JOURNAL MONITOR EDITION 12 : SUSTAINABLE OIL PALM PLANTATIONS ARE ABLE TO RESTORE AND REDUCE PEATLAND EMISSION

Journal Details

Journal Pages Number

Journal Document Type

Available Language

6
PDF
Indonesian, English

Abstract

  • English
  • Indonesian

At present, greenhouse gas emissions as a cause of global warming and climate change have become a problem and are drawing widespread attention from the international community. So many parties are competing to find the root of the problem to get solutions in order to reduce greenhouse gas emissions. One of them is the study of Olivier et al. (2020) who identified the source of earth’s GHG emissions and found carbon emissions as the largest source of GHG emissions. These carbon emissions are not only generated from the fossil energy sector but also from the clearing (conversion of function) of carbon-rich land stock (High Carbon Stock).

Peatland especially in the tropics (tropical peatland) consist of organic components of wood residues or weathered plant parts that are very rich in carbon stocks and become an important carbon cycle for nature. Carbon stored in peatland can be lost from peatland either in the form of gas to emission of carbon dioxide (CO2) and methane (CH4) or dissolved organic carbon. Making drainage on peatland in the context of land use change causes the process of peat decomposition, where this process is the largest source of CO2 emissions from peatland.

The argument underlying environmentalists and anti-palm NGOs criticizes the use of peatland for oil palm cultivation. The conversion of peatland functions is considered to have an impact on increasing GHG emissions which causes global warming and climate change which is getting worse. The NGO allegations are wrong, because the presence of oil palm plantations on peatland is part of peat restoration while at the same time reducing peatland GHG emissions.

In addition to providing economic social benefits, oil palm plantations also contribute to adding peat biomass that sustainably. Study of Sabiham (2013) showed that the carbon stock of peatland is increasing with increasing age of oil palm plants, even the carbon stock in mature oil palm plantations on peatland is higher than the carbon stock of secondary peat forests (degraded peatland).

Many studies have also proven that GHG emissions produced by oil palm plantations cultivated on peatland are around 31.4-57 tons CO2/hectare/year, or lower than the GHG emissions of secondary peat (degraded peat land) which reach 127 tons CO2/hectare/year. The IPCC study (2014) also stated that emissions from the peat decomposition process produced by oil palm plantations were 40 t CO2/ha/year, lower than emissions from the peat decomposition process produced by plantations on peatland and agriculture on peatland both moor or mixed (agroforestry) reached 51 t CO2/ha/year.

These empirical facts become evidence that the allegations of anti-palm NGOs against oil palm plantations on peatland are untrue. Oil palm plantations on peatland do not cause an increase in peatland greenhouse gas emissions, and on the contrary the oil palm plantations reduce peatland greenhouse gas emissions. With proper sustainable cultivation carried out on peatland, it will produce oil palm plantations which are part of the development of economically, ecologically and socially sustainable in Indonesia.

Saat ini, emisi gas rumah kaca sebagai penyebab dari pemanasan global dan perubahan iklim telah menjadi masalah dan menyedot perhatian luas dari masyarakat internasional. Sehingga banyak pihak berlomba-lomba untuk mencari akar masalah untuk mendapatkan solusi dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satunya adalah studi Olivier et al. (2020) yang mengidentifikasi sumber emisi GRK bumi dan menemukan emisi karbon sebagai sumber emisi GRK terbesar. Emisi karbon tersebut tidak hanya dihasilkan dari sektor energi fosil tetapi juga dari pembukaan (alih fungsi) lahan kaya karbon stok (High Carbon Stock).

Lahan gambut khususnya di wilayah tropis (tropical peatland) terdiri dari komponen organik sisa kayu atau bagian tumbuhan yang lapuk yang sangat kaya dengan stok karbon dan menjadi siklus karbon yang penting bagi alam. Karbon tersimpan pada lahan gambut dapat hilang dari lahan gambut baik dalam bentuk gas menjadi emisi bentuk karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) maupun bentuk terlarut (dissolved organic carbon). Pembuatan drainase pada lahan gambut dalam rangka alih fungsi lahan menyebabkan terjadinya proses dekomposisi gambut, dimana proses ini menjadi sumber emisi CO2 terbesar dari lahan gambut.

Argumen tersebut yang melatarbelakangi LSM pecinta lingkungan dan LSM anti sawit  mengkritik pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit. Alih fungsi lahan gambut ini dianggap akan berdampak peningkatan emisi GRK yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim yang semakin parah. Tuduhan LSM tersebut keliru, karena kehadiran perkebunan sawit di lahan gambut merupakan bagian dari restorasi gambut sekaligus dapat menurunkan emisi GRK lahan gambut.

Selain memberikan manfaat sosail ekonomi, kebun sawit juga hadir berkontribusi untuk menambahkan biomassa gambut secara berkelanjutan. Studi Sabiham (2013) menunjukkan bahwa stok karbon bagian atas lahan gambut makin meningkat dengan makin bertambahnya umur tanaman kelapa sawit, bahkan stok karbon pada kebun kelapa sawit berumur dewasa di lahan gambut lebih tinggi dibandingkan dengan stok karbon hutan gambut sekunder (degraded peat land).

Banyak penelitian juga telah membuktikan bahwa emisi GRK yang dihasilkan oleh kebun sawit yang dibudidayakan di lahan gambut yakni berkisar 31.4-57 ton CO2/hektar/tahun, atau lebih rendah dibandingkan dengan emisi GHG gambut sekunder (degraded peat land) yang mencapai 127 ton CO2/hektar/tahun. Studi IPCC (2014) juga menyebutkan bahwa emisi dari proses dekomposisi gambut yang dihasilkan oleh perkebunan sawit sebesar 40 t CO2/ha/tahun, lebih rendah dibandingkan dengan emisi dari proses dekomposisi gambut yang dihasilkan oleh hutan tanaman pada lahan gambut dan pertanian pada lahan gambut baik tegalan maupun campuran (agroforestry) yang mencapai 51 t CO2/ha/tahun.

Fakta – fakta empiris tersebut menjadi bukti bahwa tuduhan LSM anti sawit terhadap perkebunan kelapa sawit di lahan gambut adalah tidak benar. Perkebunan kelapa sawit di lahan gambut tidak menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca gambut, dan justru sebaliknya kebun kelapa sawit tersebut menurunkan emisi gas rumah kaca lahan gambut. Dengan budidaya berkelanjutan yang tepat dilakukan pada lahan gambut maka akan menghasilkan perkebunan sawit yang menjadi bagian pembangunan ekonomi, ekologi dan sosial yang berkelanjutan di Indonesia.

 

Download Journal

English Version

Indonesian Version