JOURNAL MONITOR EDITION 13 : THE FACTS BEHIND ISSUES OF FOREST AND LAND FIRES IN INDONESIA THAT INCRIMINATING THE PALM OIL INDUSTRY

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

8
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian
Forest and land fires disaster which affected the haze that occured every year in Indonesian territory, used by national and international anti-palm oil NGOs to build a bad image of palm oil. With the support of framing news from the mass media that canalization of forest and land fires that occurred in Indonesia to incriminating and accuse the palm oil industry as the main actor behind the forest and land fires that occurred in Indonesia without being based on rational analysis and empirical evidence.

 

Land around of  oil palm plantations concession was burnt or land that has been burned and then used for oil palm plantations, is considered as evidence of the justification of that allegations. It was impressed that the conclusion of the cause of the fired has already been built “on the table”, so that in the field it only collects data and information that justifies a conclusion that have been determined before.

Big concern from global community on the issue also shows this disaster as if specific only occured in Indonesia. However, this is indisputable through data from various sources showed that the average area of ​​forest and land fires per year in developed countries such as the United States, Europe and Russia is still relatively larger than Indonesia.

Forest and land fires also occured in all provinces of Indonesia. Several provincies of palm oil central such as South Sumateran, Central Kalimantan, West Kalimantan and South Kalimantan have land and forest fires that relatively extensive. However, forest and land fires also occured in provinces that do not have oil palm plantations. This facts showed that the issues developed by anti-palm oil NGOs that mention forest and land fires in Indonesia occur systematically and specifically related to the development of oil palm plantations, are false accusations.

The anti-palm oil NGO accusations also do not suitable with the data and empirical facts which showed that most hotspots are outside the concession with proportion by 68 percent. Meanwhile, the the hotspots in the oil palm concession are relatively small  about 11 percent, or lower than the hotspots in the pulpwood concession (16 percent).

If it is true, the palm oil industry as an main actor behind the forest and land fire in Indonesia, actually the farmers or the corporation of oil palm plantation are also victims who suffer losses. Beside the risk of criminal penalties and large fines, the palm oil industry will also suffer a substantial loss are the productivity decline and lower acceptance or rejection from consumer in developed markets because consumer preferences towards high sustainable aspects are not fulfill. To avoid these losses, the farmers and oil palm corporations carry out mitigation and other preventive to prevent the occurrence of hotspots on their land or surrounding land so that forest and land fires do not occur.

Bencana kahutla yang menimbulkan kabut asap terjadi setiap tahun di wilayah Indonesia, dimanfaatkan oleh LSM anti sawit baik nasional maupun internasional untuk membangun citra buruk sawit. Dengan didukung framing berita dari media massa yang mengkanalisasi bencana kebakan hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia untuk memojokkan dan menuduh industri sawit nasional sebagai aktor utama dibalik karhutla yang terjadi di Indonesia tanpa didasari analisis rasional dan bukti empiris.

Lahan disekitar konsesi perkebunan sawit yang terbakar atau lahan yang sudah terbakar dan kemudian dijadikan sebagai perkebunan sawit, dianggap sebagai bukti atas pembenaran tuduhan tesebut. Hal tersebut terkesan bahwa kesimpulan penyebab kebakaran sudah terlebih dahulu dibangun “di atas meja”, sehingga di lapangan hanya menghimpun data dan informasi yang membenarkan kesimpulan yang telah ditentukan sebelumnya.

Concern masyarakat dunia yang besar pada karhutla di Indonesia juga menunjukkan seolah-olah karhutla spesifik hanya terjadi di Indonesia. Namun, hal tersebut terbantahkan melalui data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa rata-rata luas kebakaran hutan dan lahan pertahun di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Rusia masih relatif lebih luas dibandingkan dengan Indonesia.

Karhutla juga terjadi di seluruh provinsi Indonesia. Meskipun karhutla yang cukup besar terjadi di beberapa provinsi sentra sawit seperti Sumateran Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Namun karhutla juga terjadi pada provinsi yang tidak memiliki perkebunan sawit. Hal ini menunjukkan bahwa isu yang dibangun oleh LSM anti sawit yang menyebutkan karhutla di Indonesia terjadi secara sistematis dan spesifik terkait dengan pengembangan kebun sawit, adalah tuduhan yang keliru.

Tuduhan LSM anti sawit tersebut juga tidak sesuai dengan data dan fakta empiris yang menunjukkan bahwa sebagian besar titik api berada di luar konsesi dengan proporsi 68 persen.  Sementara itu, titik api di konsesi industri sawit relatif sedikit hanya sebesar 11 persen, atau lebih sedikit dibandingkan dengan titik api di konsesi industri pulpwood (16 persen).

Jika benar, industri sawit sebagai aktor utama dibalik bencana karhutla di Indonesia, maka sesungguhnya petani atau koorporasi perkebunan sawit tersebut juga menjadi korban yang menderita kerugian. Selain resiko hukuman pidana dan denda yang besar, produsen minyak sawit juga akan menderita kerugian yang cukup besar yakni penurunan produktivitas dan penolakkan konsumen di pasar negara maju karena preferensi konsumen terhadap aspek sustainable yang tinggi tidak terpenuhi. Untuk mengindari kerugian tersebut, maka petani maupun korporasi sawit melakukan mitigasi dan upaya preventif lainnya untuk mencegah timbulnya titik api pada lahannya atau lahan sekitarnya sehingga bencana karhutla tidak terjadi.

Download Journal

English Version

Indonesian Version