JOURNAL MONITOR EDITION 6 : OIL PALM PLANTATION IS CONSIDERED AS A CAUSE OF GLOBAL WARMING AND CLIMATE CHANGE, ISN’T RIGHT ?

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

One of the black campaign themes that is currently used by anti-palm oil NGOs and western countries in order to inhibit the rate of palm oil on the world market is by accusing oil palm plantation as a major contributor in increasing Greenhouse Gas (GHG) emissions which cause global warming and global climate change.  Although the issue has become the focus of the world community, there is still a lot of information about emissions and climate change that is not in accordance with the data and empirical facts, and also cornered oil palm plantations as the main cause of the phenomenon.

Global climate change which has been widely felt by the global community such as increased rainfall, storms, drought and fires and climate anomalies, are a result of global warming. Global warming is caused by the increasing intensity and concentration of the effect of greenhouse gasses on the earth’s atmosphere so that the radiation/heat of the sun that trapped in the earth’s atmosphere becomes larger so that it warms the temperature of the earth’s. This happens because of an increase in the concentration of GHG emissions above its natural concentration. Increased activities of human life on earth and the emergence of man-made gases are the cause of the increased concentration of GHG emissions.

 

According to Olivier et al. (2020), GHG emissions increased from 33 Gt CO2 eq in 1990 to 51.8 Gt CO2 eq in 2018. The largest global GHG emission concentrations were CO2 emissions (71 percent), CH4 (20 percent), NO2 (6 percent) and F- gas (3 percent). CO2 emissions was major contributor of global GHG emissions and it’s origin from fossil fuel (coal, gas and fuel) consumption and deforestation. Another GHG emissions is CFC or F-gasses emissions resulted from industry sector and household products.

Although the concentration of CFC or F-gases emissions lower than other, but they relatively more dangerous because causes depleting ozon layer. Threfore, the allegation by anti-palm oil NGOs that associated and blamed oil palm plantations as cause of global warming and climate change is incorect and incompatible with empirical facts.

In order to reduce emission, the global community has to be willing reduce fossil fuel consumption or replace them with low emission energy sources and reduce using household product which contain CFC-gasses. Although the choices seems to reduce comfort, it must be done by the global community as an effort to mitigate global warming and climate change. The solution more meaningful than to blame or “scapegoating” oil palm plantations as a cause of global warming and climate change.

Salah satu tema kampanye negatif/hitam yang saat ini marak diusung para LSM anti sawit dan negara barat dalam rangka menghambat laju minyak sawit di pasar dunia adalah dengan menuduh kebun sawit sebagai kontributor utama dalam peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim global. Meskipun isu tersebut telah menjadi fokus masyarakat dunia, namun masih banyak informasi yang beredar terkait emisi dan perubahan iklim tidak sesuai dengan data dan fakta empiris termasuk menyudutkan kebun sawit sebagai penyebab utama fenomena tersebut.

Perubahan iklim global yang telah banyak dirasakan oleh masyarakat global seperti curah hujan meningkat, badai, kekeringan dan kebakaran serta anomali iklim. Hal tersebut merupakan akibat dari pemanasan global. Pemanasan global disebabkan karena meningkatnya intensitas  efek gas rumah kaca pada atmosfer bumi sehingga radiasi/panas sinar matahari yang terperangkap pada atmosfer bumi menjadi lebih besar dan meningkatkan temperatur udara bumi. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan konsentrasi emisi GRK di atas konsentrasi alamiahnya. Peningkatan aktivitas kehidupan manusia di bumi dan munculnya gas-gas buatan manusia merupakan penyebab dari peningkatan konsentrasi emisi GRK tersebut.

Menurut Olivier et al. (2020), emisi GRK global mengalami peningkatan dari 33 Gt CO2 eq tahun 1990 menjadi 51.8 Gt CO2 eq tahun 2018. Konsentrasi emisi GRK global terbesar adalah emisi CO2 (71 persen), CH4 (20 persen), NO2 (6 persen) dan F-gas (3 persen). Emisi CO2 sebagai komponen emisi GRK terbesar, berasal dari produksi dan konsumsi energi fosil (batu bara, gas dan minyak fosil) dan deforestasi.

Komponen GRK lainnya yaitu emisi F-gas yang dihasilkan oleh industri dan produk rumahtangga, meskipun konsentrasinya yang paling rendah namun lebih berbahaya karena menyebabkan rusaknya lapisan ozon. Oleh karena itu, tuduhan LSM anti sawit yang mengaitkan dan menyalahkan kebun sawit sebagai penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim, adalah tuduhan yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan fakta empiris.

Untuk mengurangi emisi tersebut, masyarakat dunia harus bersedia menurunkan konsumsi energi fosil atau menggantinya dengan energi-energi beremisi rendah dan mengurangi penggunaan dan produk rumahtangga yang mengandung gas CFC. Meskipun pilihan tersebut terkesan mengurangi kenyamanan, namun harus dilakukan oleh masyarakat dunia sebagai upaya mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim. Solusi tersebut lebih bermakna dibandingkan terus menyalahkan dan mengkambinghitamkan kebun sawit sebagai penyebab dari perubahan iklim global.

Download Journal

English Version

Indonesian Version