JOURNAL MONITOR VOL.2 NO.14 : PALM OIL FREE IS DRIVING THE GLOBAL DEFORESTATION

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

In the last twenty years, the campaign by anti-palm oil NGOs has become more systematic and massive using various taglines such as “No Palm Oil”, “Palm Oil Free”, or “Phase Out Palm Oil” to reduce global consumption of palm oil, as well as the tagline “No Deforestation” to limit palm oil production in producer countries, including Indonesia. Their argument in the campaigns is to stop global deforestation that occurs as a result of the development of palm oil production.

If the global community supports the NGO campaign for “No Palm Oil”, “Palm Oil Free”, or “Phase Out Palm Oil”, it will trigger additional global deforestation of 167 million hectares. Meanwhile, if the global community supports the NGO campaign for “No Deforestation” on the expansion of oil palm plantations so that to meet the global demand for vegetable oil towards 2050 it is replaced by other vegetable oils, then the campaign will trigger global deforestation of 142 million hectares. The additional deforestation was used for the expansion of cropland for soybean, rapeseed, and sunflower. The results of this study indicate that the anti-palm oil NGO campaign could trigger greater global deforestation in the future and at the same time contradict the Sustainable Development Goals.

 

The global community should support palm oil and other vegetable oils to meet global needs, not against palm oil. This is because palm oil is proven to be the most efficient vegetable oil crop in land use, where its productivity reaches 6-10 times the productivity of other vegetable oil crops. Besides that, increasing the productivity of palm oil to 6.5 tonnes of oil/hectare is a solution to the “No Deforestation” campaign to fulfil the high demand for vegetable oil by 2050.

Dalam dua puluh tahun terakhir, kampanye yang dilakukan oleh NGO anti sawit semakin sistematis dan masif dengan menggunakan berbagai tagline seperti “No Palm Oil”, “Palm Oil Free” atau “Phase Out Palm Oil” untuk membatasi konsumsi minyak sawit dunia, serta tagline No Deforestation” untuk membatasi produksi minyak sawit di negara produsen, termasuk Indonesia. NGO tersebut berpendapat dengan melakukan kampanye tersebut sebagai upaya untuk menghentikan deforestasi dunia yang terjadi akibat perkembangan produksi minyak sawit dunia.

Jika masyarakat dunia mendukung kampanye NGO untuk “No Palm Oil”, “Palm Oil Free” atau “Phase Out Palm Oil”, maka akan memicu tambahan deforestasi dunia sebesar 167 juta hektar. Sementara itu, jika masyarakat dunia mendukung kampanye NGO untuk “No Deforestation” pada ekspansi lahan kelapa sawit sehingga untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 digantikan oleh ketiga minyak nabati lainnya, maka kampanye tersebut akan memicu deforestasi dunia seluas 142 juta hektar. Tambahan deforestasi hutan tersebut digunakan untuk ekspansi lahan tanaman kedelai, rapeseed dan bunga matahari. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kampanye yang dilakukan NGO anti sawit tersebut dapat memicu terjadinya deforestasi hutan dunia yang lebih besar ke depan sekaligus bertentangan dengan Sustainable Development Goals.

 

Seharusnya seluruh masyarakat dunia mendukung minyak sawit bersama-sama dengan minyak nabati lainnya untuk memenuhi kebutuhan dunia, bukan sebaliknya memusuhi minyak sawit. Hal ini dikarenakan minyak sawit terbukti merupakan tanaman minyak nabati paling efisien dalam penggunaan lahan, dimana produktivitasnya mencapai 6-10 kali lipat dari produktivitas tanaman minyak nabati lainnya yaitu kedelai, rapeseed dan bunga matahari. Selain itu, peningkatan produktivitas kelapa sawit menjadi 6.5 ton minyak/hektar merupakan solusi atas kampanye “No Deforestation” dalam rangka memenuhi kebutuhan minyak nabati yang tinggi pada tahun 2050.

Download Journal

English Version

Indonesian Version