JOURNAL MONITOR VOL.2 NO.28 : COMPARISON OF SOIL/WATER POLLUTION BETWEEN OIL PALM, SOYBEAN, AND RAPESEED PLANTATION

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

4
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian
The production of soybeans and rapeseeds to produce one ton of vegetable oil uses more fertilizers and pesticides than oil palm. The implication is that pollutant emissions from the use of fertilizers and pesticides on soybean crops are the largest, so that it has become a major threat to the sustainability of biota life in soil and water. Meanwhile, palm oil production technology uses fewer fertilizers and pesticides, so their emissions/pollutants are also relatively low. If it is associated with the SDGs achievement, especially SDGs-14 and SDGs-15, the global community should choose palm oil as the best alternative to vegetable oil that produces the lowest emissions/pollutants. The facts also correct the NGO movement and the European Union policy of phasing out palm oil both as a biofuel feedstock and for food. Efforts to discredit or phase out palm oil from global vegetable oil consumption mean a movement to encourage increased emissions of fertilizer and pesticide pollutants into soil and water. Because the reduction in the consumption of palm oil, which consequently encourages the consumption of soybean and or rapeseed vegetable oil, will be paid for by increasing emissions/pollutants from the use of fertilizers and pesticides globally, it could potentially threaten the life of biota in the soil or water.
Proses produksi tanaman kedelai dan rapeseed untuk menghasilkan satu ton minyak nabatinya lebih banyak menggunakan pupuk dan pestisida dibandingkan dengan kelapa sawit. Implikasinya emisi polutan dari penggunaan pupuk dan pestisida pada kebun kedelai merupakan yang terbesar dibandingkan pada kedua tanaman minyak nabati lainnya. Hal ini menjadikan proses produksi untuk menghasilkan satu ton minyak kedelai berpotensi menjadi ancaman besar bagi keberlanjutan kehidupan biota didalam tanah dan perairan. Sementara itu, teknologi produksi untuk menghasilkan satu ton minyak sawit menggunakan pestisida dan pupuk yang paling rendah, sehingga emisi/polutan yang dihasilkan juga relatif rendah. Jika dikaitkan dengan terhadap pencapaian SDGs khususnya SDG-14 (life below water) dan SDGs- 15 (life on land), seharusnya komunitas global memilih minyak nabati yang paling minim atau hemat emisi/polutan yaitu minyak sawit. Faktanya, NGO dan kebijakan Uni Eropa yang bermaksud melakukan phase-out minyak sawit baik sebagai bahan biofuel maupun untuk pangan justru akan mendorong untuk mendorong peningkatan emisi polutan pupuk dan pestisida ke tanah dan air. Hal ini dikarenakan pengurangan konsumsi minyak sawit yang akibatnya mendorong konsumsi minyak nabati kedelai dan atau rapeseed akan dibayar dengan meningkatnya emisi/polutan dari penggunaan pupuk dan pestisida secara global sehingga dapat berpotensi besar mengancam kehidupan biota di tanah atau perairan.
Download Journal

English Version

Indonesian Version