JOURNAL MONITOR EDITION 24 : MANAGEMENT IN ONE AREA AND THE ENERGY BASIS BECOMES A SOLUTION OF STRENGTHENING SMALLHOLDER’S PALM OIL FARMERS

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

8
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

Smallholder farmers through their role as one of the important actors in the national palm oil plantation and industry, have contributed greatly to the regional and national economy. Even through its quite revolutionary development, they have also helped Indonesia to become the world’s largest producer of palm oil and the world’s largest producer of vegetable oil. However, they also have to face various problems such as limited capital and access, low FFB prices received by independent oil palm farmers, remote access between independent oil palm plantations and Palm Oil Mill, unresolved issues of land legality and plantation business (STDB).

The solution to the problems faced by smallholder oil palm farmers is to strengthen the role of farmers through participation in the downstream palm oil industry, namely the development of Palm Oil Mill which supplies CPO as raw material for biohydrocarbon products to be used to fulfill national needs and in order to manifest national energy independence. However, the management of the Bio-hydrocarbon Palm Oil Mill cannot be done individually and requires cooperation between oil palm farmers in the form of a corporation.

The management of oil palm plantations in this area aims to change farmers who initially work individually to work in a “corporation”. The management in one area is farmers who have oil palm plantations with an area of three thousand hectares, so the oil palm farmers in them can cooperate with each other in cooperative management of oil palm plantations in form like Cooperatives, BUMDesa or Limited Liability Company (PT/CV) and also will be be integrated with a holding  in province. The institution of oil palm farmers in the area in managing Bio-hydrocarbon Palm Oil Mill is also supported by other units such as the microfinance institution unit, the production facility procurement unit (input), the palm biomass-based business unit and the store unit.

Biohydrocarbon Palm Oil Mill, which is located near and in the farmer area, with capacity of 10 tons of FFB/hour. This mill can process FFB to Industrial Palm Oil (IPO) and Industrial Palm Kernel Oil (IPKO) as a raw material for biohydrocarbon. The IPO/IPKO will be accommodated by the provincial level holding, then the holding will distribute the IPO/IPKO to the Stand-alone refinery which has to produce pure biofuels. And then will be distributed again to the Pertamina Depot’s Co-processing refineries at the provincial level for blending with fossils which will then be distributed to petrol stations

With the management of smallholder oil palm plantations in the area with the model above, besides being able to solve the problems faced by oil palm farmers and in the context of realizing national energy independence, it is also expected to be able to increase income and welfare and create economic independence for oil palm farmers in a sustainable manner to create a greater multiplier effect on regional and national economy.

Rakyat melalui perannya sebagai salah satu aktor penting dalam perkebunan dan industri sawit nasional telah berkontribusi besar terhadap perekonomian regional dan nasional. Bahkan melalui perkembangannya yang cukup revolusioner, perkebunan sawit rakyat juga telah membantu Indonesia untuk menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sekaligus produsen minyak nabati terbesar di dunia. Namun, petani sawit rakyat harus menghadapi berbagai masalah seperti keterbatasan modal dan akses, rendahnya harga TBS yang diterima oleh petani sawit swadaya, jauhnya akses antara kebun sawit swadaya dengan PKS, belum terselesaikannya masalah legalitas lahan dan usaha perkebunan (STDB).

Solusi dari masalah yang dihadapi oleh petani sawit rakyat adalah dengan cara memperkuat peran petani melalui partisipasi dalam industri hilir sawit yakni pengembangan PKS yang menyuplai CPO sebagai bahan baku produk biohidrokarbon yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan nasional dan dalam rangka mewujukan kemandirian energi nasional. Namun, pengelolaan PKS Biohidrokarbon tersebut tidak bisa dilakukan individualistik dan membutuhkan kerjasama antara petani sawit dalam bentuk koorporasi.

Pengelolaan kebun sawit sekawasan ini bertujuan untuk merubah petani yang pada awalnya bekerja secara individualistik menjadi bekerja dalam suatu “korporasi”. Sekawasan yang dimaksud adalah petani yang memiliki kebun sawit dengan luas sebesar tiga ribu hektar, maka petani sawit di dalamnya dapat saling berkerjasama dalam pengelolaan kebun sawit secara kooperasi baik dalam bentuk koperasi, BUMDesa atau PT/CV, serta akan terintegrasi dalam sebuah holding di tingkat provinsi. Saham kelembagaan petani sawit sekawasan ini dimiliki oleh seluruh anggotanya. Kelembagaan petani sawit sekawasan dalam mengelola PKS Biohidrokarbon juga didukung oleh unit-unit lain seperti unit lembaga keuangan mikro, unit pengadaan sarana produksi (saprodi), unit usaha berbasis biomassa sawit dan unit toserba.

PKS Biohidrokarbon berada dekat dalam kawasan petani dengan kapasitas sebesar 10 ton TBS/jam. PKS ini akan mengolah TBS petani sawit menjadi Industrial Palm Oil (IPO) dan Industrial Palm Kernel Oil (IPKO) sebagai bahan baku biohidrokarbon. IPO/IPKO tersebut akan ditampung oleh holding tingkat provinsi, selanjutnya holding tersebut yang  menyalurkan IPO/IPKO kepada kilang Stand-alone yang menghasilkan bahan bakar nabati murni.  Dan selanjutnya akan kembali disalurkan ke kilang Co-processing milik Depo Pertamina di tingkat provinsi untuk selanjutnya dilakukan blending dengan fosil yang selanjutnya akan didistribusikan kepada pom bensin.

Dengan pengelolaan perkebunan sawit rakyat sekawasan dengan model diatas selain dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh petani sawit dan dalam rangka mewujudkan kemandirian energi nasional, namun diharapkan juga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta menciptakan kemandirian ekonomi petani sawit secara berkelanjutan hingga menciptakan multiplier effect yang lebih besar terhadap perekonomian daerah dan nasional.
Download Journal

English Version

Indonesian Version