The Potentials Gain Of Used Cooking Oil (UCO) Processing Into Eco-Friendly Energy Sources

  • English
  • Bahasa Indonesia

One of the well-known palm oil products is palm cooking oil. Most of cooking oil products consumed by Indonesian are source from palm oil. This products also included in one of the nine basic groceries (Sembako) in Indonesia.

Palm cooking oil products have become important part of Indonesian’s dietary. Because the large consumption of palm cooking oil in Indonesia is not only due to the fact that this country is the largest producer of palm oil in the world, but also due to the factor of eating habits of Indonesian who prefer deep-fried foods.

Source: Analisa Indonesia

The used of palm cooking oil will produced Used Cooking Oil (UCO) as waste. UCO’s consumption has the potential to endanger the health, and also trigger various diseases such as stroke, Alzheimer, and Parkinson. UCO generates from repeated use of palm cooking oil at high temperatures and for a long time, will cause changes and damage to chemical composition.

In addition to potentially endangering consumer’s health, the volume of UCO in Indonesia is also estimated to be very large, given the large consumption of palm cooking oil. A study conducted by the International Council on Clean Transportation (ICCT) states that the UCO’s potential in Indonesia reaches 1.64 billion liters per year.

Given the large volume and the potential hazards, the serious handling is needed to prevent the re-entry of UCO into the market as bulk oil. The Indonesian government should develop a UCO’s centralized collection system at both the regional and national levels. Although there is no governance of UCO’s collecting, this initiative has emerged especially from the catering industry (restaurant) sector which supplying to several UCO’s collection services. Similar initiatives are also seen at the regional level, Bogor City Government has also initiated steps to collect and utilize of UCO.

TNP2K and Traction Energi Asia’s studies show that from the national consumption of palm cooking oil in 2019 reached 16.2 million kiloliters and the potential of UCO’s volume is in the range of 6.46 – 9.72 million kiloliters, but only about 3 million kiloliters of UCO can be collected. This data shows that lower of UCO’s volume has been collected, so that become is an obstacle to its utilization. Even though the waste contains the potential for high economic value products, one of them is eco-friendly renewable energy sources

One of the utilization of UCO is as feedstock (raw material) for biodiesel products. UCO contains palmitic and oleic acids which are quite high with a percentage of 32-47 percent and 38-56 percent, respectively. Both of these content make UCO suitable as biodiesel feedstocks by converting into ester through the esterification process.


The utilization of the UCO as biodiesel feedstocks has been carried out in other countries such as Japan, the United States, Mexico, Australia, New Zealand, and other countries. Even, it’s the second main fedstock used by the EU biodiesel industry (after rapeseed oil), with its utilization has significant increase from 690 thousand tons in 2011 to 2.79 million tons in 2020.

Several private business are producing biodiesel from UCO, they are Lengis Hijau Foundation, GenOil, and Artha Metro Oil as well as several multinational companies such as Cargill, Adaro, Aqua, and Unilever It’s shows that this businesses are promising enough to generate profit. The Production Index Price (HIP) of UCO for biodiesel feedstock is cheaper than the HIP for palm oil, so that the producer can enjoy greater profit from processing UCO into biodiesel.

From environmental aspects, apart from producing biodiesel with the ability to reduce carbon emissions by 91.7 percent higher than fossil diesel, utilization of UCO can also reduce disposed of waste which will have an impact on increasing levels of Chemical Oxygen Demand (COD) and Biological Oxygen Demand (BOD) in the water. This causes the surface of the water to be covered with a layer of oil and blocking sunlight to waters, which can lead to the loss of biota and has the potential to pollute groundwater.

Apart from being used as a biodiesel feedstock, UCO also has potential to be source of electrical energy. The Agency for the Assessment and Application of Technology (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT) collaborates with State Electriciy Company (PLN) to utilize UCO for diesel and gas-fueled power plant by applying Pure Plant Oil (PPO) technology. The trial results shows that the use of  UCO in diesel fueled power plant (PLTD) is technically ready to replace 50 percent of diesel fuel. Meanwhile, the PPO technology for the utilization of UCO on gas turbin in diesel fueled power plant (PLTG) is still being studied.

The utilization of the UCO as a source of electrical energy has also been carried out in Malahing village, Bontang. Pupuk Kaltim utilized UCO into biodiesel and applied to engine generators. The generator has a power capacity of 6500 VA with biodiesel consumption of about 8 liters for a load of 4500 watts, and is capable of supplying electricity with a power-on time from 5 pm to 12 pm.

The potential for developing UCO as alternative of eco-friendly energy sources is very great, so it is unfortunate if this potential cannot be realized in the future. Therefore, it is necessary to centralize the UCO’s management system (from the process of collecting, transporting, processing) and this management processes equipped with an incentive scheme; as well as product quality standardization both regionally and nationally and also encouraging the campaign or promotion of collecting UCO.

Salah satu produk olahan kelapa sawit yang sudah banyak dikenal adalah minyak goreng sawit. Sebagian besar minyak goreng yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia berasal dari minyak sawit. Produk ini juga termasuk dalam sembilan bahan pokok (Sembako).

Minyak goreng sawit telah menjadi bagian penting dalam dietary masyarakat Indonesia. Besarnya konsumsi minyak goreng di Indonesia tidak hanya disebabkan karena negara ini merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi juga disebabkan karena faktor eating habit masyarakat Indonesia yang lebih menyukai makanan yang digoreng (deep fried).

Source: Analisa Indonesia

Penggunaan minyak goreng sawit akan menghasilkan minyak jelantah sebagai limbah. Konsumsi limbah minyak jelantah berpotensi membahayakan kesehatan hingga memicu berbagai penyakit seperti stroke, alzeheimer dan parkinson. Hal ini dikarenakan minyak jelantah yang dihasilkan dari penggunaan minyak goreng secara berulang-ulang pada suhu tinggi dan dalam waktu yang lama akan menyebabkan perubahan dan kerusakkan komposisi kimia.

Selain berpotensi membahayakan kesehatan konsumen, volume minyak jelantah di Indonesia juga diperkirakan sangat besar, mengingat besarnya konsumsi minyak goreng sawit. Studi yang dilakukan oleh International Council on Clean Transportation (ICCT) menyebutkan bahwa potensi minyak jelantah di Indonesia mencapai 1.64 miliar liter per tahun.

Mengingat besarnya volume limbah minyak jelantah dan potensi bahaya, diperlukan penanganan serius untuk mencegah masuknya kembali limbah tersebut ke pasar sebagai minyak curah. Pemerintah Indonesia seharusnya membentuk sistem pengumpulan minyak jelantah yang tersentralisasi baik di tingkat regional maupun nasional. Meskipun belum ada sistem tata kelola untuk pengumpulan minyak jelantah, namun inisiatif tersebut telah muncul khususnya dari sektor catering industry (restaurant) dengan menggunakan beberapa jasa pengumpul minyak jelantah. Inisiatif serupa juga hadir di tingkat daerah, Pemerintah Kota Bogor juga sudah menginisiasi langkah pengumpulan dan pemanfaatan minyak jelantah.

Kajian awal TNP2K dan Traction Energi Asia menunjukkan bahwa dari konsumsi minyak goreng sawit nasional tahun 2019 mencapai 16.2 juta kiloliter dan potensi minyak jelantah yang dihasilkan berada di kisaran 6.46 – 9.72 juta kiloliter, hanya sekitar 3 juta kiloliter minyak jelantah yang dapat dikumpulkan. Data tersebut menunjukkan rendahnya pengumpulan minyak jelantah, sehingga hal ini menjadi hambatan dalam pemanfaatannya. Padahal limbah tersebut menyimpan berbagai potensi produk yang bernilai ekonomi tinggi, salah satunya sumber alternatif renewable energy yang juga ramah lingkungan.

Salah satu pemanfaatan minyak jelantah sebagai feedstock (bahan baku) produk biodiesel. Minyak jelantah memiliki kandungan asam palmitat dan oleat yang cukup tinggi dengan persentase masing-masing sebesar 32-47 persen dan 38-56% persen. Kedua kandungan tersebut menjadikan minyak jelantah cocok untuk dijadikan feedstock biodiesel dengan mengubahnya menjadi ester melalui proses esterifikasi.

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai feedstock biodiesel telah dilakukan di negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, Meksiko, Australia, New Zealand, dan negara lainnya. Bahkan minyak jelantah merupakan feedstcok kedua terbanyak yang digunakan oleh industri biodiesel Uni Eropa (setelah minyak rapeseed), dengan peningkatan penggunaannya yang cukup signifikan yakni dari 690 ribu ton tahun 2011 menjadi 2.79 juta ton tahun 2020.

Sudah ada beberapa pihak swasta yang memproduksi biodiesel dari minyak jelantah seperti Yayasan Lengis Hijau, GenOil dan Artha Metro Oil serta beberapa perusahaan multinasional company seperti Cargill, Adaro, Aqua, dan Unilever. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis di bidang ini cukup menjanjikan untuk menghasilkan potensi “cuan” yang besar. Harga Indeks Produksi (HIP) minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel lebih murah dibandingkan dengan HIP minyak sawit, sehingga produsen dapat menikmati profit yang lebih besar dari pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel.

Dari sisi lingkungan, selain menghasilkan biodiesel dengan kemampuan yang mampu mengurangi emisi karbon sebesar 91.7 persen lebih tinggi dibandingkan solar fosil, pengelolaan minyak jelantah juga dapat mengurangi terbuangnya limbahnya tersebut secara sembarangan yang akan berdampak pada meningkatnya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan lapisan minyak. Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang menyebabkan matinya biota dalam perairan dan berpotensi mencemari air tanah.

Selain dapat digunakan sebagai feedstock biodiesel, minyak jelantah juga potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan kerjasama dengan PT. PLN untuk memanfaatkan minyak goreng jelantah untuk pembangkit listrik berbahan bakar diesel dan gas dengan menerapkan teknologi Pure Plant Oil (PPO). Hasil uji coba tersebut menunjukkan penggunaan minyak jelantah pada PLTD secara teknis siap untuk menggantikan 50 persen dari penggunaan solar. Sementara itu, teknologi PPO untuk pemanfaatan minyak jelatah pada turbin gas PLTG masih terus dilakukan pengkajian.

Penggunaan minyak jelantah sebagai sumber energi listrik juga telah dilakukan di perkampungan Malahing, Bontang. Pupuk Kaltim menggunakan biodiesel dari minyak jelantah untuk diaplikasikan pada mesin generator area Malahing. Generator tersebut memiliki kapasitas daya 6500 VA dengan konsumsi biodiesel sekitar 8 liter untuk beban 4500 watt, dan mampu menyuplai listrik dengan waktu penyalaan dari pukul 5 sore hingga 12 malam.

Potensi pengembangan minyak jelantah menjadi sumber alternatif energi yang ramah lingkungan begitu besar, sehingga sangat disayangkan apabila potensi tersebut tidak mampu diwujudkan kedepannya. Oleh karena itu, diperlukan sentralisasi sistem pengeolaan minyak jelantah yang dilengkapi dengan skema insentif dari mulai proses pengumpulan, tranportasi, pengolahan; standardisasi kualitas produk olahannya baik regional maupun nasional; dan mendorong kampanye atau promosi pengumpulan minyak jelantah.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *