The Glory of FFB Price Becomes a Gift for Oil Palm Smallholders on the 76th Indonesian Independence Day

  • English
  • Bahasa Indonesia

August is indeed a big moment for the Indonesian people. Every August 17th is Indonesia’s Independence Day, which is commemorated by all Indonesian people.

The joy and happiness are also felt by oil palm smallholders in almost all the center provinces in Indonesia. Because they receive the relatively high price of Fresh Fruit Bunches (FFB).

ffb price
Source: infopublik.id

If we compare the FFB price in the third week of August 2021 with the same period in the previous year, it can be seen that the price of FFB in several palm oil center provinces has increased quite significantly. In Riau, the province is the largest palm oil center and also an oil palm smallholder center, where the FFB price in the third week of August 2021 reached 2,730/kg, or an increase compared to the same period last year, which was 1,984/kg.

The high price of FFB is also felt by smallholders in North Sumatra, where the FFB price has increased from 1,965/kg to 2,769/kg in the same period. The increase in FFB prices was also felt by smallholders in Jambi, from 1,870/kg to 2,620/kg.

The positive trend in FFB prices this year is certainly very encouraging for smallholders because it has a relatively long duration. This was also acknowledged by the General Chairman of APKASINDO, Gulat Manurung, that this year was the most beautiful year for them since Indonesia was established because they received a high price that had never been obtained before.

 

For your information, the fluctuations in FFB prices are influenced by several factors, such as fluctuations in CPO prices, total production costs and FFB production. Crude Palm Oil (CPO) is the main product of palm oil processing. Domestic CPO prices are determined by prices in Kuala Lumpur and Rotterdam.

The glory of FFB price this year is also inseparable from various policies implemented by the government. One of the policies that drives the high price of FFB is the B30 mandatory biodiesel policy. The biodiesel program not only aims to reduce the use of imported diesel, but it also increases the absorption of domestic palm oil.

This condition has implications for the stock of palm oil (CPO) in the global market, which is well maintained so that the global price is relatively stable and high, which has an impact on the price of FFB received by smallholders. In previous years, the average price of FFB received by oil palm smallholders was below 1,000/kg, but since the implementation of the B30 policy, the impact has been felt directly by them is the high price of FFB, up to 2,700/kg.

In the future, the mandatory biodiesel policy is expected to continue to be implemented, in line with the government’s target of achieving a  23% energy mix by 2025. In addition, the Indonesian government is currently intensively pursuing the PSR program to boost smallholder oil palm plantation productivity. For this reason, it is necessary to develop a downstream strategy, such as an increase from B30 to B40 or the development of biohydrocarbons (greenfuel) to accommodate domestic FFB production, which is expected to continue to increase in line with the replanting program.

With a balance between productivity and consumption for both the domestic and global markets, the national palm oil industry is optimistic that its existence will be maintained, the welfare of oil palm farmers will increase, and be able to become a global price setter can be realized, considering that Indonesia is the largest exporter in the world with 55 percent of total palm oil exports.

Bulan Agustus memang menjadi momentum besar bagi bangsa Indonesia. Tepatnya setiap tanggal 17 Agustus merupakan hari perayaan kemerdekaan RI yang diperingati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Suka cita dan kebahagiaan yang semakin bertambah juga dirasakan oleh petani sawit nasional. Hal ini dikarenakan petani sawit di hampir seluruh provinsi sentra kelapa sawit di Indonesia menerima harga Tandan Buah Segar (TBS) yang relatif tinggi.

ffb price
Source: infopublik.id

Jika kita bandingkan harga TBS periode minggu ketiga bulan Agustus tahun 2021 dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, terlihat bahwa harga TBS di sejumlah provinsi sentra sawit mengalami kenaikan yang signifikan. Seperti di Riau, provinsi sentra sawit terluas dan juga merupakan sentra sawit rakyat, dimana harga TBS pada periode minggu ketiga Agustus 2021 mencapai 2.730/kg, atau mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu 1.984/kg.

Tingginya harga TBS juga dirasakan oleh petani sawit di Sumatera Utara, dimana harga TBS mengalami peningkatan dari 1.965/kg menjadi 2.769/kg pada periode yang sama. Kenaikan harga TBS juga dirasakan oleh petani sawit di Jambi dari 1.870/kg menjadi 2.620/kg.

Tren positif harga TBS di tahun ini tentunya sangat menggembirakan bagi petani sawit, karena durasinya relatif panjang. Hal tersebut juga diakui oleh Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Manurung, bahwa tahun ini merupakan tahun terindah bagi petani sawit sejak Indonesia berdiri karena mendapatkan harga TBS yang tinggi seperti saat ini.

Perlu diingat, bahwa naik dan turunnya harga TBS dipengaruhi oleh beberapa hal seperti fluktualisasi harga CPO dan total biaya produksi dan produksi TBS. Crude Palm Oil (CPO) merupakan produk utama dalam pengolahan minyak sawit. Untuk harga CPO di dalam negeri sendiri ditentukan oleh harga di Kuala Lumpur dan Rotterdam.

Cemerlangnya harga TBS tahun ini juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Salah satu kebijakan yang mendorong tingginya harga TBS yaitu kebijakan mandatori biodiesel B30. Program biodiesel tidak hanya bertujuan untuk mengurangi pengunaan solar impor, program ini juga meningkatkan serapan minyak sawit domestik.

Kondisi ini berimplikasi terhadap stok minyak sawit di pasar global yang relatif terjaga sehingga harga CPO dunia relatif stabil dan tinggi yang berdampak pada peningkatan harga TBS yang diterima oleh petani. Pada tahun-tahun sebelumnya, harga TBS yang diterima petani rata-rata berada dibawah 1.000/kg, namun sejak pelaksanaan kebijakan B30 dampaknya telah dirasakan langsung oleh petani yaitu harga TBS yang menjulang tinggi hingga 2.700/kg.

Diharapkan kebijakan mandatori biodiesel akan terus dijalankan ke depan, sejalan dengan target pemerintah untuk menuju bauran energi Indonesia sebesar 23% di tahun 2025. Selain itu, saat ini Pemerintah Indonesia sedang gencar dalam program PSR untuk menggenjot produktivitas sawit rakyat. Untuk itu, perlu dipersiapkan strategi kebijakan hilirisasi ke depan seperti peningkatan dari B30 menjadi B40 atau pengembangan biohidrokarbon (greenfuel) untuk dapat menampung peningkatan produksi TBS domestik seiring dengan implementasi program PSR tersebut.

Dengan adanya keseimbangan antara produktivitas dan penyerapan konsumsi baik untuk pasar domestik dan global, industri kelapa sawit nasional optimis akan terus terjaga eksistensinya, kesejahteraan petani sawit akan meningkat, serta harapan Indonesia sebagai price setter CPO global bisa terwujud, mengingat Indonesia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia dengan pangsa 55 persen dari total ekspor minyak sawit dunia.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *