagangan Indonesia, mengingat sebagian besar parafin fosil bersumber dari impor.

Diharapkan peluncuran Batik Sawit Nusantara itu sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat luas dapat membentuk branding di kalangan konsumen sehingga demand dan pasar batik sawit ini akan tumbuh dan terus berkembang. Selain itu, diharapkan kegiatan ini juga dapat berdampak pada semakin teredukasinya masyarakat Indonesia terkait dengan pemanfaatan produk sawit yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari sehingga akan membentuk citra positif sawit.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *