JOURNAL MONITOR EDITION 32 : PALM OIL INDUSTRY IS NON-EXTRACTIVE INDUSTRY

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

Unlike mining industry, oil and gas industry, logging industry or others industries, who extractive and exploiting natural resources, palm oil industry, especially in the plantation produces palm oil through cultivation process. The process also utilizes good management and science and technology innovation to create higher productivity and more sustainable. The factors are limited land, implementation of the moratorium and the demands of global consumers about the enviromental sustainability, are arguments about increased productivity (intensification) being direction for future development of the national palm oil industry in the upstream sector.

The method of increasing productivity (intensification) which can be achieved in three ways, namely: improvement of technical culture (GAP) with adopting Palm Oil 4.0 packet technology; replanting and a combination of both. The result of third method (combination method) is increasing total factor productivity and become a milestone in advancing the palm oil industry in Indonesia and  and this is very relevant for today, in line with the implementation of moratorium policy, as well as to maintain Indonesia’s position as largest producer in the world.

Another evidence shows that the palm oil industry is non- extractive industry, namely the development of a downstream industry, which is capable to processing palm oil and its biomaterials into products with higher economic added value. Currently, the palm oil-based downstream pathway is divided into three, namely: oleofood complex, oleochemical complex and biofuel complex. Downstreaming is able to create big multiplier effect to improve economy and increase the welfare of the community. Downstreaming is also a method of demand management to handle excess supply and stocks of palm oil in the global market, so stability price can achieved. In addition, through downstream, which is capable of producing palm oil-based downstream products that have high economic value, efficiency, competitiveness and sustainability, it will also strengthen Indonesia’s position as a global player in the world market. In the future, it is hoped that researchs will produce inovations in palm oil-based products from three downstrea, routes, that can be provide solutions to the problems and needs of the global community.

 

Tidak seperti sektor pertambangan, sektor migas, sektor logging atau sektor lain yang bersifat ekstraktif dan mengeksploitasi sumberdaya alam di suatu daerah, sebaliknya industri sawit adalah industri yang non-ekstraktif dan lebih sustainable. Pada tingkat perkebunan, produski minyak sawit diperoleh melalui budidaya. Proses budidaya tersebut juga memanfaatkan manajemen kebun yang baik serta ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi sehingga kinerja produktivitas kebunnya dalam menghasilkan minyak lebih tinggi dan lebih berkelanjutan. Faktor keterbatasan lahan, implementasi moratorium dan tuntutan konsumen global terkait kelestarian lingkungan, menjadi argumen peningkatan produktivitas (intensifikasi) sebagai arah pengembangan industri kelapa sawit nasional ke depan, khususnya di level hulu.

Metode peningkatan produktivitas (intensifikasi) yang dapat dicapai dengan tiga cara yakni: perbaikan kultur teknis (GAP) dengan mengadopsi paket teknologi Sawit 4.0; replanting dan kombinasi keduanya. Metode ketiga adalah metode yang akan menghasilkan peningkatan produktivitas total (total factor productivity) secara berkesinambungan dan menjadi sebuah milestone baru dalam memajukan industri sawit, sekaligus untuk tetap mempertahankan Indonesia posisi Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia.

Bukti lainnya yang menunjukkan industri sawit bukan industri yang ekstraktif yakni pengembangan industri hilir yang mampu mengolah minyak sawit dan biomaterialnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi. Saat ini, jalur hilirisasi sawit terbagi menjadi tiga, yaitu: oleofood complex, oleochemical complex dan biofuel complex. Perkembangan hilirisasi tersebut juga mampu menciptakan multiplier effect yang lebih besar sehingga mampu meningkatkan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi juga merupakan bentuk demand management untuk mengatasi kelebihan stok minyak kelapa sawit di pasar dunia sehingga risiko penurunan harga dapat dikendalikan (stabiliasasi harga). Selain itu melalui hilirisasi yang mampu menghasilkan produk hilir berbasis kelapa sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan akan semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain global dalam pasar dunia. Kedepannya, diharapkan melalui peneltian akan menghasilkan inovasi produk-produk berbasis sawit dari ketiga jalur tersebut yang mampu menjadi solusi untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan masyarakat global.
Download Journal

English Version

Indonesian Version