[Jurnal 2024] HARMONI KEBUN SAWIT, SATWA LIAR, DAN PERKOTAAN DI INDONESIA

Harmoni sawit dan satwa liar

Perkebunan sawit dituding sebagai penyebab biodiversity loss. Merujuk pada sistem tata ruang yang diadopsi menunjukkan bahwa Indonesia menjaga harmoni keseimbangan ruang nasional, termasuk di dalamnya kawasan budidaya (sektor perkotaan dan pertanian/perkebunan sawit) dan kawasan konservasi/lindung. Pengembangan perkebunan sawit (dan sektor perkotaan) berada di luar kawasan hutan lindung (sebagai habitat biodiversitas). Di sisi lain, kehadiran kebun sawit di kawasan pedesaan berpotensi berkontribusi pada pelestarian satwa liar melalui peningkatan pendapatan dan penurunan kemiskinan masyarakat di kawasan pedesaan, program CSR perusahaan perkebunan sawit, dan fungsi mekanisme konservasi biodiversitas.

BENARKAH DEFORESTASI GLOBAL MENJADI PENYEBAB UTAMA PERUBAHAN IKLIM GLOBAL?

Kontribusi Deforestasi Global dan LULUCF pada emisi GRK Global

Deforestasi global bukan kontributor utama dalam emisi GRK global. Hal ini juga menunjukkan bahwa deforestasi bukan driver utama pemanasan global dan perubahan iklim global. Oleh karena itu, pengkaitan deforestasi dengan perdagangan komoditas internasional dengan argumen pengendalian perubahan iklim global sebagaimana dilakukan Uni Eropa, tidak memiliki dasar ilmiah dan data yang kuat.

DISKRIMINASI SAWIT EUDR POTENSIAL MELANGGAR PRINSIP WTO

DISKRIMINASI SAWIT EUDR POTENSIAL MELANGGAR PRINSIP WTO

Kebijakan EUDR melarang minyak sawit dan produk turunannya (serta enam komoditi lainnya dan masing-masing produk turunannya) yang berkaitan dengan deforestasi untuk masuk ke pasar Uni Eropa. Kebijakan tersebut berlaku untuk komoditi/produk impor atau yang dihasilkan negara lain di luar kawasan EU. Hal ini menunjukkan bahwa EU secara implisit memandang deforestasi hanya terjadi pada negara-negara produsen komoditas tersebut. Padahal deforestasi merupakan fenomena normal dari proses pembangunan yang terjadi pada hampir semua negara di dunia sejak awal peradaban hingga saat ini, termasuk di daratan Eropa.

[Jurnal 2023] KEUNGGULAN PERKEBUNAN SAWIT DALAM CARBON SINK DAN PRODUKSI MINYAK HEMAT EMISI

Kemampuan tanaman sawit dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi (carbon sink) bahkan lebih besar dibandingkan kemampuan hutan maupun tanaman hutan lainnya

Gerakan anti-sawit atau kebijakan yang mendiskriminasi minyak sawit tersebut dinilai salah sasaran. Publikasi FAO (2022, 2023) mengungkapkan bahwa peternakan dan budidaya padi menjadi sub-sektor utama penghasil emisi GRK pada sektor pertanian global. Publikasi tersebut juga menyebutkan bahwa komoditas peternakan (daging, susu, telur) dan beras menjadi komoditas pertanian dengan beban emisi terbesar. Sebaliknya, perkebunan sawit yang selama ini menjadi “kambing hitam” bukan menjadi kontributor utama dalam emisi GRK sektor pertanian global, justru mampu memproduksi minyak nabati yang paling hemat emisi dibandingkan minyak nabati lainnya.

[Jurnal 2023] COP-28 DUBAI SUMMIT, EMISI ENERGI FOSIL, DAN BIOENERGI SAWIT

Top 5 Negara Emitter GRK Global Tahun 2022

Salah satu solusi untuk mengurangi emisi GRK global adalah dengan menurunkan konsumsi energi fosil melalui substitusi dengan alternatif energi yang relatif rendah emisi dan renewable. Bioenergi sawit (generasi satu, dua, dan tiga) berpotensi menjadi solusi tersebut melalui penggunaanya untuk substitusi atau blending energi fosil yang relatif boros emisi dan non-renewable. Bioenergi sawit juga memiliki keunggulan yakni lebih rendah emisi dan renewable karena dihasilkan dengan terlebih dahulu melalui proses fotosintesis dengan menyerap karbon dari atmosfer bumi.

[Jurnal 2023] CARBON TRADING DAN POTENSI PERKEBUNAN SAWIT INDONESIA

carbon trading sawit

Perdagangan karbon pada dasarnya mengadopsi prinsip Polluter Pay Principles. Jika jumlah emisi karbon perusahaan yang bersangkutan melebihi izin (permit) emisi karbon yang sudah ditetapkan, maka perusahaan tersebut wajib menutup (offset) emisi karbonnya dari perusahaan lain yang emisi karbonnya di bawah izinnya. Vice Versa.

Perkebunan sawit memiliki potensi yang cukup besar untuk berpartisipasi dalam perdagangan karbon. Tiga skema penurunan emisi GRK global dari perkebunan sawit yakni konservasi karbon stok, peningkatan karbon stok, dan penurunan emisi dalam proses produksi minyak sawit.

[Jurnal 2023] PELESTARIAN BIODIVERSITAS DAN BIODIVERSITAS KEBUN SAWIT DI INDONESIA

biodiversitas kebun sawit

Lima mekanisme pelestarian biodiversitas pada perkebunan sawit di Indonesia yakni pelestarian dan pengembangan varietas tanaman sawit, pengembangan HCV dan HCS, regrowth biodiversity, pengembangan cover-crop dan recycling biomass, dan pengembangan integrasi tanaman pangan-ternak-sawit. Dengan lima mekanisme pelestarian biodiversitas tersebut, perkebunan sawit menjadi bagian dari pelestarian biodiversitas dan bukan murni budidaya monokultur yang menyebabkan biodiversity loss.

EL NINO DAN DAMPAKNYA TERHADAP INDUSTRI SAWIT 2023

Kejadian El Nino Harga dan Produktivitas Minyak Sawit Dunia Tahun 2000 2022

Dampak El Nino pada perkebunan sawit menurunkan produktivitas dan produksi TBS atau CPO. Besarnya dampak EL Nino pada produksi sawit berbeda-beda untuk setiap intensitas El Nino. Semakin tinggi intensitas El Nino maka dampaknya pada penurunan produksi minyak sawit juga semakin besar. El Nino juga mempengaruhi kenaikan harga TBS dan CPO. Semakin tinggi intensitas  kejadian El Nino menyebabkan penurunan produksi minyak sawit semakin besar sehingga semakin besar kenaikan harga minyak sawit global. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian El Nino menciptakan kerugian pada perkebunan sawit. Semakin tinggi intensitas El Nino semakin besar kerugian ekonomi yang ditimbulkannya.

GLOBAL WARMING DAN SOLUSI DARI INDUSTRI SAWIT 2023

Perkembangan Emisi LULUCF dalam Emisi GRK Global

Industri sawit potensial menjadi bagian solusi dari masalah pemanasan global melalui lima kontribusi penting. Pertama, perkebunan sawit sebagai carbon sink yang dapat menyerap kembali emisi karbon di atmosfer Bumi. Kedua, kebun sawit sebagai aforestasi yakni konversi lahan stok karbon lebih rendah menjadi perkebunan sawit dengan karbon stok yang lebih tinggi. Ketiga, menyediakan renewable energy yang relatif lebih  rendah emisi karbon sebagai substitut energi fosil yang non-renewable dan high carbon emission. Keempat, menyediakan bahan pangan dengan emisi relatif rendah untuk mengganti minyak nabati lebih boros emisi. Dan Kelima, memperbaiki teknologi dan manajemen sepanjang rantai pasok industri hilir untuk menurunkan emisi agar memperbesar Neto Carbon Sink di sepanjang rantai pasok hulu-hilir sawit.