JOURNAL MONITOR EDITION 5 : INDONESIAN PALM OIL PLANTATION IS NOT A DEFORESTATION DRIVER, BUT REFORESTATION ECONOMIC, SOCIAL, AND ECOLOGY IN ABANDONED LAND

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

Deforestation is a normal phenomenon in every development process that has been carried out by all countries in the world. Deforestation also occurred in Indonesia, which had begun since the colonial period and was increasingly massive during the Orde Baru era. Although deforestation is normal in the development process, this issue has been used to discredit Indonesia’s oil palm plantations which are considered as the main drivers of deforestation in Indonesia.

The black campaign has an impact on the damage to the image of the Indonesian palm oil industry in global consumers until creates of various palm oil derivative’s product boycott movements in various countries. Therefore, this paper will reveal the history of deforestation in Indonesia and the origin of Indonesia’s oil palm plantations based on data and facts.

Indonesia’s forests has decreased areas from 162.3 million hectares in 1950 to 85.8 million hectares in 2017. Otherwise, the area of ​​deforestation has increased from 68.1 million hectares to 101.9 million hectares in same period. If compared with expantion of oil palm plantation, the proportion of the area of ​​oil palm plantations is only 0.4-9.7 percent of the area of ​​deforestation in Indonesia. This shows that oil palm plantations are not the main driver of deforestation in Indonesia.

Based on history of deforestation in the Orde Baru era, was caused by massive logging activities. Massive and intensive logging activities, especially on Sumatra, Kalimantan and Sulawesi during the Orde Baru era, have implication of degraded forest land and turned into abandoned shrubs. Therefore, Orde Baru’s government provides programs to utilize ex-logging land, such as Transmigrasi and the development of oil palm plantations. This was confirmed by Fahmuddin dan Gunarso’s study (2019) which showed that most of the oil palm plantation land came from agroforesty and shrub area, while the share of primary forest used for oil palm plantations was very small.

This study showed confirm the fact about the development of Indonesian oil palm plantations is not the main driver (driver) of deforestation, but is an reforestation. Oil palm plantations have even re-greened the ecological, economic and social aspects of communities damaged by logging in the past. In ecology side, oil palm plantations absorb carbon dioxide, produce oxygen, increase biomass and carbon stocks, conserve soil and water or increase water holding capacity and produce biofuel replacing fossil energy that is reduce carbon dioxide emissions.

 

From an economic aspect, oil palm plantations increase farmers’ incomes, increase regional economic development, increase government revenue, and generate foreign exchange. Whereas socially, oil palm plantations increase employment opportunities, reduce poverty, increase rural development and improve income inequality.

Deforestasi merupakan fenomena normal dalam setiap proses pembangunan yang telah dilakukan oleh seluruh negara di dunia. Deforestasi juga terjadi di Indonesia yang sudah dimulai sejak masa kolonial dan makin masif pada masa Orde Baru. Meskipun deforestasi merupakan hal yang normal dalam proses pembangunan, namun isu ini telah digunakan untuk memojokkan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang dianggap sebagai driver utama dari deforestasi di Indonesia. Pandangan yang keliru tersebut perlu diluruskan agar tidak semakin merusak citra industri minyak sawit Indonesia. Oleh karena itu, perlu diungkap sejarah deforestasi di Indonesia dan asal usul lahan kebun sawit Indonesia berdasarkan data dan fakta.

Hutan Indonesia terus mengalami penurunan luas yakni dari 162.3 juta hektar tahun 1950 menjadi 85.8 juta hektar tahun 2017. Sebaliknya, deforestasi di Indonesia mengalami peningkatan dari 68.1 juta hektar periode tahun 1950-1985 menjadi 101.9 juta hektar pada periode tahun 2000-2017. Jika dibandingkan dengan penambahan luas areal kebun sawit, penambahan luas kebun sawit hanya sebesar 0.4-9.7 persen dari luas deforestasi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kebun sawit bukanlah driver utama dari deforestasi di Indonesia.

Jika melihat sejarah deforestasi khususnya yang terjadi pada masa Orde Baru disebabkan karena aktivitas logging yang masif.  Kegiatan logging yang massif dan intensif khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi pada masa Orde Baru, mengakibatkan banyak lahan hutan yang mengalami degradasi dan berubah menjadi semak belukar yang terlantar. Oleh karena itu, Pemerintah Orde Baru memiliki program untuk memanfaatkan lahan ex-logging misalnya transmigrasi dan pembangunan kebun sawit. Hal tersebut terkonfirmasi dari studi Fahmuddin dan Gunarso (2019) yang menunjukkan bahwa sebagian besar lahan kebun sawit Indonesia berasal dari agroforestry dan lahan semak belukar, sedangkan pangsa penggunaan hutan primer untuk kebun sawit sangat kecil.

Studi tersebut juga semakin menguatkan bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia bukan pemicu utama (driver) deforestasi, namun menjadi sebuah upaya reforestasi. Kebun sawit justru menghijaukan kembali ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat di wilayah yang rusak akibat logging pada masa sebelumnya. Dari segi ekologi antara lain, perkebunan kelapa sawit menyerap karbonsioksida, menghasilkan oksigen, menambah biomas dan stok karbon, konservasi tanah dan air atau meningkatkan kapasitas menahan air dan menghasilkan biofuel pengganti solar yang mengurangi emisi karbon dioksida.

Secara sosial perkebunan kelapa sawit meningkatkan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, meningkatkan pembangunan pedesaan dan memperbaiki ketimpangan pendapatan. Sedangkan secara economi perkebunan kelapa sawit meningkatkan pendapatan petani, peningkatan pembangunan ekonomi daerah, peningkatan penerimaan pemerintah, penghasil devisa.

Download Journal

English Version

Indonesian Version