Biodiversity Loss Karena Kebun Sawit ? Hoax atau Fakta ? [Infografis 2024]

Bagikan Berita
biodiversity loss karena sawit ?

Biodiversity Loss adalah Hilangnya keanekaragaman hayati ini terjadi ketika jumlah spesies makhluk hidup (dari tingkat ekosistem, spesies, hingga genetik) di suatu wilayah berkurang. Penurunan ini bisa terjadi secara lokal di habitat tertentu, atau bahkan bisa terjadi secara global dengan punahnya suatu spesies.

Terletak pada jalur sebaran keanekaragaman hayati benua Asia (Jawa, Sumatera, Kalimantan) dan benua Australia (Pulau Papua), serta berada pada Daerah Transisi Wallacea (Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, Nusa Tenggara), menjadikan Indonesia memiliki biodiversitas (keanekaragaman hayati) yang sangat besar. Meskipun Indonesia hanya menempati 1.2 persen dari total luas daratan dunia, namun kekayaan keanekaragaman hayati flora dan fauna di Indonesia sangatlah besar.


Tudingan Biodiversity Loss Terhadap Sawit

Ekspansi perkebunan sawit yang relatif cepat dalam periode 20 tahun terakhir sering dituding mengancam biodiversity loss (Fitzherbert et al., 2008; Koh dan Wilcove, 2008; Foster et al., 2011; Savilaakso et al., 2014; Vijay et al., 2016; Austin et al., 2019; Qaim et al., 2020). Pengaitan  perkebunan sawit dengan biodiversity loss juga telah menjadikan minyak sawit dan produk turunannya digolongkan sebagai high-risk commodity di Uni Eropa.

Padahal jika dibandingkan dengan sumber minyak nabati lainnya, produksi minyak sawit menyebabkan biodiversity loss yang paling rendah. Beyer et al., (2020) dan Beyer&Rademacher (2021) telah melakukan studi tentang komparasi biodiversity loss global antar minyak nabati dengan membandingkan biodiversitas tutupan lahan antara sesudah dan sebelum dikonversi menjadi tanaman minyak nabati. Studi tersebut mengukur indikator jejak (footprint) Species Richness Loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan sebagai ukuran biodiversity loss. Hasilnya menunjukkan bahwa minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling rendah biodiversity loss-nya. Sementara, minyak nabati yang paling besar biodiversity loss-nya adalah minyak kedelai. Studi ini juga menunjukkan bahwa pengurangan konsumsi minyak sawit dan mengganti ke minyak nabati lainnya sama artinya dengan meningkatkan biodiversity loss secara global.


Morfologi Pohon Sawit Ramah Biodiversitas

Dari struktur morfologi tanaman, kelapa sawit tergolong tanaman tahunan (parennial plant) berbeda dengan tanaman minyak nabati lainnya yang merupakan tanaman semusim. Tanaman sawit ditanam dengan minimum tillage, minimum weeding, tidak ada ratoons, akan tumbuh menjadi pohon dengan diameter yang relatif besar dan tinggi, serta memiliki canopy cover mendekati 100 persen pada umur dewasa. Pohon sawit tumbuh dan berproduksi selama satu siklus (life span) yakni 25-30 tahun. Hal ini memungkinkan tumbuh berkembangnya kembali biodiversitas (regrowth biodiversity).

Argumen tersebut juga sesuai dengan temuan berbagai hasil studi (Erniwati et al., 2017; Santosa et al., 2017; Santosa dan Purnamasari, 2017; Suharto et al., 2019) yang mengungkapkan jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan sawit dewasa tidak selalu lebih rendah dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (Ecosystem Benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (High Conservation Value) di sekitarnya.


Integrasi Kebun Sawit dengan Tanaman Lainnya Meningkatkan Biodiversitas

Secara umum luas Hak Guna Usaha (HGU) yang diberikan pemerintah kepada korporasi, hanya sekitar 60-70 persen yang dipergunakan untuk perkebunan sawit. Dan sisanya yakni 30-40 persen dialokasikan untuk kawasan High Conservation Value (HCV)/High Carbon Stock (HCS), pemukiman karyawan, perkantoran, serta fasilitas umum dan sosial. Areal HCV dan HCS tersebut ditujukan untuk konservasi biodiversitas dan sumberdaya alam di kawasan budidaya perkebunan.

Selain itu, budidaya perkebunan sawit juga memiliki peran untuk konservasi biodiversitas melalui penanaman tanaman kacang-kacangan seperti Calopogonium sp., Pueraria sp., Mucuna sp., Centrosema sp. di sela-sela tanaman sawit ketika fase tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Pada tanaman menghasilkan, biomass dari pruning, tandan kosong dan land application POME yang mengembalikan biomassa sawit ke lahan juga menumbuhkembangkan biodiversitas mikroba tanah. Pengembangan integrasi sawit dengan tanaman (pangan, sayur-sayuran, buah-buahan) serta sawit dengan hewan ternak juga menunjukkan upaya peningkatan biodiversitas di kebun sawit.


Dengan demikian, kiranya jelas bahwa biodiversitas perkebunan sawit pada saat land clearing memang menurun, namun biodiversitas mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur perkebunan kelapa sawit hingga berumur 25-30 tahun. Apakah pada tanaman minyak nabati lain yang umumnya tanaman semusim, ditemukan biodiversitas seperti pada perkebunan sawit?

Bagikan Berita
0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x