LOGO PASPI WEB

Sawit Dan Manfaatnya Dalam Pembangunan Ekonomi, Sosial Dan Lingkungan

Penulis : Sindi Auran
Mahasiswa Politeknik LPP Yogyakarta
Politeknik LPP Yogyakarta

SAWIT, yaaa pasti kita sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis, Jack ) berasal dari Afrika, Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal menggunakan nama oil palm. Tanaman kelapa sawit memiliki bentuk menyerupai pohon kelapa. Di Indonesia, tanaman kelapa sawit termasuk tumbuhan pendatang. Pohon kelapa sawit sendiri di Indonesia sudah mulai dikenal sejak sebelum perang global ke 2. Kelapa sawit dibudidayakan pada bentuk usaha perkebunan akbar. Peninggalan perkebunan kelapa sawit waktu itu banyak terdapat di Sumatera Utara. Dan sekarang tumbuhan kelapa sawit banyak sekali dikembangkan khususnya di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. 

Kelapa sawit menyukai tanah yang fertile dan daerah terbuka. Bunga dan buahnya berupa tandan, dan memiki cabang yg banyak. Buahnya mungil. Bila masak akan berwarna merah kehitaman. Daging buahnya pun padat. Daging dan kulit buahnya mengandung banyak minyak. Pohon kelapa sawit bisa mencapai tinggi sampai 24 meter. Kelapa sawit berkembang biak dengan biji dan bisa tumbuh fertile pada wilayah tropis. tanaman ini mulai berbuah sekitar umur 5 – 6 tahun, tetapi beberapa jenis yang akan terjadi persilangan dapat berbuah selesainya berumur 36 bulan atau kurang lebih tiga tahun. Kelapa sawit bisa menghasilkan butir hingga umur 60 tahun. akibat buah per pohon setiap panen mampu mencapai 50 – 60 kilogram.

Hampir semua bagian pohon kelapa sawit dapat dijadikan bahan standar industri, dari buah kelapa sawit dapat diperoleh minyak buat bahan standar industri pangan juga non pangan. Buah kelapa sawit juga membentuk sabut buat industri bubur kertas (pulp), dinding partisi (particle board), atau dibakar menjadi tenaga yang bisa dimanfaatkan buat menggerakan mesin pada pabrik pengolahan kelapa sawitnya sendiri. Begitu juga sludge atau lumpur endapan residu bahan olah, yg diperoleh berasal ampas setelah minyak sawit diambil, masih bisa digunakan buat bahan standar industri pupuk atau dijadikan pakan ternak. Minyak sawit juga dapat digunakan menjadi bahan utama biodiesel atau bahan bakar botani pengganti minyak solar. Itulah mengapa pohon kelapa sawit disebut pohon seribu manfaat.

Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia meningkat dari 11,20 juta hektar pada tahun 2016 menjadi 12,76 juta hektar pada tahun 2018. Peningkatan luas areal juga diimbangi dengan peningkatan produksi minyak kelapa sawit. Produksi minyak sawit dan inti sawit pada tahun 2018 tercatat sebesar 48,68 juta ton, yang terdiri dari 40,57 juta ton crude palm oil (CPO) dan 8,11 juta ton palm kernel oil (PKO).

Jumlah produksi tersebut berasal dari Perkebunan Rakyat sebesar 16,8 juta ton (35 persen), Perkebunan Besar Negara sebesar 2,49 juta ton (5 persen,) dan Perkebunan Besar Swasta sebesar 29,39 juta ton (60 persen). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) juga mencatat, 70 persen dari produksi sawit 2018 dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dan 30 persen sisanya untuk konsumsi dalam negeri. Nilai sumbangan devisa minyak kelapa sawit Indonesia sepanjang 2018 mencapai US$20,54 miliar atau setara Rp 289.

Kontribusi sub sektor perkebunan khususnya kelapa sawit terhadap perekonomian nasional diharapkan semakin meningkat memperkokoh pembangunan perkebunan secara menyeluruh. Industri kelapa sawit di Indonesia dibangun dengan pendekatan yang memprioritaskan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan, yang telah diatur secara khusus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Dalam RPJMN 2020-2024, pembangunan berkelanjutan telah ditetapkan sebagai salah satu aspek pengarusutamaan, yang bertujuan untuk memberikan akses pembangunan yang adil dan inklusif, serta menjaga lingkungan hidup, sehingga mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui pendekatan tersebut, Pemerintah Indonesia yakin bahwa pembangunan kelapa sawit berkelanjutan berkontribusi signifikan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Bapak Presiden Joko Widodo juga memberikan arahan dalam upaya mengakselerasi pembangunan kelapa sawit berkelanjutan, telah diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, yang biasa dikenal dengan Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO. Peraturan ini mewajibkan seluruh tipe usaha kelapa sawit yaitu Perkebunan Besar Negara, Perkebunan Besar Swasta dan Perkebunan Rakyat Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi ISPO, sebagai jaminan bahwa praktik produksi yang dilakukan telah mengikuti prinsip dan kaidah keberlanjutan.

Kelapa Sawit Selain jadi penyumbang devisa, industri kelapa sawit juga menyediakan lapangan pekerjaan yang besar. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pada 2019, 59 persen perkebunan kelapa sawit dikelola perusahaan dan 41 persen dimiliki masyarakat. Perkebunan kelapa sawit yang dikelola masyarakat telah menyediakan 2,3 juta lapangan pekerjaan. Pengembangan perkebunan di pedesaan juga telah membuka peluang kerja bagi masyarakat yang mampu untuk menerima peluang tersebut. Dengan adanya perusahaan perkebunan, mata pencaharian masyarakat tempatan tidak lagi terbatas pada sektor primer dalam memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi telah memperluas ruang gerak usahanya pada sektor tersier.

Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), menurut definisi Organisasi Pangan dan Agrikultur) merupakan sebuah pengelolaan dan konservasi sumber daya alam yang bertujuan menjamin keberlanjutan sumber daya lahan, air, serta sumber genetik tanaman dan hewan yang dilakukan dengan baik dan layak secara ekonomi dan sosial. Perspektif sustainability di atas berlandaskan pada teori multifungsi pertanian, yang mencakup empat fungsi, yakni salah satunya adalah green function. Fungsi hijau (green functions) terdiri atas pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas bentang alam, pengelolaan satwa liar, penciptaan habitat satwa liar, serta kesejahteraan hewan, pemeliharaan keanekaragaman hayati, perbaikan daur ulang hara, dan pembatasan penyerap karbon.

Dengan demikian, perkebunan kelapa sawit (industri hilirnya) merupakan bentuk dan cara pemanfaatan serta pelestarian multifungsi yang melekat pada perkebunan kelapa sawit tersebut secara lintas generasi. Melalui pembudidayaan tanaman kelapa sawit (perkebunan kelapa sawit), fungsi ekonomi, fungsi sosial, dan fungsi ekologis tersebut tidak hanya dinikmati oleh generasi sekarang, tetapi juga oleh generasi yang akan datang. Bahkan, pelestarian biodiversity melalui pembudidayaan merupakan cara yang efektif dan berdaya guna.

Perkebunan kelapa sawit secara built-in memiliki kontribusi di dalam berbagai aspek kehidupan misalnya ekonomi, sosial, dan lingkungan yang tidak dimiliki oleh sektor-sektor lain di luar pertanian. Manfaat kelapa sawit dalam aspek ekonomi dapat kita lihat dari sumber devisa yakni sebagai penghasil devisa terbesar juga meningkatkan pendapatan petani. Tidak hanya pelaku sawit saja, kue ekonomi juga diberikan ke pelaku non sawit yang menyediakan barang atau jasa kebutuhan di sekitar perkebunan sawit.

Dalam aspek sosial budaya juga dapat dilihat dari pengurangan kemiskinan serta perannya dalam pembangunan pedesaan. Dalam aspek lingkungan menurut beberapa penelitian bahwa perkebunan kelapa sawit dapat merestorasi degraded land, konservasi tanah dan air, peningkatan biomassa dan karbon stok lahan bahkan mengurangi emisi gas rumah kaca dan restorasi lahan gambut. Kemudian mencakup juga pelestarian oksigen dan karbon dioksida, yakni menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi yang dikeluarkan (sebagai polusi) oleh masyarakat dunia dan kegiatannya (BBM dan fosil) melalui fotosintesis dan menghasilkan oksigen ke atmosfer bumi, maka semakin luas perkebunan kelapa sawit juga dapat menyerap karbon dioksida secara lebih luas lagi.

Kelestarian multifungsi perkebunan kelapa sawit Indonesia juga dinikmati masyarakat dunia, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Hampir semua negara di seluruh dunia menikmati manfaat ekonomi/konsumsi produk oleopangan dan oleokimia melalui perdagangan internasional. Sebagai satu ekosistem global, masyarakat internasional juga menikmati jasa kelestarian siklus karbon dioksida, oksigen, dan air yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit. Secara empiris fungsi ekonomi dari industri minyak sawit telah banyak dibuktikan berbagai ahli, antara lain sumber devisa dan pendapatan negara, pembangunan ekonomi daerah, serta peningkatan pendapatan petani.

Share artikel

5 105 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
106 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Ivori
Ivori
26/06/2022 7:14 AM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

Good !!!!!!

Uus
Uus
26/06/2022 9:53 AM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

Informatif sekali artikelnya, terimakasih

FITRAH HARAHAP
FITRAH HARAHAP
26/06/2022 12:17 PM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

Pastinya sawit akan memberikan fungsi ekonomi dengan baik bagi para petani. Dengan keberlanjutan yang saling menguntungkan terhadap pembangunan serta ekonomi daerah

Aisyah Khairani
Aisyah Khairani
27/06/2022 5:17 AM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

Artikel yang sangat bermanfaat bagi pembaca,sukses kedepannya

Eldy Rozyan
Eldy Rozyan
27/06/2022 10:34 AM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

Yang pasti kedepannya sawit sangat berguna bagi masyarakat..dan juga bisa mengsejahterakan para petani pekebun kelapa sawit

106
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
MARI BERLANGGANAN PASPI NEWSLETTER