LOGO PASPI WEB

World Environment Day 2022: Potensi Industri Sawit Untuk Menyelamatkan Bumi

Daftar Isi

World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 juni. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan bagian dari UN Environment Programme yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan serta mendorong perhatian dan tindakan sebagai aksi global dalam misi penyelamatan dan perlindungan alam dan planet Bumi.

Pada tahun 2022, World Environment Day juga diperingati sebagai perayaan ke-50 tahun diselenggarakannya Konferensi Stockholm yang berlangsung pada tahun 1972. Konferensi Stockholm merupakan konferensi tingkat dunia pertama yang membahas isu lingkungan. Oleh karena itu, peringatan World Environment Day pada tahun ini begitu spesial untuk memperingati setengah abad perjalanan dunia terkait perlindungan lingkungan. 

World Environment Day
Tema Peringatan World Environment Day Tahun 2022 (Dok: Shutterstock)

Tema global yang diusung pada World Environment Day tahun ini adalah “Only One Earth”. Senada dengan tema global, tema yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia adalah “Satu Bumi untuk Masa Depan”. Pesan dari tema tersebut adalah untuk mengajak seluruh masyarakat global untuk merawat, menjaga, melestarikan dan memulihkan lingkungan karena hanya ada 1 planet Bumi yang menjadi tempat tinggal.

Dalam peringatan World Environment Day tahun 2022, Majelis Umum PBB menyampaikan tiga masalah utama yang dihadapi oleh dunia yaitu iklim yang meningkat dengan cepat, hilangnya habitat dan biodiversity loss, serta polusi yang meracuni udara, tanah dan air. Oleh karena itu, jalan keluar dari hal ini adalah transformasi ekonomi dan masyarakat menjadi inklusif, adil, dan lebih terhubung dengan alam atau dengan kata lain living sustainably in harmony with nature.

Solusi untuk keluar dari ketiga masalah lingkungan tersebut menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh negara dan seluruh sektor (privat, pemerintah, masyarakat) untuk berkontribusi dalam melindungi planet Bumi. Demikian juga dengan industri sawit menjadi salah satu sektor yang turut berkontribusi dalam perlindungan planet Bumi, khususnya menjadi solusi atas ketiga masalah diatas yakni peningkatan suhu global, biodiversity loss dan polusi.

Industri Sawit Menjadi Solusi untuk Pemanasan Iklim Global

Industri sawit menyimpan potensi besar untuk berkontribusi menjadi solusi atas salah satu permasalahan lingkungan yakni pemanasan iklim global. Cara kerja industri sawit untuk menjalankan perannya sebagai solusi global warming melalui dua cara yakni menyerap kembali emisi CO2 dan menurunkan emisi CO2.

Cara kerja industri sawit, khususnya perkebunan sawit, dalam menyerap kembali emisi CO2 melalui perannya sebagai paru-paru ekosistem. Fungsi “paru- paru” yang melekat pada tanaman sawit terkait dengan penyerapan neto karbondioksida (carbon sink or carbon sequestration) dari atmosfer bumi atau neto penyerapan fotosintesis dan respirasi serta memasok oksigen ke atmosfer bumi.

Pemanasan Iklim Global
Ilustrasi Perkebunan Sawit Berperan sebagai Paru-Paru Ekosistem (Dok: PASPI, 2016)

Penelitian Henson (1999) menyebutkan bahwa secara netto satu hektar kebun sawit mampu menyerap 64.5 ton karbon dioksida dan memproduksi 18.7 ton oksigen setiap tahunnya. Sementara itu, satu hektar hutan secara netto hanya mampu menyerap sekitar 42.4 ton karbon dioksida dan menghasilkan oksigen sekitar 7.1 ton. Artinya perkebunan kelapa sawit lebih unggul daripada hutan dalam fungsi penyerapan karbon dioksida dari atmosfer bumi dan produksi oksigen.

Penyerapan neto CO2 pada perkebunan sawit lebih besar dibandingkan dengan pada hutan tropis. Hal ini disebabkan pada hutan tropis umumnya sudah pada kondisi steady state, dimana laju fotosintesis dengan laju respirasi sudah seimbang. Sebaliknya pada perkebunan sawit, laju fotosintesis masih jauh lebih besar dibandingkan dengan laju respirasi.

Dengan kemampuan carbon sink tersebut, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia yang mencapai 16.3 juta hektar mampu menjadi mesin penyerap CO2 dari atmosfer bumi sebesar 1035.3 juta ton CO2 setiap tahun. Hal ini berarti perkebunan sawit mengurangi konsentrasi CO2 atmosfer bumi yang diperkirakan telah berlebihan.

Selain mengolah emisi CO2 menjadi oksigen, karbon dan air melalui proses fotosintesis, selanjutnya karbon kembali diserap dan disimpan melalui mekanisme biosequestrasi. Melalui proses tersebut, karbon disimpan pada biomas baik pada biomas tanaman sawit itu sendiri (above ground biomass) maupun pada sistem perakaran bawah tanah (underground biomass). Mekanisme biosequestrasi karbon pada perkebunan kelapa sawit berlangsung setiap tahun hingga mencapai umur 25 tahun sehingga menyebabkan stok biomas dan stok karbon pada perkebunan kelapa sawit meningkat hingga umur tersebut.

Studi Khasanah (2019) mengungkapkan bahwa rata-rata stok karbon pada biomasa di atas tanah pada perkebunan sawit di Indonesia mencapai 40 ton per hektar. Dengan luas kebun sawit Indonesia 16.3 juta hektar, maka jumlah stok karbonnya mencapai 652 juta ton karbon. Artinya setidaknya 652 juta ton CO2 dari atmosfer bumi telah terserap dan tersimpan pada biomasa yang di atas tanah perkebunan sawit Indonesia (belum termasuk pada biomasa di bawah tanah).

Kontribusi industri sawit sebagai bagian dari solusi pemanasan global juga ditunjukkan melalui perannya untuk memproduksi biofuel sebagai substitusi energi fosil. Sebagaimana diketahui bahwa sumber emisi GHG global terbesar adalah energi fosil. Oleh karena itu, salah satu cara untuk menurunkan emisi GHG adalah mengurangi konsumsi energi fosil dan beralih ke energi yang lebih hemat emisi.

Industri sawit mampu menghasilkan energi biofuel generasi pertama (biodiesel dan greenfuel/ green diesel, green gasoline, green avtur) dari pengolahan minyak sawit (CPO/CPKO); energi biofuel generasi kedua (biopremium/biogasoline/bioethanol, biopelet, biogas/biolistrik, biobara) dari biomassa sawit (tandan kosong, cangkang dan serat buah, batang dan pelepah); dan energi biofuel generasi ketiga (biogas, biolistrik dan biodiesel algae) dari limbah cair POME.

biofuel sawit
Ilustrasi Pohon Tanaman Sawit sebagai Sumber Biofuel (Dok: Ditjen EBTKE)

Biofuel sawit yang secara intensif dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel. Bahkan dengan Program Mandatori Biodiesel (B3) telah menjadikan Indonesia menjadi produsen biodiesel terbesar di dunia. Seiring dengan diimplementasikan program mandatori tersebut berdampak pada pengurangan emisi GRK yang terus meningkat yakni dari hanya sekitar 592.3 ribu ton CO2 eq tahun 2010 meningkat menjadi 22.3 juta ton CO2 eq tahun 2020 atau peningkatannya sebesar 400 kali lipat.

Dapat dibayangkan besarnya potensi penurunan emisi karbon dari pengembangan energi generasi pertama, terlebih jika produk green fuel seperti bensin sawit, solar sawit dan avtur sawit telah digunakan di Indonesia.

Hal lainnya yang menarik dari pengembangan biofuel sawit yang dihasilkan melalui pengolahan limbah cair POME (Palm Oil Mill Effluent). Selain menghasilkan biofuel yang dapat digunakan sebagai alternatif penggunaan bahan bakar fosil, pengolahan POME juga menjadi bagian mitigasi pengurangan emisi di tingkat Pabrik Kelapa Sawit (PKS) karena kolam POME menjadi sumber emisi GHG. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa kontribusi emisi dari PKS (salah satunya akibat POME) sebesar 63.2 persen.

Limbah cair POME yang mengandung banyak senyawa organik dan berpotensi melepaskan bahan berbahaya seperti gas methana, dimana gas tersebut menjadi salah satu komponen pembentuk GRK di atmosfer bumi. Teknologi pengolahan POME dapat menggunakan methane capture plant yang berfungsi menangkap gas methane yang selanjutnya dapat diubah menjadi biolistrik melalui proses gasifikasi. Kandungan gas methane juga dapat ditambahkan (upgrading) sehingga dapat menghasilkan biogas.

news 16.2
Pengaplikasian Teknologi Methane Capture pada Kolam POME di PKS (Dok: Forda-mof.org)

Besarnya emisi CO2 yang mampu terserap baik melalui mekanisme carbon sink (fotosintensisi) dan biosequestration maupun melalui produksi biofuel yang rendah emisi dan alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil, menunjukkan bahwa industri sawit mampu mengurangi konsentrasi CO2 atmosfir bumi yang menjadi penyebab utama meningkatnya temperatur global (global warming).

Studi terbaru juga menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas melalui enerapan Good Agriculture Practices (GAP), penggunaan teknologi methane capture untuk pengolahan POME serta pemanfaatan biomas sawit sebagai sumber energi pada PKS, dapat menurunkan emisi proses produksi minyak sawit (CPO) hingga 97 persen sekaligus semakin memperbesar kemampuan perkebunan sawit untuk berkontribusi menurunkan emisi di atmosfir Bumi (Net Carbon Sink).

Perkebunan Sawit Menjaga Biodiversitas

Isu penyebab biodiversity loss menjadi salah satu isu yang dialamatkan kepada perkebunan sawit. Perkembangan luas perkebunan sawit Indonesia yang cukup signifikan yakni dari 4.16 juta hektar menjadi 14.46 juta dalam 20 tahun terakhir, men-trigger isu tersebut. Tuduhan yang tidak berdasar tersebut terus disebarluaskan oleh pihak pembenci sawit untuk merusak citra sawit di mata konsumen global.

Indonesia bukanlah Eropa dan Amerika Serikat, dimana awal pembangunan di negara-negara tersebut sudah menghabiskan hutannya baik itu hutan lindung maupun hutan konservasi sehingga tidak ada lagi biodiversitas endemik di wilayah tersebut. Sejak awal, Pemerintah Indonesia telah memiliki kebijakan pembangunan nasional dengan menggunakan paradigma pembangunan berkelanjutan. Sehingga pembangunan antar sektor baik sektor pengembangan maupun sektor konservasi di Indonesia dapat dilakukan berdampingan secara harmoni pada ruang yang berbeda. Pengembangan perkebunan sawit di Indonesia dan pelestarian hutan yang dipertahankan (non deforestable) telah diatur oleh konstitusi seperti Undang-Undang Kehutanan No. 41/1999 maupun kebijakan pelestarian biodiversitas lainnya di Indonesia.

Hutan lindung dan hutan konservasi tersebut sebagian besar merupakan hutan primer, dilindungi serta tidak boleh dikonversi kepada penggunaan lain dan “rumah” bagi biodiversitas seperti satwa-satwa liar, ragam tumbuhan dan mikroba, fungsi tata air dan konservasi ekosistem secara keseluruhan. Berbeda dengan kawasan budidaya yang dapat dikonversi antar sektor dan dimanfaatkan lahannya seperti untuk pertanian, perkebunan (termasuk pengembangan kebun sawit), hutan produksi, perkotaan, pemukiman dan lain-lain.

Statistik Kehutanan tahun 2018 menunjukkan bahwa luas kawasan hutan/hutan primer (konservasi dan lindung) masih sangat besar mencapai 41.26 juta hektar. Masih luas dan terjaganya hutan primer Indonesia juga membuat FAO (2016) menggolongkan Indonesia termasuk negara Global Top-Ten Countries with Forest Area for Conservation of Biodiversity. Selain itu, beberapa Kawasan Konservasi utama Indonesia bahkan telah diakui eksistensinya di dunia internasional.

Untuk semakin memperkuat counter terhadap tuduhan perkebunan sawit sebagai penyebab biodiversity loss, beberapa penelitian seperti penelitian Prof. Yanto Santosa (Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB) menunjukkan bahwa jumlah jenis biodiversitas di kebun sawit tidak selalu lebih rendah dibandingkan dengan biodiversitas yang ada di Ecosystem Benchmark  atau HCV/NKT. Bahkan pengembangan kebun sawit di beberapa daerah lokasi penelitian, justru meningkatkan jumlah jenis biodiversitas seperti herpetofauna  dan kupu-kupu.

Dalam praktiknya terkait pemanfaatan Hak Guna Usaha (HGU), perusahaan perkebunan sawit juga tidak menggunakan seluruh lahan untuk kebun sawit dan PKS namun tetap membiarkan lahan tetap berhutan (areal HCV/NKT). Hal ini mengindikasikan dengan pendekatan lanskap yang meliputi kebun sawit dan areal NKT/HCV akan memiliki jumlah jenis biodiversitas semakin kaya. Bahkan beberapa perusahaan perkebunan sawit juga turut berkontribusi menjadi sponsor untuk konservasi habitat satwa seperti orangutan.

Perkebunan Sawit Menjaga Biodiversitas
Upaya Perusahaan Perkebunan Sawit dalam Menjaga Habitat Burung Hantu di Wilayah Kebunnya (Dok: RGE)

Fakta menarik terkait dengan biodiversitas yang penting untuk disampaikan adalah studi Beyer et al., pada tahun 2020. Studi tersebut mengkomparasikan tingkat biodiversity loss global antar minyak nabati dengan menggunakan Species Richness Loss (SRL) per liter minyak. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa SRL minyak kedelai, SRL minyak rapeseed dan SRL minyak biji bunga matahari jauh berada diatas SRL minyak sawit. Artinya dengan SRL sebagai indikator biodiversity loss menunjukkan bahwa minyak sawit adalah minyak nabati yang paling rendah biodiversity loss-nya. Sementara, minyak nabati yang paling besar biodiversity loss-nya adalah minyak kedelai.

Perkebunan Sawit Menghemat Polusi

Isu lingkungan terakhir yang menjadi concern dalam peringatan World Environment Day 2022 adalah polusi yang terus meracuni air, tanah dan udara. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang turut berkontribusi dalam peningkatan polusi ke atmosfer Bumi. Dalam proses produksi komoditas pertanian, diperlukan untuk menambahkan konten pupuk dan residu untuk mengoptimalkan produktivitas dan produksi. Namun penggunaan input produksi tersebut juga menghasilkan residu pupuk dan pestisida yang masuk dan mencemari tanah dan air. 

news 16.4
Ilustrasi Pencemaran Air akibat Sektor Pertanian (Dok:KajianPustaka)

Besaran jumlah residu dari penggunaan pupuk dan pestisida tersebut dipengaruhi dari banyak faktor seperti teknologi produksi pertanian dan jenis tanaman. Sektor pertanian dengan teknologi intensif pupuk dan pestisida umumnya menghasilkan residu pupuk dan pestisida yang lebih besar. Kondisi ini sangat berbahaya karena mempengaruhi kualitas lingkungan hidup.

Salah satu komoditas pertanian yang juga menghasilkan residu pupuk dan pestisida adalah tanaman minyak nabati yakni minyak sawit, minyak kedelai dan minyak rapeseed. Ketiga tanaman minyak nabati tersebut menggunakan input produksinya yang sama yaitu pupuk Nitrogen (N), Fosfat (P2O5), dan pestisida. Namun ketiganya juga memiliki karakteristik tanaman yang berbeda sehingga turut mempengaruhi penggunaan input produksi dan residu yang dihasilkannya.

Karakteristik kelapa sawit sebagai tanaman minyak nabati tropis, perennial plant dengan siklus produksi selama 25 tahun, berukuran besar dan produktivitas minyak yang tinggi menyebabkan penggunaan input (pupuk dan pestisida) untuk memproduksi satu ton minyaknya lebih hemat/sedikit, dibandingkan tanaman kedelai dan rapeseed. Implikasinya adalah polutan tanah/air yang dihasilkan juga paling sedikit dibandingkan kedua tanaman minyak nabati tersebut.

Studi FAO tahun 2013, menunjukan penggunaan pupuk dan pestisida untuk memproduksi satu ton minyak kedelai dan minyak rapeseed lebih tinggi dibandingkan kelapa sawit. Implikasinya polusi dari residu pupuk dan pestisida untuk memproduksi satu ton minyak kedelai dan minyak rapeseed juga lebih tinggi dibandingkan kelapa sawit. Artinya tanaman kelapa sawit lebih hemat polusi atau tanaman yang paling sedikit mencemari air dan tanah.

Residu pupuk dan pestisida dari proses produksi tanaman minyak nabati tersebut berpotensi mencemari lahan dan air (FAO, 2013) dan mengancam kehidupan biota baik yang ada di dalam tanah maupun pada perairan. Tanaman minyak kedelai menghasilkan residu pupuk dan pestisida terbesar sehingga lebih mencemari kehidupan biota dalam tanah dan air. Sebaliknya, tanaman kelapa sawit menghasilkan emisi pupuk dan pestisida yang lebih sedikit sehingga potensi sebagai ancaman terhadap kehidupan biota dalam tanah dan air relatif lebih rendah.

Uraian diatas telah menjelaskan secara komprehensif peran industri sawit sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang menjadi concern pada peringatan World Environment Day 2022. Industri sawit mampu berkontribusi dalam menurunkan emisi sebagai upaya mitigasi global warming, menjaga kelestarian biodiversitas dan mampu menurunkan polusi air tanah.

Kemampuannya tersebut akan terus meningkat seiring dengan implementasi tata kelola sawit yang berkelanjutan seperti peningkatan produktivitas, penggunaan input produksi dan energi berkelanjutan rendah emisi. Dengan demikian, diharapkan industri sawit mampu menjadi solusi bagi permasalahan lingkungan global serta menjadi jawaban untuk kelestarian lingkungan dan planet Bumi untuk anak cucu di masa depan.

Sekali lagi, Sawit adalah Anugerah Tuhan untuk Indonesia dan Dunia.

BAGIKAN ARTIKEL INI

0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

ARTIKEL LAINNYA

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
MARI BERLANGGANAN PASPI NEWSLETTER