JOURNAL MONITOR VOL.2 NO.38 : GLOBAL GREENHOUSE GAS EMISSION ISSUES: “ITCHY HEAD, SCRATCHED FEET”

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

8
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

The concentration of GHG emissions in the earth’s atmosphere has increased rapidly since the 1700s to the present. Referring to global emission data (Oliver et al., 2020), the total global GHG emissions in 1990 were around 33.1 Gt CO2 eq and continued to increase to 52.4 Gt CO2 eq (excluding LULUCF) or around 57.4 Gt CO2 (including LULUCF) in 2019. The increase in GHG concentrations is believed to be the cause of global warming and climate change.

The main source of GHG emissions comes from fossil energy. Meanwhile, the Top-4 emitters in the world from the past until now are China, India, USA, and the EU-28. Therefore, the Top-4 emitters must be responsible for their willingness to reduce emissions, especially from the use of fossil energy as a significant solution to reducing global emissions. But the problem is, are these countries willing to reduce their fossil consumption, which also means reducing their welfare?

Another solution is the implementation of the Polluter Pay Principles (PPP), in which the Top-4 emitters as polluters are required to pay emission costs (negative externalities) to affected communities as a form of responsibility for their contribution to increasing global emissions.

On the other hand, the main emitters, especially the European Union and the United States, have formed an alliance whose task is to divert GHG emission issues and their responsibilities to the global palm oil industry. The adage “itchy head, scratched feet” is suitable to describe this phenomenon. NGOs and the alliances used the framing of the global palm oil industry as the major emitter, the driver of deforestation and other issues. What the two developed countries have done has not contributed to the solution and has even further distanced the world community from global emission reduction solutions.

 

The alliances formed by the top emitters, especially the European Union and the United States, should change their perspectives on palm oil and all its advantages (high productivity, long life cycle and production of biofuels that lower emissions and ability to substitute fossil fuels) as a solution to reduce global emissions, not as a “scapegoat”.

Konsentrasi emisi GHG pada atmosfir bumi telah mengalami peningkatan yang cepat sejak era tahun 1700-an hingga saat ini. Mengacu pada data emisi global (Oliver et al., 2020), emisi GHG global total tahun 1990 sekitar 33.1 Gt CO2 eq dan terus meningkat menjadi 52.4 Gt CO2 eq (tidak termasuk LULUCF) atau sekitar 57.4 Gt CO2 eq (termasuk LULUCF) pada tahun 2019. Peningkatan konsentrasi GHG tersebut diyakini menjadi penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Sumber utama emisi GHG berasal dari energi fosil. Sementara itu, Top-4 negara emiter dunia sejak dahulu sampai saat ini adalah Cina, India, USA dan EU-28. Oleh karena itu, negara Top-4 emiter tersebut harus bertanggung jawab dengan kesediaannya untuk menurunkan emisi khususnya dari penggunaan energi fosil sebagai solusi yang signifikan terhadap penurunan emisi global. Namun yang jadi permasalahan, apakah negara-negara tersebut bersedia menurunkan konsumsi fosilnya yang berarti juga menurunkan kesejahteraanya?

Solusi lainnya adalah implementasi Polluter Pay Principles (PPP), dimana Top-4 emiter dunia sebagai polluter wajib membayar biaya emisi (eksternal negatif) kepada masyarakat yang terkena dampak sebagai bentuk tanggung jawabnya atas kontribusinya terhadap kenaikan emisi global.

Namun sebaliknya, negara emitter utama khususnya Uni Eropa dan Amerika Serikat justru membentuk aliansi yang bertugas untuk mengalihkan isu dan tanggung jawab emisi GHG kepada industri sawit global. Pepatah “kepala gatal, kaki yang digaruk” cocok menggambarkan fenomena tersebut. NGO dan aliansinya mem-framing industri sawit sebagai driver emiter utama, driver deforestasi dan isu lainnya. Apa yang dilakukan oleh kedua negara maju dan emitter utama dunia tersebut justru tidak menyumbang solusi bahkan semakin menjauhkan masyarakat dunia dari solusi penurunan emisi global.
Aliansi-aliansi yang dibentuk oleh top emiter dunia khususnya Uni Eropa dan Amerika Serikat seharusnya melihat sawit dengan segala keunggulannya (produktivitas yang tinggi, life cycle yang panjang dan produk biofuel sawit yang rendah emisi dan mampu menggantikan fossil fuel) sebagai solusi penurunan emisi global bukan sebagai “kambing hitam”.
Download Journal

English Version

Indonesian Version