JOURNAL MONITOR VOL.2 NO.32 : ENVIRONMENTAL BENEFIT FROM OIL PLANTATION

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

8
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

Indonesia’s oil palm plantations, which have been growing rapidly. Indonesia also has proven itself to be the largest palm oil producer in the world, all at once also the world’s largest producer of vegetable oil. The consequence of becoming a global player is having to face competition from competitors, one of unfair competition is a negative campaign. One of the negative issues that is widely used to inhibit the trade in palm oil and its derivative products on the global market is that oil palm plantations are considered the main cause of deforestation in Indonesia.

Efforts to improve the image of palm oil plantation and national industry were carried out by the Indonesian government by issued Presidential Instruction about Moratorium and implementing ISPO to ensure that Indonesian palm oil able to fulfill the sustainability aspects. In addition, there is the idea that palm oil tree is categorized as a forest plant to suppress the development of the issue of deforestation. This can be seen based on the role and performance of oil palm plantations with the ability to absorb carbon dioxide, harvest solar energy, and water management functions, which will also be compared with the performance and role of forest in these three aspects.

When compared between oil palm and forest. In netto, each hectare of oil palm plantations absorbs about 64.5 tons of carbon dioxide annually and produces about 18.7 tons of oxygen. Meanwhile, forest in a netto able to absorb about 42.4 tons of carbon dioxide and produce about 7.1 tons of oxygen. It’s menas capability of oil palm plantation in the functions are of absorbing carbon dioxide and producing oxygen, oil palm plantations are actually superior than forest.

Oil palm plantations when compared to forest have a better ability to generate energy, absorb carbon dioxide, and generate more oxygen into the atmosphere. But forest are better at storing energy (biomass). Meanwhile, in terms of water management functions, oil palm plantations generally have the same role in conservation and hydrological functions compared to forest. From these explanation, role of oil palm plantations that similar as a forest plants, so it’s iportant to consider the idea of including they as a forest plants.

In terms of the role and performance of energy harvesting, oil palm plantations are superior to forest in terms of a higher radiation energy conversion efficiency of 1.7 g mj, while forest efficiency is only 0.9 g/mj. Oil palm plantations are also superior in terms of photosynthetic efficiency, incremental biomass and dry matter productivity. Meanwhile, forest is better at storing energy (biomass). However, if what is needed in forest area management is how to produce more efficient energy, absorb more carbon dioxide and produce more oxygen, then oil palm plantations are the answer to that question.

Meanwhile, in terms of water management functions, oil palm plantations generally have the same role in conservation and hydrological functions compared to forest. Oil palm plantations that have a fairly long production cycle of around 25 years (from planting to replanting) mean that this hydrological and conservation function lasts for at least 25 years. By including oil palm as a forest plant category, it is possible for palm oil tree to be planted in Industrial Plantation Forest (read: Hutan Tanaman Industri/HTI) or Social Forest (read: Hutan Sosial). In addition, the issue of oil palm plantations as the main cause of Indonesia’s deforestation will be suppressed.

Perkebunan kelapa sawit Indonesia yang telah berkembang pesat. Indonesia juga telah membuktikan dirinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sekaligus menjadi produsen minyak nabati terbesar di dunia. Konsekuensi dari menjadi global player adalah harus menghadapi kompetisi dari para pesaing, salah satunya adalah kampanye negatif. Salah satu isu negatif yang banyak digunakan untuk menghambat laju perdagangan minyak sawit dan produk turunannya di pasar global adalah perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai penyebab utama deforestasi yang terjadi di Indonesia.

Upaya memperbaiki citra perkebunan dan industri kelapa sawit nasional dilakukan pemerintah Indonesia dengan diterbitkannya Inpres Moratorium dan sertifikasi ISPO untuk menjamin kelapa sawit Indonesia memenuhi aspek keberlanjutan. Selain itu muncul gagasan tanaman kelapa sawit dikategorikan sebagai tanaman hutan untuk menekan berkembangnya isu deforestasi. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan peran dan kinerja perkebunan kelapa sawit dengan kemampuan sebagai penyerap karbon dioksida, memanen energi surya, dan fungsi tata air, yang juga akan dibandingkan dengan kinerja dan peran hutan pada tiga aspek tersebut.

Jika dibandingkan antara kelapa sawit dan hutan dalam kinerja fotosintesis dapat dilihat bahwa setiap hektar kebun sawit secara netto menyerap sekitar 64.5 ton karbon dioksida setiap tahun dan menghasilkan oksigen sekitar 18.7 ton. Sedangkan hutan secara netto menyerap sekitar 42.4 ton karbon dioksida dan menghasilkan oksigen sekitar 7.1 ton. Artinya kemampuan perkebuanan sawit dalam fungsi penyerapan karbon dioksida dan produksi oksigen lebih lebih unggul daripada hutan.

Dalam peran dan kinerja pemanenan energi, kebun sawit lebih unggul jika dibandingkan hutan baik dalam efisiensi konversi energi radiasi yang lebih tinggi yaitu 1.7 g/mj, sedangkan efisiensi hutan hanya sebesar 0.9 g/mj. Kebun sawit juga lebih unggul dalam aspek efisiensi fotosintesis, efisiensi konversi energi, incremental biomass dan produktivitas bahan kering. Sementara itu, hutan lebih baik dalam penyimpanan energi (biomass). Namun, jika yang diperlukan dalam pengelolaan kawasan hutan adalah bagaimana menghasilkan energi yang lebih efisien, menyerap karbon dioksida yang lebih banyak dan menghasilkan oksigen yang lebih besar maka perkebunan kelapa sawit menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sedangkan dari sisi fungsi tata air, perkebunan kelapa sawit secara umum memiliki peran yang sama dalam fungsi konservasi dan hidrologis dibandingkan dengan hutan. Perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi yang cukup panjang yakni sekitar 25 tahun (sejak ditanam sampai replanting) berarti fungsi konservasi dan hidrologis tersebut berlangsung setidaknya sampai 25 tahun.

Dilihat dari kebun sawit yang memiliki peran yang menyerupai tanaman hutan, maka gagasan untuk memasukkan tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hutan penting untuk dipertimbangkan. Dengan dimasukkanya kelapa sawit dengan kategori tanaman hutan, memungkinkan kelapa sawit dapat ditanam pada kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) atau Hutan Sosial. Selain itu, isu perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab utama deforestasi Indonesia akan dapat ditekan.
Download Journal

English Version

Indonesian Version