JOURNAL MONITOR VOL.2 NO.23 POLICY AND MULTI-BENEFIT OF OIL PALM REPLANTING

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

8
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

As a vegetable oil that is used by the entire global community, the demand for palm oil is very large and is expected to continue to increase in the future. On the other hand, extensification to increase the production of palm oil faces the limitations of suitable land, both to maintain a balance of land needs between sectors and to prevent deforestation. Therefore, increasing productivity is the best option to increase palm oil production through replanting.

Replanting is a way to increase productivity sustainbly and is a gateway for better technology and management, so that oil palm plantations can reach a higher quality. Basically, replanting is part of a company’s routine activities for plantations. However, in its implementation in smallholder plantations, it often encounters obstacles due to their limitations. Therefore, the Government of Indonesia issued the Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) program to support the implementation of replanting in smallholder oil palm plantations. The two policies related to the PSR program are the Institutional Policy and Governance and the Financing Policy with the source of financing from palm oil levy funds.

 

The increase in palm oil productivity as a result of the replanting will make an additional production of palm oil of around 52 million tons without area expansion by 2050. In addition, it will also produce multiple benefits, both economic benefits, social benefits, and ecological benefits that can be enjoyed by smallholders, regional, national, and global.

However, the realization of replanting is still low. Because there are still many obstacles faced by smallholders, including land legality and bureaucratic of process. These problems must be resolved more seriously and in the near future so that the acceleration of the PSR program can be achieved.

Sebagai minyak nabati yang digunakan oleh seluruh masyarakat global, kebutuhan minyak sawit sangat besar dan diperkirakan akan terus meningkat di masa depan. Di sisi lain, ekstensifikasi untuk meningkatkan produksi minyak sawit menghadapi keterbatasan lahan yang sesuai baik untuk menjaga keseimbangan kebutuhan lahan antar sektor, maupun untuk mencegah terjadinya deforestasi. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas menjadi opsi terbaik untuk meningkatkan produksi minyak sawit yang dapat tercapai melalui replanting.

Replanting merupakan cara peningkatan produktivitas yang lebih sustainable dan menjadi jalan masuk teknologi dan manajerial yang lebih baik sehingga kebun sawit lebih berkualitas. Replanting pada dasarnya merupakan bagian dari kegiatan korporasi rutin bagi perkebunan. Namun, dalam pelaksanaannya di perkebunan sawit rakyat sering menghadapi hambatan karena keterbatasan petani sawit rakyat. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk mendukung pelaksanaan replanting di perkebunan sawit rakyat.

 

Peningkatan produktivitas minyak sawit yang dihasilkan akibat replanting kebun sawit akan menghasilkan produksi minyak sawit dengan tambahan produksi sekitar 52 juta ton tanpa perluasan areal menuju tahun 2050. Selain itu, juga akan menghasilkan multimanfaat baik manfaat ekonomi, manfaat sosial dan manfaat ekologi yang dapat dinikmati baik level petani, daerah, nasional dan global.

Namun, realisasi replanting hingga saat ini masih rendah. Hal ini dikarenakan masih banyaknya hambatan yang dihadapi oleh petani sawit diantaranya legalitas lahan petani dan verifikasi usulan PSR yang birokratis. Masalah tersebut harus segera diselesaikan lebih serius dan dalam waktu dekat sehingga akselerasi program PSR dapat tercapai.

 

Download Journal

English Version

Indonesian Version