JURNAL MONITOR VOL.2 NO.40: GERAKAN “NO PALM OIL” PICU POLUSI TANAH/AIR DUNIA SEMAKIN BESAR

TANGGAL PUBLIKASI : December 29, 2021
KEYWORDS : No Palm Oil
PENULIS : PASPI MONITOR

ABSTRAK

Kegiatan pertanian global berpotensi menghasilkan emisi/polutan air dan tanah dari penggunaan pupuk dan pestisida. Termasuk dalam produksi tiga minyak nabati utama dunia yaitu minyak sawit, minyak kedelai dan minyak rapeseed. Perbedaan pada tingkat produktivitas dan teknologi produksi pada ketiga minyak nabati tersebut menyebabkan polutan yang dihasilkan mengalami perbedaan. Karakteristik tanaman kelapa sawit sebagai tanaman minyak nabati tropis, perennial plant dengan siklus produksi selama 25 tahun, berukuran besar dan produktivitas minyak yang tinggi menyebabkan penggunaan input (pupuk dan pestisida) untuk memproduksi satu ton minyaknya lebih hemat/sedikit, dibandingkan tanaman kedelai dan rapeseed. Implikasinya adalah polutan tanah/air yang dihasilkan juga paling sedikit dibandingkan kedua tanaman minyak nabati tersebut. Berdasarkan fakta tersebut maka ntuk meminimalisir polutan/emisi air dan tanah, seharusnya masyarakat dunia memilih kelapa sawit sebagai tanaman minyak nabati dengan zero pollutant/zero waste. Sebaliknya yang terjadi kenyataannya adalah masifnya gerakan kampanye/gerakan “No Palm Oil” atau “Palm Oil Free” hingga kebijakan di negara importir yang bertujuan untuk mengurangi atau menghapus (phase-out) minyak sawit dalam minyak nabati dunia. Artinya untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global, maka hanya bergantung pada produksi minyak kedelai, minyak rapeseed atau minyak nabati lainnya. Hal ini berpotensi akan meningkatkan secara signifikan polutan atau emisi pupuk dan pestisida yang dihasilkan dari proses produksi minyak nabati global. Sebaliknya, peningkatan penggunaan minyak sawit secara global akan mengurangi polutan/emisi global dari penggunaan pupuk dan pestisida yang dihasilkan oleh industri minyak nabati global. Oleh karena itu, berbagai bentuk kampanye negatif dan kebijakan yang menyerang sawit sangar bertentangan dengan upaya pencapaian SDG-14 (Life Below Water) dan SDG-15 (Life on Land) karena mengancam kelestarian hidup pada teristerial dan perairan dunia, maupun SDG-12 (Responsible Consumption and Production).

PUBLIK FULL TEXT (KONTEN MEMILIKI HAK CIPTA)

CITASI

Elbehri A, A Segerstedt, P Liu. 2013. Biofuels and The Sustainability Challenge: A Global Assessment of Sustainability Issues, Trends and Policies for Biofuels And Related Feedstocks. Trade and Markets Division. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome.

European Commission. 2019. Supplementing Directives 2018/2001 As Regards the Determination of High Indirect Land Use Change Risk Feedstock for Which A significant Expansion of the production Area into With High Carbon Stock Is Observed and Certification of Low Indirect Land Use Change Risk Biofuels, Bioluquids and Biomass Fuels. Brussels.

Kumar UM, C Diaconu, Y Basiron, K Sundram. 2015. Why “No palm oil” Labeling Misleads the Consumer. Journal of Oil Palm, Environment & Health.6: 56- 64.

Lu Y. 2015. Impacts of Soil and Water Pollution on Food Safety and Health Risks in China. Environ Int. (77):5–15.

Oil World. 2018. Oil World Statistik. ISTA Mielke GmBh.

[PASPI] Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Insitute. 2015. Labelisasi Produk Palm Oil Free: Gerakan Boikot Minyak Sawit?. Jurnal PASPI Monitor. 1(15): 103-108.

[USDA] United States of Departemen Agriculture. 2021. World Market and Trade [internet]. Diakses pada: https://apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/oilseeds.pdf

PDF FILE

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x