JOURNAL MONITOR EDITION 27 : KATALIS MERAH PUTIH: THE WAY TO ACHIEVE NATIONAL VISION TO NATIONAL ENERGY SECURITY THROUGH PALM OIL-BASED BIOHYDROCARBON

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

8
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

Palm oil has the potential to provide a huge new and renewable energy source. This potential needs to be maximally utilized by Indonesia, given Indonesia’s large dependence on fossil fuel originating from imports. Palm oil’s carbon chain structure is similar to that of fossil fuel. Although, the fatty acids contained in palm oil are “contaminated” with carbon dioxide at one end of the molecule. To produce biofuels that resemble the hydrocarbon composition of fossil fuels, its needed catalysts for removing carbon dioxide and replacing oxygen with hydrogen.

So that processing palm oil into biohydrocarbon products can substitute fossil fuels, such as green diesel can substituting fossil diesel, green gasoline substituting fossil gasoline and palm avtur substituting fossil avtur. In contrast to biodiesel/FAME which is also palm oil based, biohydrocarbon products are drop-in which can be directly used in vehicle engines and have many advantages over fossil oil such higher cetane number and octane numer, lower sulfur content in green diesel, and lower freezing point and better thermal stability in green avtur.

To produce palm oil biohydrocarbons, a catalyst is needed in the chemical process. ITB’s Researchers have been since 1982, but collaborated between ITB-Pertamina just started since 2004. The catalyst given the name PITN 100-2T or the first Katalis Merah Putih was test in 2010, showed the resukt that have better performance and are more stable than imported catalysts. So that, Pertamina officially decided to use a catalyst in the Hydrotreating process for both naphtha, kerosene, and diesel in 2012. Furthermore, ITB researchers have also further developed catalysts for Pertamina’s refineries throughout Indonesia.

In mid-July 2020, Pertamina has also conducted tests on green diesel using Katalis Merah Putih. The test results also show good performance on palm diesel. This year, the production of Katalis Merah Putih on a commercial scale was carried out at the holding of BUMN PIHC. And then the catalyst will be used to produce biohydrocarbons at Pertamina’s refineries (Co-processing and Stand-Alone).

Thus, the development of biohydrocarbons as a new and renewable energy source in Indonesia not only contributes to the achievement of national energy security, but also brings other benefits such as reducing emissions, increasing the price of FFB and CPO so as to improve the welfare of producers (especially smallholders), strengthen smallholder oil palm up to reducing the intensity of competition and trade barriers (including black campaigns) imposed by other vegetable oil producing countries.

Minyak sawit memiliki potensi menyediakan sumber energi baru dan terbarukan yang sangat besar. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan dengan maksimal oleh Indonesia, mengingat besarnya ketergantungan Indonesia terhadap minyak fosil yang bersumber dari impor. Susunan rantai karbon yang dimiliki oleh minyak sawit memiliki kemiripan dengan rantai karbon minyak fosil. Namun, asam lemak yang terkandung dalam minyak sawit “terkontaminasi” dengan karbondioksida pada salah satu ujung molekulnya. Untuk menghasilkan biofuel yang menyerupai susunan hidrokarbon bahan bakar fosil, maka diperlukan katalis yang akan menghilangkan karbondioksida dan mengganti oksigen dengan hidrogen.

Sehingga pengolahan minyak sawit dan minyak inti sawit yang ditambahkan dengan katalis akan menghasilkan produk biohidrokarbon dapat mensubstitusi minyak fosil, seperti green diesel/diesel sawit mensubstitusi solar/diesel fosil, green gasoline/bensin sawit mensubtitusi bensin fosil dan green avtur/avtur sawit mensubstitusi avtur fosil. Berbeda dengan biodiesel/FAME yang juga berbasis minyak sawit, produk biohidrokarbon bersifat drop in yang dapat langsung digunakan pada mesin kendaran serta memiliki banyak keunggulan dibandingkan minyak fosil seperti cetane number dan octane number yang lebih tinggi, sulfur content pada green diesel yang lebih rendah serta freezing point yang lebih rendah dan thermal stability yang lebih baik pada green avtur.

Untuk memproduksi biohidrokarbon sawit, diperlukan katalis dalam proses kimiawinya. Tim peneliti dari ITB telah sejak tahun 1982 mulai mengembangkan katalis, namun kerjasama antara ITB dan Pertamina baru mulai berjalan pada tahun 2004. Hasil dari pengujian Katalis PITN 100-2T atau Katalis Merah Putih pertama di Indonesia pada tahun 2010, menunjukkan bahwa katalis tersebut memiliki aktivitas lebih tinggi dibandingkan katalis komersial. Sehingga Pertamina resmi memutuskan menggunakan katalis pada proses Hydrotreating baik untuk nafta, kerosin, maupun diesel pada tahun 2012. Selanjutnya, para peneliti ITB juga mengembangkan lebih lanjut katalis untuk kilang-kilang Pertamina di seluruh Indonesia.

Pada pertengahan Juli 2020, Pertamina juga telah melakukan pengujian pada green diesel berbasis sawit dengan menggunakan Katalis Merah Putih. Hasil pengujian tersebut juga menunjukkan performa yang baik pada diesel sawit. Tahun ini juga produksi Katalis Merah Putih skala komersialisasi dilakukan di di holding BUMN PIHC. Dan selanjutnya katalis tersebut akan digunakan untuk memproduksi biohidrokarbon di kilang Pertamina (Co-processing dan Stand-Alone).

Dengan demikian, pengembangan biohidrokarbon sebagai sumber energi baru dan terbarukan di Indonesia tidak hanya berkontribusi dalam pencapaian ketahanan energi nasional, namun juga membawa manfaat lain seperti penurunan terhadap emisi, peningkatan harga TBS dan CPO sehingga meningkatkan kesejahteraan produsen (khususnya pekebun), menguatkan sawit rakyat hingga menurunkan intensitas kompetisi dan hambatan dagangan (termasuk black campaign) yang diberlakukan oleh negara produsen minyak nabati lain.
Download Journal

English Version

Indonesian Version