JOURNAL MONITOR EDITION 7 : THE FACTS DEBUNK FRAMING ON INDONESIA AS WORLD’S LARGEST GREENHOUSE GASS (GHG) EMITTER

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

Increasing competition of vegetable oil market in the world has implications for a shift from price competion to non price competion to inhibiting of palm oil trade in the global market. It indicated by the large number of black campaigns attacking oil palm and Indonesia as the largest producer palm oil in world. One of the topics used in the black campaign is that Indonesia through the expansion of its oil palm plantations, is considered a major emitter country that contributes to increased Greenhouse Gas (GHG) emissions which cause global warming and climate change.

Allegations of anti- palm oil NGOs and western countries that cornered Indonesia and its oil palm plantations as the main emitter countries that contribute greatly to the increase in Greenhouse Gas (GHG) emissions, are accusations that are not in accordance with empirical data and facts. Based on the study of Olivier et al. (2020), the major emitter countries that contributed of global GHG emissions are China (20 percent), USA (16 percent), EU (12 percent), and India (6 percent). The main emitter countries also experienced an increase in the contribution of GHG emissions (CO2, CH4, NO2 and F-gas), except for the EU.

Although the contribution of GHG emissions produced by the EU has decreased, but the contribution of F-gas emissions has continued to increase. This is more dangerous because it causes damage to the ozone layer (ozone layer depleting) which aggravates global warming and endangers human health.

 

Indonesia is also the same as other countries producing GHG emissions, but Indonesia’s contribution was relatively small (2 percent) compared to the four major emitter countries. Indonesia also more contributred than major emitter countries to prevent the depleting layer of ozone by trying to reduce the use of Chlorofluorocarbon (CFC) gases.

This showed that the allegations of anti-oil palm organizations and western countries which corner Indonesia and its oil palm plantations as the cause of global warming and climate change, are false accusations. In fact, Indonesia’s contribution to GHG emissions is far below that of western countries such as USA and the European Union, which so far often blamed Indonesia and its oil palm plantations as the largest contributor to GHG emissions in the world. The two countries should be responsible for global warming and climate change that occur instead of distorting the facts.

Semakin menguatnya persaingan pada pasar minyak nabati dunia, berimplikasi pada terjadinya pergeseran dari price competion menjadi non price competion dengan tujuan menghambat laju perdagangan minyak sawit di pasar global. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya black campaign yang menyerang sawit dan Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia. Salah satu topik black campaign yang digunakan oleh LSM anti sawit dan negara barat adalah menuduh Indonesia melalui ekspansi kebun sawitnya sebagai negara emitter utama yang berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Tuduhan tersebut tidak sesuai dengan data dan fakta empiris. Berdasarkan studi Olivier et al. (2020), negara emitter utama yang berkontribusi terhadap emisi GRK global adalah China (20 persen), Amerika Serikat (16 persen), Uni Eropa (12 persen), dan India (6 persen). Negara-negara emitter utama tersebut juga mengalami peningkatan kontribusi emisi GRK (CO2, CH4, NO2 dan F-gas), kecuali Uni Eropa.

Meskipun kontribusi emisi GRK yang dihasilkan Uni Eropa mengalami penurunan, namun kontribusi emisi F-gas tetap mengalami meningkat. Hal tersebut lebih berbahaya karena menyebabkan rusaknya lapisan ozon (ozon layer depleting) yang memperparah pemanasan global dan membahayakan kesehatan manusia.

Indonesia juga sama seperti negara lain menghasilkan emisi GRK, namun kontribusi Indonesia masih relatif kecil (2 persen) jika dibandingkan keempat negara emitter utama.  Selain itu, Indonesia juga lebih berperan aktif dibandingkan negara emitter lainnya untuk mencegah terjadinya ozon layer depleting dengan berusaha menurunkan penggunaan gas-gas golongan Chlorofluorocarbon (CFC) yang dapat menghasilkan emisi F-gas.

Hal ini menunjukkan bahwa tuduhan LSM anti sawit dan negara barat yang menyudutkan Indonesia dan kebun sawitnya sebagai penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim, adalah tuduhan yang tidak tepat. Bahkan, kontribusi emisi GRK Indonesia jauh berada dibawah negara barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang selama ini sering “berteriak” menyudutkan Indonesia dan kebun sawitnya sebagai kontributor emisi GRK terbesar di dunia. Seharusnya kedua negara tersebut bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi bukannya memutarbalikkan fakta dan menuduh negara lain sebagai kontributor emisi GRK terbesar di dunia.

Download Journal

English Version

Indonesian Version