JOURNAL MONITOR EDITION 40 : PALM OIL PRICES FORECAST: WILL “SKYROCKET” IN 2021?

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian
Even in the pandemic, the palm oil industry has succeeded in providing good performance both in terms of production and domestic consumption. The palm oil industry has also succeeded in establishing itself as a regional economic locomotive and become a major source of export foreign exchange which has succeeded in increasing the trade balance surplus. Besides, the trend of palm oil price (CPO CIFF Rotterdam) has also increased from USD 592 per ton in June to USD 847 per ton in November, which is the highest price since 2015.
The high palm oil prices will continue until the second quarter of 2021 and it is even estimated to reach USD 1000 per ton. This is due to low global palm oil stocks as an implication of the not optimalized of growth production due to bad weather and lower productivy because lack of fertilize used, on the other hand, global demand of palm oil has gradually recovered post-Covid along with industrial activities that are returned normal operations and access of export-import ports are reopened.

This level of palm oil price is beneficial for producers, especially smallholder farmers, but also has the potential to become a boomerang that brings losses due to reduced competitiveness in the global market so that the demand for palm oil will decline. The increase in the price of palm oil will reduce the price difference between palm oil and other vegetable oils (soft oils). This condition has the potential will shifting the demand for palm oil to soft oils such as soybean oil, rapeseed oil and sunflower oil.

Therefore, it is necessary to optimize the absorption of palm oil by the domestic processing industry in an strategy to maintain global stock stability at a certain price level that is still profitable for producers and remains an incentive for importer countries.It can be achieved by optimizing the absorption of palm oil by the domestic processing industry. The implementation of the mandatory B30 policy which is continued in 2021 can be one of a solution because it will increase domestic consumptio, so that the global palm oil price that will be formed is  USD 750-850 per ton.

Meskipun di tengah pandemi, industri sawit berhasil memberikan good perfomance baik dari aspek produksi maupun aspek konsumsi dalam negeri. Industri sawit juga berhasil mengukuhkan diri sebagai lokomotif ekonomi daerah hingga mampu menjadi sumber utama devisa ekspor yang berhasil meningkatkan surplus neraca perdagangan. Selain itu, tren harga minyak sawit (CPO CIFF Rotterdam) juga mengalami peningkatan yakni dari USD 592 per ton pada Juni menjadi USD 847 per ton pada November, dimana tingkat harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015.
Tren harga minyak sawit yang relatif tinggi diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga kuartal kedua tahun 2021, bahkan diperkirakan mencapai USD 1000 per ton. Hal ini dikarenakan rendahnya stok minyak sawit global masih berlanjut sebagai implikasi dari pertumbuhan produksi minyak sawit yang tidak optimal akibat pengaruh cuaca buruk dan penurunan produktivitas akibat rendahnya penggunaan pupuk, di sisi lain permintaan minyak sawit yang berangsur pulih pasca-Covid seiring dengan aktivitas industri yang kembali beroperasi normal dan akses pelabuhan ekspor-impor kembali terbuka.

Tingkat harga minyak sawit yang tinggi menguntungkan bagi produsen khususnya petani sawit rakyat, namun juga berpotensi menjadi boomerang yang membawa kerugian akibat berkurangnya daya saing di pasar global sehingga permintaan minyak sawit akan mengalami penurunan. Kenaikan harga minyak sawit akan menurunkan selisih harga minyak sawit dengan minyak nabati lainnya (soft oils). Kondisi ini berpotensi bergesernya permintaan minyak sawit ke soft oils seperti minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari.

Oleh karena itu, perlu optimalisasi penyerapan minyak sawit oleh industri pengolahan di dalam negeri sebagai strategi untuk menjaga stabilitas stok minyak sawit global pada tingkat harga tertentu yang masih menguntungkan bagi produsen dan tetap menjadi insentif bagi negara importir. Hal tersebut dapat dilakukan dengan optimalisasi penyerapan minyak sawit oleh industri pengolahan di dalam negeri. Implementasi kebijakan mandatori B30 yang dilanjutkan pada tahun 2021 dapat menjadi salah satu solusi, karena akan meningkatan konsumsi domestik sehingga harga minyak sawit global yang akan terbentuk sekitar USD 750-850 per ton.

Download Journal

English Version

Indonesian Version