Minyak Sawit vs 3 Minyak Nabati Dunia [INFOGRAFIS 2024]

Bagikan Berita
12a. Minyak Sawit Sustainable scaled

Diantara 17 minyak dan lemak (edible oils) yang diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat dunia sebagai bahan pangan maupun energi. Namun dari ketujuh belas jenis minyak nabati tersebut, hanya terdapat empat jenis minyak nabati utama dunia yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Keempat jenis minyak nabati tersebut mencakup sekitar 90 persen volume produksi dan konsumsi minyak nabati dunia.


Minyak Sawit adalah Minyak Nabati Favorit Dunia

Selanjutnya diantara Top-4 minyak nabati dunia tersebut, minyak sawit tercatat sebagai minyak nabati yang mendominasi produksi dan konsumsi dunia. Meskipun perkebunan sawit baru mulai dikomersialisasikan pada tahun 1970-1980an dan mencapai pertumbuhan produksi yang revolusioner di awal tahun 2000-an, namun minyak sawit berhasil menggeser dominasi minyak kedelai yang telah “merajai” pasar minyak nabati dunia sejak satu abad yang lalu.


Gerakan Anti Sawit Internasional

Seperti peribahasa “semakin tinggi pohonnya, semakin kencang angin menerpa”, cocok menggambarkan dinamika minyak sawit. Dibalik prestasi sebagai minyak nabati utama dunia, minyak sawit menghadapi banyak tudingan, isu negatif, black campaign hingga gerakan anti sawit yang banyak diinisiasi oleh masyarakat di negara-negara barat. Dinamika ini menggambarkan persaingan non-harga antara minyak sawit versus minyak nabati lainnya.

Pada tahun 1980-an, narasi isu yang digunakan oleh pesaing (produsen minyak nabati lainnya) untuk “menjegal” minyak sawit dengan menggunakan isu kesehatan yakni minyak sawit mengandung kolesterol. Persepsi negatif tersebut dikampanyekan oleh American Soybean Association (ASA) dengan tujuan dibalik kampanye tersebut adalah untuk melarang impor minyak sawit ke pasar Amerika. Kampanye tersebut berhasil dipatahkan oleh para peneliti/ilmuwan negara-negara produsen minyak sawit dengan argumen minyak sawit tidak mengandung kolesterol karena diproduksi oleh tanaman karena kolesterol hanya terdapat pada hewan dan manusia. Meskipun banyak studi empiris mutakhir yang semakin menguatkan argumen tersebut, namun persepsi minyak sawit mengandung kolesterol masih melekat pada masyarakat global, termasuk masyarakat Indonesia.


Studi Empiris Internasional Berpihak Pada Sawit

Setelah berhasil dipatahkan dengan menggunakan data dan fakta berbasis studi empiris, NGO trans-nasional yang dimotori oleh negara-negara produsen minyak sawit kembali menyebarluaskan black campaign sawit dengan menggunakan isu lingkungan. Minyak sawit dianggap tidak berkelanjutan dan kegiatan produksi-konsumsinya dituding sebagai penyebab utama berbagai kerusakkan lingkungan yang terjadi di dunia.

Sebaliknya, berbagai studi empiris menunjukkan bahwa minyak sawit relatif lebih sustainable jika dibandingkan minyak nabati lainnya. Tanaman kelapa sawit memiliki keunggulan yakni tingginya produktivitas. Produktivitas minyak per hektar pada tanaman kelaoa sawit sekitar 8-10 kali produktivitas tanaman minyak nabati lainnya (minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari). Implikasinya kebutuhan lahan untuk memproduksi minyak sawit lebih sedikit dibandingkan minyak nabati lainnya. Untuk memproduksi 1 ton minyak, tanaman kelapa sawit hanya membutuh lahan seluas 0.3 hektar. Sedangkan lahan yang dibutuhkan untuk memproduksi minyak bunga matahari, minyak rapeseed, dan minyak kedelai berturut-turut seluas 1.3 hektar, 1.4 hektar, dan 2.1 hektar. 

Jika diasumsikan lahan yang digunakan untuk proses produksi minyak nabati berasal dari deforestasi, maka produksi minyak sawit jauh lebih hemat deforestasi dibandingkan minyak nabati lain. Hal ini juga berarti bahwa kehadiran minyak sawit dapat mencegah deforestasi dunia lebih luas dalam menghasilkan minyak nabati dunia.

Studi empiris lain juga mengungkapkan keunggulan minyak sawit berkaitan dengan sustainability. Misalnya studi Beyer et al. (2020) dan Beyer & Rademacher (2021) menemukan bahwa emisi karbon dari produksi minyak sawit lebih rendah dibandingkan minyak nabati lainnya. Kedua studi tersebut juga mengungkapkan bahwa biodiversity loss dari produksi minyak sawit jauh lebih kecil dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Studi FAO (2013) juga menemukan bahwa produksi minyak sawit menghasilkan polutan (residu pestisida dan pupuk) yang relatif sedikit dibandingkan minyak rapeseed dan minyak kedelai. 


Tidak Ada Minyak Nabati Tanpa Deforestasi

Proses produksi setiap jenis minyak nabati (termasuk minyak sawit) di berbagai negara produsen memang tetap terkait dengan deforestasi, biodiversity loss, emisi, dan polutan. Jika ingin mencari minyak nabati yang bebas deforestasi, biodiversity loss, emisi, dan polutan, tidak akan pernah ditemukan dalam dunia nyata (tidak realistis). Sehingga argumennya bukan lagi mencari yang “bersih” tanpa terkait dengan isu-isu lingkungan tersebut, namun argumennya mengarah pada pertanyaan minyak nabati apa yang secara relatif lebih hemat deforestasi dan emisi. Jawabannya adalah minyak sawit.

Keunggulan minyak sawit tersebut yang relatif lebih sustainable akan terus ditingkatkan melalui perbaikan di semua rantai proses produksi. Komitmen tersebut tercermin dari pemenuhan sertifikasi berkelanjutan ISPO dan RSPO (maupun sertifikasi lainnya). Bahkan melalui Perpres ISPO, komitmen sustainability menjadi kewajiban (mandatori) pada level pelaku on farm baik korporasi maupun petani rakyat. Bahkan awareness tersebut sudah diarahkan pada rantai industri hilir sawit di Indonesia, meskipun saat ini belum ada regulasi yang diterbitkan dan disosialisasikan kepada masyarakat terkait ISPO pada produk jadi (hilir sawit).  

Bagikan Berita
0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x