JOURNAL MONITOR VOL. 2 NO. 40 : THE “NO PALM OIL” CAMPAIGN IS LEADING TO BIGGER SOIL/WATER POLLUTION IN THE WORLD

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian
Because of the use of fertilizers and pesticides, global agricultural activities have the potential to emit pollutants/emissions into the water, and soil. Included in the production of the three main vegetable oils are palm oil, soybean oil and rapeseed oil. The difference in the level of productivity and production technology between them causes the pollutants produced to experience differences. The characteristics of oil palm as a tropical vegetable oil crop, a perennial plant with a production cycle of 25 years, large size and high oil productivity, which result in the use of fewer inputs (fertilizers and pesticides) to produce one ton of palm oil more efficiently than soybeans and rapeseeds. The implication is that the soil/water pollutants generated by palm oil production are also the fewest compared to the two vegetable oil plants. Based on these facts, to minimize pollutants/emissions from water and soil, the global community should choose palm oil as a vegetable oil crop with zero pollutants/zero waste. On the other hand, the reality is that there is a massive “No Palm Oil” or “Palm Oil Free” campaign or movement and policies in importing countries that aim to reduce or “phase out” palm oil in global market. This means that to meet global vegetable oil demand, it only relies on the production of soybean oil, rapeseed oil or other vegetable oils. This has the potential to significantly increase fertilizer and pesticide pollutants/emissions resulting from global vegetable oil production processes. On the other hand, increasing global use of palm oil will reduce global pollutants and emissions from the use of fertilizers and pesticides produced by the global vegetable oil industry. Therefore, various forms of negative campaigns and policies that attack palm oil are very contrary to achieving SDG-14 and SDG-15 because they threaten the sustainability of life in the world’s terrestrial and aquatic areas.
Kegiatan pertanian global berpotensi menghasilkan emisi/polutan air dan tanah dari penggunaan pupuk dan pestisida. Termasuk dalam produksi tiga minyak nabati utama dunia yaitu minyak sawit, minyak kedelai dan minyak rapeseed. Perbedaan pada tingkat produktivitas dan teknologi produksi pada ketiga minyak nabati tersebut menyebabkan polutan yang dihasilkan mengalami perbedaan. Karakteristik tanaman kelapa sawit sebagai tanaman minyak nabati tropis, perennial plant dengan siklus produksi selama 25 tahun, berukuran besar dan produktivitas minyak yang tinggi menyebabkan penggunaan input (pupuk dan pestisida) untuk memproduksi satu ton minyaknya lebih hemat/sedikit, dibandingkan tanaman kedelai dan rapeseed. Implikasinya adalah polutan tanah/air yang dihasilkan juga paling sedikit dibandingkan kedua tanaman minyak nabati tersebut. Berdasarkan fakta tersebut maka ntuk meminimalisir polutan/emisi air dan tanah, seharusnya masyarakat dunia memilih kelapa sawit sebagai tanaman minyak nabati dengan zero pollutant/zero waste. Sebaliknya yang terjadi kenyataannya adalah masifnya gerakan kampanye/gerakan “No Palm Oil atau “Palm Oil Free” hingga kebijakan di negara importir yang bertujuan untuk mengurangi atau menghapus (phase-out) minyak sawit dalam minyak nabati dunia. Artinya untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global, maka hanya bergantung pada produksi minyak kedelai, minyak rapeseed atau minyak nabati lainnya. Hal ini berpotensi akan meningkatkan secara signifikan polutan atau emisi pupuk dan pestisida yang dihasilkan dari proses produksi minyak nabati global. Sebaliknya, peningkatan penggunaan minyak sawit secara global akan mengurangi polutan/emisi global dari penggunaan pupuk dan pestisida yang dihasilkan oleh industri minyak nabati global. Oleh karena itu, berbagai bentuk kampanye negatif dan kebijakan yang menyerang sawit sangar bertentangan dengan upaya pencapaian SDG-14 (Life Below Water) dan SDG-15 (Life on Land) karena mengancam kelestarian hidup pada teristerial dan perairan dunia, maupun SDG-12 (Responsible Consumption and Production).
Download Journal

English Version

Indonesian Version