The Origin of Oil Palm Plantations is Indonesia

  • English
  • Bahasa Indonesia

Deforestation is a normal phenomenon in every development process that has been carried out by all countries in the world. The conversion of forest land into non-forest land occurs to fulfill the needs of land for both in the economic activity and residential sectors at the beginning of the development process.

Based on 2012 FAO data, temperate forest deforestation in Europe occurred since the beginning of human civilization and is expected until the 17th century. While, intensive temperate forest deforestation in the United States occurred from the 16th century until 19th century. It’s means the industrial revolution that occurred in western countries also had implications for the largest of global deforestation in hundreds of years ago. Meanwhile, tropical countries have only just begun to develop an economy that has caused intensive tropical deforestation to occur in the 1900s.

Like other countries, deforestation also occurred in Indonesia, which had begun since the colonial period and was increasingly massive during the Orde Baru. Although deforestation is normal process in the economic-social development, but this issue is used to discredit Indonesia’s oil palm plantations which are considered as the main drivers of deforestation in Indonesia. This  false accusation needs to be corrected so as not to further damage the image of the Indonesian palm oil industry. Therefore, it is necessary to reveal the history of deforestation in Indonesia and the origin of Indonesia’s oil palm plantations based on data and facts.

The Ministry of Environment and Forestry data shows that Indonesia’s forests has decreased areas from 162.3 million hectares in 1950 to 85.8 million hectares in 2017. Conversely, deforestation in Indonesia has increased from 68.1 million hectares in the period of 1950-1985 to 101.9 million hectares in the period of 2000-2017. On the other hand, the increase in the area of ​​Indonesian oil palm plantations also increased from 105 thousand hectares to 9.89 million hectares in the same period. An interesting fact shows that comparing the area of ​​deforestation and ​​oil palm plantations, shows that the increase in oil palm area is only 0.4-9.7 percent of the area of ​​deforestation in Indonesia. This means that deforestation in Indonesia that has occurred long before the development of oil palm plantations and oil palm plantations is not the main cause of deforestation in Indonesia.

This was also confirmed by a study by Fahmudin and Gunarso (2019) which showed that the origins of oil palm plantations in Indonesia during period 1990-2018, mostly derived from agricultural land (agroforestry) with a proportion of 23 percent. Oil palm plantations also origins from shrubs and grasslands both in the highlands (18 percent) and around swamps (13 percent) and secondary or distrubed upland forest (11 percent). The issue that corners the origin of all Indonesian oil palm plantations from primary/protected forests is a false issues, based on the study showing that the use of primary forest (undistrubed upland forest) for oil palm plantations is very small at only 0.4 percent.

If we look at the history of deforestation, especially what happened during the Orde Baru era is caused by massive logging activities. Massive and intensive logging activities, especially on the islands of Sumatra, Kalimantan and Sulawesi, occurred during the New Order, resulting in a lot of forest land that was degraded and turned into abandoned shrubs. Study of Gunarso et al., (2013) also mentions that the cause of forest loss in Indonesia is due to intensive logging and the impact of forest fires, a combination of these factors leads to the progressive degradation of forest landscapes into agroforestry or shrub land.

Massive and intensive logging activities, especially on the islands of Sumatra, Kalimantan and Sulawesi during the New Order era, resulted in degraded forest land and turned into abandoned shrubs and shanty former logging worker barracks. The sale of logs is also not re-invested in the logging areas, so that the economy of the logging area does not develop even turned into a ghost town.

Therefore, the ex-logging area was made a land reserve for development (land of bank) by the Orde Baru government and was reused which was mostly converted for the purpose of developing other sectors or cultivation areas. The transmigration programme which was one of the important programs during the Orde Baru, this programme also used the ex-logging land that was used both for new residentials and for agricultural land including the development of oil palm plantations. Another study re-confirmed that fact by Eric Meijjard also found a similar fact that the loss of tropical rainforest was not a result of the development of oil palm plantations. The oil palm plantations on the island of Kalimantan come from open land due to wood extraction and forest fires.

Based on this history, it can be interpreted that the development of Indonesian oil palm plantations is not the main driver of deforestation, but rather an effort to reforestation. Oil palm plantations have even re-greened the ecological, economic and social aspects of communities damaged by logging in the past. In ecology side, oil palm plantations absorb carbon dioxide, produce oxygen, increase biomass and carbon stocks, conserve soil and water or increase water holding capacity and produce biofuel replacing fossil energy that is reduce carbon dioxide emissions. From an economic aspect, oil palm plantations increase farmers’ incomes, increase regional economic development, increase government revenue, and generate foreign exchange. Whereas socially, oil palm plantations increase employment opportunities, reduce poverty, increase rural development and improve income inequality.

Deforestasi merupakan fenomena normal dalam setiap proses pembangunan yang telah dilakukan oleh seluruh negara di dunia. Konversi lahan hutan menjadi lahan non hutan tersebut terjadi untuk memenuhi kebutuhan lahan baik sektor aktivitas ekonomi maupun pemukiman di awal proses pembangunan.

Berdasarkan data FAO tahun 2012, deforestasi temperate forest di Eropa terjadi sejak awal peradaban manusia dan diperkirakan berakhir pada abad ke-17. Deforestasi temperate forest yang intensif di Amerika Serikat terjadi sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Hal ini berarti revolusi industri yang terjadi di negara barat juga berimplikasi pada besarnya tingkat deforestasi global ratusan tahun lalu.  Sementara itu, negara tropis baru mulai membangun perekonomian yang menyebabkan terjadinya deforestasi hutan tropis (tropical forest) secara intensif baru terjadi tahun 1900an.

Sama seperti negara lain, deforestasi juga terjadi di Indonesia yang sudah dimulai sejak masa kolonial dan makin masif pada masa Orde Baru. Meskipun deforestasi merupakan hal yang proses normal dalam pembangunan ekonomi dan sosial, namun isu ini digunakan untuk memojokkan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang dianggap sebagai driver utama dari deforestasi di Indonesia. Tuduhan yang keliru tersebut perlu diluruskan agar tidak semakin merusak citra industri minyak sawit Indonesia. Oleh karena itu, perlu diungkap sejarah deforestasi di Indonesia dan asal usul lahan kebun sawit Indonesia berdasarkan data dan fakta.

Data KLHK menunjukkan bahwa hutan Indonesia terus mengalami penurunan luas yakni dari 162.3 juta hektar tahun 1950 menjadi 85.8 juta hektar tahun 2017. Sebaliknya, deforestasi di Indonesia mengalami peningkatan dari 68.1 juta hektar periode tahun 1950-1985 menjadi 101.9 juta hektar pada periode tahun 2000-2017. Di sisi lain, penambahan luas areal kebun sawit Indonesia juga mengalami peningkatan dari 105 ribu hektar menjadi 9.89 juta hektar pada periode tahun yang sama.  Fakta menarik menunjukkan dengan memperbandingkan antara luas deforestasi dan penambahan luas areal kebun sawit menunjukkan bahwa penambahan luas kebun sawit hanya sebesar 0.4-9.7 persen dari luas deforestasi di Indonesia. Artinya deforestasi di Indonesia sudah terjadi jauh sebelum pengembangan kebun sawit dilakukan dan kebun sawit bukanlah penyebab utama dari deforestasi di Indonesia.

Hal tersebut juga terkonfirmasi dari studi Fahmudin dan Gunarso (2019) yang menunjukkan bahwa pengembangan perkebunan sawit Indonesia selama periode tahun 1990-2018 berasal dari lahan pertanian (agroforestry) dengan proporsi sebesar 23 persen. Lahan kebun sawit juga berasal dari semak belukar dan padang rumput baik yang berada di dataran tinggi (18 persen) maupun di sekitar rawa (13 persen) dan hutan sekunder atau distrubed upland forest (11 persen). Isu yang menyudutkan asal seluruh kebun sawit Indonesia berasal dari hutan primer/lindung merupakan isu yang keliru, berdasarkan studi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hutan primer (undistrubed upland forest) untuk kebun sawit sangat kecil yakni hanya sebesar 0.4 persen.

Jika melihat sejarah deforestasi khususnya yang terjadi pada masa Orde Baru disebabkan karena aktivitas logging yang masif. Kegiatan logging yang massif dan intensif khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi terjadi pada masa Orde Baru, mengakibatkan banyak lahan hutan yang mengalami degradasi dan berubah menjadi semak belukar yang terlantar. Studi Gunarso et al., (2013) juga menyebutkan bahwa penyebab dari hilangnya hutan di Indonesia karena logging yang intensif dan dampak dari kebakaran hutan, kombinasi faktor tersebut menyebabkan terjadinya degradasi lanskap hutan yang cukup progresif menjadi lahan agroforestry atau lahan semak belukar.

Kegiatan logging yang massif dan intensif khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pada masa Orde Baru, mengakibatkan lahan hutan yang mengalami degradasi dan berubah menjadi semak belukar yang terlantar dan bekas barak-barak pekerja logging yang kumuh. Hasil penjualan kayu log juga tidak direinvestasikan ke daerah-daerah logging, sehingga ekonomi daerah logging tidak berkembang bahkan menjadi kota mati atau kota hantu (ghost town).

Oleh karena itu, kawasan ex-logging tersebut dijadikan cadangan lahan untuk pembangunan (land of Bank) pemerintah Orde Baru sehingga dapat dimanfaatkan kembali yang sebagian besar dikonversikan untuk keperluan pembangunan sektor lain atau kawasan budidaya. Program transmigrasi yang merupakan salah satu program penting pada masa Orde Baru yang memanfaatkan lahan ex-logging yang digunakan baik untuk pemukiman baru maupun untuk lahan pertanian termasuk pembangunan kebun sawit. Studi lain yang dilakukan oleh Eric Meijjard juga mengkonfirmasi fakta serupa yakni hilangnya hutan hujan tropis bukan akibat dari pembangunan perkebunan kelapa sawit. Lahan perkebunan sawit di pulau Kalimantan berasal dari lahan terbuka akibat ekstraksi kayu dan pembakaran hutan.

Berdasarkan sejarah tersebut, dapat diartikan bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia bukan pemicu utama (driver) deforestasi, bahkan merupakan upaya reforestasi. Kebun sawit justru menghijaukan kembali ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah yang rusak akibat logging pada masa sebelumnya. Dari segi ekologi antara lain, perkebunan kelapa sawit menyerap karbonsioksida, menghasilkan oksigen, menambah biomas dan stok karbon, konservasi tanah dan air atau meningkatkan kapasitas menahan air dan menghasilkan biofuel pengganti solar yang mengurangi emisi karbon dioksida. Secara sosial, perkebunan kelapa sawit meningkatkan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, meningkatkan pembangunan pedesaan dan memperbaiki ketimpangan pendapatan. Sedangkan secara ekonomi, perkebunan kelapa sawit meningkatkan pendapatan petani, peningkatan pembangunan ekonomi daerah, peningkatan penerimaan pemerintah dan penghasil devisa.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *