MINYAK NABATI DUNIA MENUJU 2050: SAWIT MENJADI SOLUSI PENTING

JOURNAL AUTHOR

Dr. ir. tungkot sipayung

Executive Director at PASPI

Dr. Ir. Tungkot Sipayung is a seasoned professional in the palm oil industry with over 23 years of experience. Currently serving as Executive Director of PASPI, he is a recognized leader and expert in the development of agribusiness strategies. Under his leadership, PASPI continues to drive growth, innovation, and sustainability in the industry.

Bagikan Jurnal
CITE THIS JOURNAL ARTICLE
Tim Riset PASPI. (2026). Minyak Nabati Dunia Menuju 2050: Sawit Menjadi Solusi Penting. Analisis Isu-Isu Kebijakan Sawit. I(1). https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/sawit-minyak-nabati-dunia/
Tim Riset PASPI. Minyak Nabati Dunia Menuju 2050: Sawit Menjadi Solusi Penting. Analisis Isu-Isu Kebijakan Sawit. 2026;I(1): 1-12 . Available from: https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/sawit-minyak-nabati-dunia/.
Tim Riset PASPI. "Minyak Nabati Dunia Menuju 2050: Sawit Menjadi Solusi Penting." Analisis Isu-Isu Kebijakan Sawit, vol. I, 2026, pp. 1-12. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/sawit-minyak-nabati-dunia/. Diakses Pada : .

Ditinjau dari aspek lingkungan, berbagai studi yang dirangkum menunjukkan bahwa sawit relatif lebih sustainable dibanding ketiga minyak nabati lainnya pada enam indikator: hemat deforestasi (karena kebutuhan lahan per ton minyak lebih kecil), biodiversity loss lebih rendah, emisi karbon paling sedikit, kemampuan carbon sink paling tinggi, polusi tanah/air paling rendah, dan konsumsi air paling hemat.

Untuk memproyeksikan kebutuhan minyak nabati dunia tahun 2050 yang diperkirakan mencapai 300 juta ton, disusun empat skenario pemenuhan kebutuhan tersebut. Polanya jelas terlihat: semakin besar peran ekspansi sawit dibanding kedelai, rapeseed, atau bunga matahari, semakin kecil tambahan deforestasi yang diperlukan. Bila produktivitas sawit dapat ditingkatkan menjadi 6 ton per hektar, tambahan deforestasi bahkan bisa ditekan hingga hanya 0,27 juta hektar (skenario S4), jauh lebih rendah dibanding 213 juta hektar pada skenario di mana sawit berhenti berekspansi (S1).

Minyak  nabati (vegetable oils) merupakan bahan pangan yang sangat penting bagi masyarakat dunia. Pangan minyak nabati dikonsumsi masyarakat dunia sehari-hari baik secara langsung seperti minyak goreng dan margarin, maupun secara tidak langsung yang diproduksi oleh industri pangan seperti emulsifier. 

Minyak nabati juga digunakan berbagai industri kimia dunia, baik sebagai substitusi dari produk-produk kimia berbasis minyak bumi (petrokimia) maupun biomaterial. Selain itu, perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa minyak nabati juga semakin luas digunakan sebagai energi (biofuel) dunia seperti biodiesel, bioavtur, bensin sawit, dan lain-lain. Penggunaan minyak nabati sebagai substitusi petrokimia dan energi fosil juga dinilai lebih bersahabat dengan lingkungan (environmental friendly) karena bersifat dapat diperbaharui (renewable), biodegradable, relatif rendah emisi karbon, dan tidak beracun (Meijaard et al., 2024; Ciastowicz et al., 2025)

Penggunaan minyak nabati baik sebagai bahan pangan dan biomaterial maupun substitusi  petrokimia dan energi yang makin meluas secara internasional, menyebabkan kebutuhan minyak nabati dunia meningkat terus dari tahun ke tahun. Pertumbuhan jumlah dan komposisi penduduk, peningkatan pendapatan, dan berkembangnya industrialisasi berdampak pada peningkatan konsumsi minyak nabati dunia setiap tahun. 

Sumber penyediaan minyak nabati dunia selama ini terutama berasal dari 4 (empat) minyak nabati dunia yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed/canola, dan minyak bunga matahari. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dunia dalam periode 2000-2025, produksi keempat minyak nabati utama dunia tersebut meningkat dari sekitar 75.9 juta ton tahun 2000 menjadi sekitar 215.6 juta ton tahun 2025 atau bertumbuh sekitar 4.3 persen per tahun (USDA, 2026). Menuju tahun 2050, dengan populasi penduduk dunia diproyeksikan mencapai sekitar 10 milyar orang sehingga kebutuhan minyak nabati dunia diperkirakan mencapai 300 juta ton (asumsi konsumsi per kapita meningkat menjadi 30/kg/kapita) atau meningkat hampir 1.4 kali lipat dari tingkat  produksi tahun 2025. 

Pertanyaan terkait hal ini, bagaimana menyediakan minyak nabati dunia dengan volume sebesar itu? Jawaban dari pertanyaan masa depan tersebut bukan hanya soal produksi dan konsumsi  minyak nabati saja. Masyarakat dunia juga telah menuntut bahwa dalam proses produksi minyak sawit dunia tersebut haruslah semakin berkelanjutan. Dampak produksi minyak nabati pada lingkungan seperti deforestasi, biodiversity loss, emisi, dan polusi perlu menjadi perhatian ke depan.

Artikel ini akan mendiskusikan bagaimana kondisi penyediaan minyak nabati dunia mutakhir. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi terkait sustainability relatif (khususnya aspek lingkungan) dari minyak nabati utama dunia. Kemudian mendiskusikan beberapa skenario produksi minyak nabati menuju 2050 yang secara relatif bersahabat dengan lingkungan.



PERUBAHAN PENYEDIAAN MINYAK NABATI DUNIA

Masyarakat dunia mungkin mengenal sekitar 17 jenis sumber minyak nabati/lemak hewan yang diproduksi dan dikonsumsi baik sebagai bahan pangan, bahan baku industri, maupun energi. Dari ketujuh belas jenis minyak nabati tersebut, hanya 4 (empat) jenis minyak nabati utama yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat dunia yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed. Keempat jenis minyak nabati tersebut mencakup sekitar 78-80 persen volume produksi dan konsumsi minyak nabati dunia saat ini (Mielke, 2025).

Dalam  25 tahun terakhir, luas areal top-4 tanaman minyak nabati utama dunia telah bertumbuh dari sekitar 130 juta hektar tahun 2000 menjadi sekitar 246 juta hektar tahun 2025 (Gambar 1a) dengan laju pertumbuhan sekitar 2.6 persen per tahun. Sementara itu pada periode yang sama, produksi empat minyak nabati dunia (Gambar 1b) meningkat dari sekitar  75.9 juta ton menjadi sekitar 215.6 juta ton atau bertumbuh sekitar 4.3 persen per tahun.

Perkembangan (a) Luas Areal dan (b) Produksi Keempat Minyak Nabati Utama Dunia Periode Tahun 2000-2025 (Sumber: USDA, 2026)

Posisi tahun 2025 menunjukkan bahwa tanaman minyak nabati terluas adalah kedelai dengan luas areal sebesar 143.8 juta hektar (pangsa 58.4 persen). Kemudian disusul dengan tanaman rapeseed seluas 43.8 juta hektar (pangsa 17.8 persen), bunga matahari seluas 29.5 juta hektar (pangsa 12 persen), dan sawit seluas 29 juta hektar (11.8 persen).     

Dalam  25 tahun terakhir, telah terjadi perubahan komposisi produksi jenis minyak nabati dunia. Sebelum tahun 2002, sumber produksi minyak nabati utama dunia masih didominasi oleh minyak kedelai, kemudian disusul minyak sawit, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Namun setelah tahun 2002, penyumbang terbesar dalam produksi minyak nabati dunia telah bergeser dengan pola minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Kontribusi produksi dari masing-masing minyak nabati utama pada tahun 2025 yakni minyak sawit (41.4 persen), minyak kedelai (32.8 persen), minyak rapeseed (16.5 persen), dan minyak bunga matahari (9.3 persen).

Meskipun sekitar 58.4 persen luas areal tanaman minyak nabati dunia merupakan tanaman kedelai, namun kontribusi minyak kedelai pada produksi minyak nabati dunia hanya sekitar 32.8 persen. Sebaliknya, luas areal sawit yang paling kecil yakni hanya sekitar 11.8 persen dari total luas keempat tanaman minyak nabati dunia, namun mampu menghasilkan minyak dengan kontribusi 41.4 persen dari produksi minyak nabati dunia. 

Kondisi ini terjadi karena adanya perbedaan produktivitas, dimana produktivitas sawit yang paling tinggi (Meijaard et al., 2019, 2024; PASPI, 2023). Rata-rata produktivitas sawit dalam 25 tahun terakhir sebesar 3.2 ton minyak per hektar (Gambar 2). Sementara itu, produktivitas tanaman minyak nabati lainnya lebih rendah yakni produktivitas rapeseed sebesar 0.7 ton minyak per hektar, produktivitas bunga matahari sebesar 0.6 ton minyak per hektar, dan produktivitas kedelai sebesar 0.4 ton minyak per hektar.

Perkembangan Produktivitas Keempat Minyak Nabati Utama Dunia (Sumber: USDA, 2026; data diolah PASPI)

Dalam 25 tahun terakhir, produktivitas keempat tanaman sumber minyak nabati dunia masih positif. Produktivitas sawit hanya bertumbuh rata-rata 0.6 persen per tahun. Sedangkan produktivitas kedelai, rapeseed, dan bunga matahari berturut-turut tumbuh sebesar 1.4 persen per tahun, 1.6 persen per tahun, dan 2.4 persen per tahun. Meskipun pertumbuhan produktivitas sawit relatif lebih kecil dari minyak nabati lain, namun selisih tingkat produktivitas dari sawit dibandingkan ketiga minyak nabati lainnya sangat besar sehingga posisi sawit sebagai tanaman yang paling ”berminyak” sulit tergantikan (PASPI Monitor, 2021a). Pertumbuhan produktivitas sawit menjadi tantangan ke depan, mengingat realisasi produktivitasnya hingga tahun 2025 masih sekitar 50 persen dari potensinya. 

Selain produksi, struktur konsumsi minyak nabati dunia selama periode 2000-2025 juga turut mengalami perubahan. Sebelum tahun 2003, konsumsi minyak nabati dunia masih didominasi minyak sawit dengan pangsa sebesar 36-38 persen. Kemudian posisinya selanjutnya disusul minyak sawit (34 persen), minyak rapeseed (15-20 persen), dan minyak bunga matahari (9-10 persen). Namun setelah tahun 2004, pola konsumsi minyak nabati dunia berubah dengan minyak sawit mendominasi dan disusul oleh minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Pada tahun 2025, pangsa minyak sawit dalam konsumsi minyak nabati dunia menempati urutan terbesar yang mencapai 41 persen. Kemudian disusul minyak kedelai (33.2 persen), minyak rapeseed (17.2 persen), dan minyak bunga matahari (9.7 persen). 

Perubahan pola konsumsi minyak nabati yang ditandai dengan makin besarnya pangsa minyak sawit menunjukkan bahwa perubahan yang realistis dan lebih berkelanjutan secara ekonomi. Hal ini dikarenakan pilihan minyak nabati tersebut tertuju pada jenis minyak nabati yang memiliki tingkat produktivitas paling tinggi. Pertanyaan selanjutnya, apakah perubahan pola konsumsi yang demikian juga secara relatif sustainable secara lingkungan?


RELATIF SUSTAINABILITY PRODUKSI MINYAK NABATI

Dalam dua dekade terakhir, preferensi masyarakat global terhadap produk berbasis minyak nabati telah mengalami pergeseran yang signifikan. Jika sebelumnya keputusan konsumsi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor harga, kualitas, dan ketersediaan produk, namun kini aspek keberlanjutan (sustainability) menjadi salah satu pertimbangan utama. Setidaknya terdapat enam indikator lingkungan yang sering dikaitkan dengan tuntutan konsumen global dalam produksi minyak nabati yakni deforestasi, biodiversity loss, emisi, carbon sink, polusi, dan konsumsi air. 

Pertama, Deforestasi. Berdasarkan studi jejak deforestasi global (Matthew, 1983; Walker, 1993; Houghton, 1996; Egli, 2001; Bhattarai et al., 2001; FAO, 2012; European Commission, 2013; USDA, 2014; Keenan et al., 2015; Kaplan et al., 2017; Sabatini et al., 2018; Barredo et al., 2021) mengungkapkan bahwa hampir seluruh daratan di permukaan planet bumi terkait deforestasi yang terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, ekspansi setiap jenis minyak nabati dimana saja pada masa lalu, tetap terkait dengan deforestasi. Oleh karena itu dalam produksi minyak nabati dunia, isunya tidak relevan lagi untuk mempertanyakan apakah produksi minyak nabati terkait atau tidak terkait dengan deforestasi. Hal yang menarik untuk ditelusuri adalah jenis minyak nabati mana yang secara relatif lebih hemat atau lebih besar deforestasi.

Berdasarkan kebutuhan lahan untuk menghasilkan setiap ton minyak nabati (invers produktivitas) dapat dibuat suatu indeks deforestasi setiap jenis minyak nabati (Gambar 3a). Secara relatif, deforestasi per ton minyak nabati paling rendah adalah sawit. Kemudian disusul rapeseed dan bunga matahari. Sedangkan jenis tanaman minyak nabati paling rakus deforestasi adalah kedelai. Jika ingin meningkatkan produksi minyak nabati dunia yang relatif hemat deforestasi, maka pilihan yang paling tepat sawit.

Perbandingan (a) Indeks Deforestasi dan (b) Indeks Species Richness Loss pada Produksi Empat Minyak Nabati Dunia

Kedua, Biodiversity Loss. Studi Beyer et al., (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) melakukan perbandingan biodiversity loss global pada produksi minyak nabati. Studi tersebut membandingkan biodiversitas tutupan lahan antara sesudah dan sebelum dikonversi menjadi tanaman minyak nabati. Studi tersebut mengukur indikator jejak (footprint) Species Richness Loss (SRL) per liter minyak yang dihasilkan sebagai ukuran biodiversity loss.

Hasil studi menggunakan SRL sawit sebagai pembanding (Gambar 3b), hasil perhitungan menunjukkan bahwa indeks SRL kedelai 284 persen di atas SRL sawit, SRL rapeseed 79 persen di atas SRL sawit, dan SRL bunga matahari 44 persen di atas SRL sawit. Dengan SRL sebagai indikator biodiversity loss menunjukkan bahwa produksi minyak sawit berpotensi menyebabkan biodiversity loss yang relatif lebih rendah dibandingkan produksi ketiga minyak nabati lainnya (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2021c, 2023b).

Ketiga, Emisi Karbon. Pengaitan produksi minyak nabati termasuk minyak sawit terhadap emisi karbon juga menjadi isu lingkungan global. Studi Beyer et al. (2020) serta Beyer dan Rademacher (2021) menemukan bahwa pada level ekosistem global, kebun sawit dunia adalah penghasil minyak nabati paling rendah emisinya dibandingkan dengan sumber minyak nabati lainnya (PASPI Monitor, 2021d). Dibandingkan dengan emisi karbon kebun sawit untuk setiap liter minyak nabatinya (Gambar 4a), emisi yang dihasilkan kedelai 425 persen lebih tinggi, emisi rapeseed 242 persen lebih tinggi, dan emisi bunga matahari 225 persen lebih tinggi.

Perbandingan (a) Indeks Emisi dan (b) Indeks Carbon Sink pada Produksi Empat Minyak Nabati Dunia

Studi Alcock et al. (2022) juga mengungkapkan hal yang sama yakni emisi (tidak termasuk emisi land-use change) pada produksi minyak sawit lebih rendah diantara keempat tanaman minyak nabati utama dunia. Setiap satu kilogram minyak sawit yang diproduksi hanya menghasilkan emisi sebesar 0.43 kg CO2. Sedangkan emisi yang dihasilkan dari produksi satu kilogram minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak rapeseed berturut-turut sebesar 1.18 kg CO2, 1.13 kg CO2, dan 1.02 kg CO2. Studi Meijaard et al. (2024) juga mengungkapkan bahwa produksi minyak kedelai menghasilkan emisi karbon yang paling besar dibandingkan minyak sawit, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari.

Keempat, Carbon Sink and Sequestration. Fungsi ekologi ini mengukur kemampuan jenis tanaman minyak nabati dalam menyerap karbondioksida dari atmosfer bumi (fotosintesis) dan menyimpannya dalam biomassa tanaman baik yang berada di atas maupun di bawah tanah. Henson (1999) dan Murphy (2024) menemukan bahwa perkebunan sawit melalui proses fotosintesis mampu menyerap karbon dioksida bruto sekitar 161 ton CO2 per ha per tahun atau secara netto 64.5 ton CO2 per ha per tahun serta menghasilkan oksigen sekitar 18.7 ton O2 per ha per tahun (Tabel 1). 

Tabel 1. Penyerapan Karbondioksida dan Produksi Oksigen Perkebunan Kelapa Sawit 

IndikatorPerkebunan Kelapa Sawit
Asimilasi kotor (ton CO2/ha/tahun)161.0
Total respirasi (ton CO2/ha/tahun)96.5
Asimilasi netto (ton CO2/ha/tahun)64.5
Produksi oksigen (ton O2/ha/tahun)18.7

Sumber: Henson (1999) dan Murphy (2024)

Selain memiliki kemampuan dalam dalam penyerapan karbon, perkebunan sawit juga memiliki berperan dalam penyimpanan karbon (carbon saving). Melalui fotosintesis dan proses biosquestrasi, karbon yang diserap tanaman sawit diubah menjadi stok karbon yang disimpan sebagai biomassa tanaman sawit itu sendiri (above ground biomass) maupun pada sistem perakaran bawah tanah (under ground biomass) dalam bentuk karbon organik tanah dan karbon anorganik tanah (PASPI, 2023). 

Besaran karbon stok perkebunan sawit bervariasi tergantung umur tanaman, jenis tanah, densitas tanaman, dan variabel lainnya. Studi Chan (2002) menghitung besarnya biomassa dan stok karbon (above ground biomass) hasil carbon sequestration pada perkebunan sawit yakni berkisar 5.8 ton per hektar (pada tanaman belum menghasilkan) hingga 45.3 ton per hektar (pada umur tanaman 20-24 tahun) atau rata-rata sebesar 30 ton karbon per hektar. Kusumawati et al. (2021) menemukan bahwa perkebunan sawit berumur satu tahun mengandung karbon stok sebesar 43.5 ton per hektar dan perkebunan sawit yang berumur 28 tahun memiliki karbon stok sebesar 74.7 ton per hektar. Studi Khasanah (2019) juga mengungkapkan bahwa rata-rata stok karbon pada biomassa di atas tanah pada perkebunan sawit Indonesia mencapai 40 ton per hektar.

Diantara keempat tanaman minyak nabati utama dunia (Gambar 4b), indeks carbon sink pada sawit merupakan yang tertinggi. Studi Murphy (2024) mengungkapkan bahwa sawit memiliki kapasitas penyerapan karbon terbesar yakni mencapai 3.1 ton karbon per hektar per tahun. Sementara itu, kemampuan  carbon sink tanaman minyak nabati lainnya kurang dari 1 ton karbon per hektar per tahun. Hal ini dikarenakan sawit tergolong dalam kelompok tanaman tahunan (perennial plant) dengan lifespan selama 25-30 tahun dan dilengkapi dengan morfologi tumbuhan pohon berkayu dengan diameter yang cukup besar, sedangkan ketiga tanaman minyak nabati lain merupakan tanaman semusim dengan tajuk yang lebih rendah dan biomassa yang lebih sedikit. Dengan kemampuan tersebut, sawit dapat berperan sebagai “paru-paru” ekosistem planet bumi (PASPI, 2023) dan menjadi bagian dalam penurunan emisi karbon melalui proses fotosintesis dan penyerapan CO2 (carbon sink and sequestration)dari atmosfer Bumi (PASPI Monitor, 2023a; 2023c).

Kelima, Polusi Tanah/Air. Dampak proses produksi minyak nabati pada polusi tanah dan air juga menjadi sorotan masyarakat khususnya NGO lingkungan karena berdampak pada kehidupan ekosistem teritorial dan perairan. Penggunaan teknologi pupuk dan pestisida pada proses budidaya menghasilkan residu pupuk dan pestisida baik pada tanah maupun air.

Berdasarkan FAO (1996, 2013) untuk setiap ton minyak nabati yang dihasilkan, sawit menghasilkan polutan nitrogen sebesar 5 kilogram, polutan phosphor sebesar 2 kilogram, dan polutan pestisida 0.4 kilogram. Sedangkan produksi satu ton minyak rapeseed menghasilkan 10 kilogram polutan nitrogen sebesar 13 kilogram polutan phosphor, dan 9 kilogram polutan pestisida. Untuk memproduksi setiap ton minyak kedelai menghasilkan polutan nitrogen sebesar 32 kilogram, polutan phosphor sebesar 23 kilogram, dan polutan pestisida 23 kilogram. Jika diperbandingkan indeks polutan pada ketiga jenis minyak nabati (Gambar 5a) menunjukkan bahwa minyak sawit menghasilkan polutan air/tanah dari penggunaan pupuk dan pestisida yang paling rendah.

Perbandingan (a) Indeks Polusi Air/Tanah dan (b) Penggunaan/Konsumsi Air pada Produksi Empat Minyak Nabati Dunia

Temuan di atas juga searah dengan studi Meijaard et al. (2024). Untuk menghasilkan satu ton minyak nabati, sawit memerlukan pupuk yang paling sedikit dibandingkan tanaman rapeseed dan kedelai. Hal ini berkorelasi dengan polusi tanah yang dihasilkan penggunaan pupuk yang berlebihan, dimana resiko polusi tanah dari produksi minyak sawit lebih rendah dibandingkan produksi kedua minyak nabati lainnya.

Keenam, konsumsi air. Isu penggunaan air dalam proses produksi minyak nabati juga sering dikritisi masyarakat, dimana semakin boros air dinilai tidak ramah lingkungan. Mekonnen dan Hoekstra (2010) melakukan penelitian mengenai perbandingan kebutuhan air pada pada komoditas pertanian dengan menggunakan konsep “water footprint” yang merujuk pada penggunaan total volume air (fresh water) pada komoditas pertanian untuk memproduksi suatu produk. Dalam studi tersebut, terdapat tiga sumber air yang digunakan yakni: (a) Blue Water yang mengacu pada air permukaan dan air tanah yang dikonsumsi (evaporasi); (b) Green Water yang mengacu pada air hujan yang dikonsumsi; dan (c) Grey Water mengacu pada kebutuhan air yang diperlukan untuk mengasimilasi polutan berdasarkan standar kualitas air eksisting. 

Diantara keempat tanaman minyak nabati utama dunia (Gambar 5b), water footprint pada sawit paling rendah yakni sebesar 1,097 m3/ton, yang terdiri dari green water (96 persen), dan grey water (4 persen). Sementara itu, water footprint pada komoditas minyak nabati lainnya lebih tinggi seperti bunga matahari sebesar 3,366 m3/ton (90 persen green water, 4 persen blue water, dan 6 persen grey water), rapeseed sebesar 2,270 m3/ton (75 persen green water, 10 persen blue water, dan 15 persen grey water), dan kedelai sebesar 2,144 m3/ton (95 persen green water, 3 persen blue water, dan 2 persen grey water).

Selain menunjukkan sawit relatif hemat air dibandingkan minyak nabati utama lainnya, data di atas juga menunjukkan bahwa sumber utama pemenuhan kebutuhan air pada perkebunan sawit adalah green water atau air hujan (Mekonnen dan Hoekstra, 2010; Safitri et al., 2018). Data tersebut sekaligus meng-counter tuduhan perkebunan sawit mengeksploitasi air tanah dan menyebabkan kekeringan (PASPI, 2023).

Dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, studi Gerbens-Leenes et al. (2009) mengungkapkan bahwa sawit menggunakan air yang lebih sedikit dalam menghasilkan bioenergi. Untuk menghasilkan setiap giga joule bioenergi, rapeseed memerlukan air paling banyak yakni sebesar 184 m3 air. Penggunaan air pada tanaman penghasil bioenergi lainnya yakni kedelai  sebanyak 100 m3, bunga matahari sebanyak 100 m3, dan sawit sebanyak 75 m3 untuk setiap GJ bioenergi yang dihasilkan. 

Uraian di atas dapat menjawab pertanyaan pada sub-bab sebelumnya terkait minyak nabati mana yang secara relatif sustainable dalam aspek lingkungan. Dari berbagai studi empiris yang telah diungkapkan menunjukkan bahwa sawit adalah tanaman minyak nabati yang relatif sustainable karena hemat deforestasi, rendah biodiversity loss, hemat emisi, memiliki kemampuan penyerapan karbon (carbon sink and sequestration) yang tinggi, polusi tanah/air yang rendah, dan hemat air.


SKENARIO PRODUKSI MINYAK NABATI DUNIA 2050

Pada tahun 2050, diproyeksikan jumlah populasi penduduk dunia yang mencapai sekitar 10 milyar orang dan kebutuhan empat minyak nabati dunia diperkirakan mencapai 300 juta ton (asumsi konsumsi per kapita meningkat menjadi 30/kg/kapita). Untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia tersebut dapat didiskusikan empat skenario (Tabel 2) dan dampaknya pada tambahan deforestasi global. Dampak ekspansi tanaman minyak nabati pada deforestasi menjadi fokus utama, mengingat deforestasi global merupakan salah satu perhatian masyarakat dunia selama ini. 

Keempat skenario yang dimaksud dalam rangka memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia tahun 2050 adalah sebagai berikut: (1) Skenario pertama (S1) yakni kondisi kebun sawit dunia berhenti ekspansi hingga tahun 2050, sedangkan ketiga tanaman minyak nabati lainnya melakukan ekspansi; (2) Skenario kedua (S2) yakni kondisi Business as Usual (BAU) dimana keempat minyak nabati dunia melakukan ekspansi secara proporsional; (3) Skenario ketiga (S3) yakni kondisi jika hanya sawit yang melakukan ekspansi, sedangkan ketiga tanaman minyak nabati lainnya tidak melakukan ekspansi (luas areal tetap seperti kondisi 2025); dan (4) Skenario keempat (S4) yakni kondisi S3 namun produktivitas minyak sawit naik menjadi 6 ton per hektar.

Skenario Kebutuhan Luas Areal dalam Pemenuhan Kebutuhan Minyak Nabati Dunia Tahun 2050

Perbandingan Luas Areal 2025, Proyeksi Kebutuhan 2050, dan Tambahan Lahan per Skenario

Tanaman Minyak NabatiLuas areal 2025*
(Juta Hektar)
Kebutuhan Luas Areal 2050 (Juta Hektar)Tambahan Luas Areal (Juta Hektar)
S1S2S3S4S1S2S3S4
Sawit29.0029.0037.9755.2629.27-8.9726.260.27
Kedelai143.78291.91238.70143.78143.78148.1394.92--
Bunga matahari29.5254.6949.2529.5229.5225.1719.73--
Rapeseed43.8683.7471.5743.8643.8639.8827.71--
Total246.16459.34397.48272.42246.43213.18151.3226.260.27

*Geser tabel ke kiri/kanan pada perangkat seluler untuk melihat seluruh kolom skenario.

Sumber:*USDA (2025); Data diolah PASPI (2026)
Ket:
  • S1 :Sawit tidak ekspansi, sedangkan ketiga tanaman minyak nabati lainnya melakukan ekspansi
  • S2 :Kondisi Business as Usual (BAU)
  • S3 :Sawit ekspansi, sedangkan ketiga tanaman minyak nabati lainnya tidak melakukan ekspansi
  • S4 :Kondisi S3, namun produktivitas sawit meningkat menjadi 6 ton/hektar.

Dengan skenario pertama (S1) yakni kebun sawit dunia berhenti ekspansi (luas arealnya sama dengan kondisi tahun 2025), maka masyarakat dunia harus merelakan terjadinya tambahan deforestasi hutan dunia untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia menuju 2050. Luas tambahan deforestasi dunia tersebut mencapai 213.18 juta hektar sebagai dampak dari ekspansi tanaman kedelai (148.13 juta hektar), ekspansi tanaman bunga matahari (39.88 juta hektar), dan ekspansi tanaman rapeseed (25.17 juta hektar).

Jika skenario kedua (S2) yang dipilih, dimana keempat minyak nabati dunia melakukan ekspansi dengan komposisi penyediaan minyak nabati dunia tetap seperti kondisi 2025, maka tambahan deforestasi hutan dunia yang diperlukan adalah 151.32 juta hektar. Tambahan deforestasi tersebut diperuntukkan untuk ekspansi kebun sawit dunia (8.97 juta hektar), ekspansi kedelai (94.92 juta hektar), ekspansi bunga matahari (19.73 juta hektar), dan ekspansi rapeseed (27.71 juta hektar).

Pada skenario ketiga (S3), kondisi dimana hanya kebun sawit dunia yang ekspansi sedangkan ketiga minyak nabati lainnya tidak melakukan ekspansi (luas areal tetap seperti pada kondisi 2025), maka tambahan deforestasi dunia hanya seluas 26.26 juta hektar. Dan jika produktivitas kebun sawit dunia dapat ditingkatkan menjadi 6 ton per hektar (S4), tambahan deforestasi hutan dunia akibat ekspansi kebun sawit dunia cukup hanya sekitar 0.27 juta hektar.

Dari berbagai skenario diatas, terlihat dengan jelas bahwa setiap pengurangan peran industri sawit dunia (S1 dan S2) dalam penyediaan minyak nabati dunia akan memberikan konsekuensi pada tambahan deforestasi hutan dunia dengan luas yang lebih besar. Tidak hanya deforestasi yang lebih besar, pengurangan peran industri sawit tersebut juga meningkatkan potensi biodiversity loss, emisi, polusi dan pemborosan air yang lebih besar (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2020; 2021b; 2022). Sebaliknya, peningkatan peran industri sawit dalam produksi minyak nabati dunia (S3 dan S4) akan berimplikasi pada pengurangan tambahan deforestasi hutan dunia serta pengurangan emisi, biodiversity loss, polutan, dan penggunaan air dalam penyediaan minyak nabati dunia.

Dengan demikian, untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050, maka peningkatan kontribusi industri sawit dunia merupakan solusi yang lebih sustainable untuk ditempuh masyarakat dunia. Derajat sustainability dari industri sawit juga akan terus meningkat seiring dengan perbaikan pada industri sawit dunia, baik tata kelola, penurunan emisi, penurunan polutan, dan peningkatan produktivitas masih terbuka luas ke depan. Untuk itu, diperlukan kolaborasi internasional yang lebih luas diperlukan untuk membuat industri sawit dunia makin sustainable dari waktu ke waktu. Peningkatan produktivitas industri sawit yang signifikan ke depan dapat mencegah terjadinya deforestasi hutan dunia yang lebih besar dalam penyediaan minyak nabati dunia.


Kesimpulan

Dalam 25 tahun terakhir, telah terjadi perubahan dalam struktur minyak nabati dunia. Diantara keempat jenis minyak nabati dunia, minyak sawit menjadi minyak nabati utama dunia. Meskipun luas kebun sawit dunia hanya sekitar 11.8 persen, namun minyak sawit menguasai sekitar 41 persen pangsa produksi dan konsumsi minyak nabati utama dunia pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki peran yang semakin strategis dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dunia. 

Di sisi lain, terjadi pergeseran preferensi konsumen dunia yang semakin menuntut aspek sustainability (khususnya dalam aspek lingkungan) dalam pemenuhan kebutuhan minyak nabati sebagai sumber pangan, energi, dan produk konsumen lainnya. Dalam produksi minyak nabati dunia, sawit dinilai relatif lebih sustainable dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari. Dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi, produksi minyak sawit membutuhkan lahan relatif lebih sedikit sehingga lebih hemat deforestasi. Produksi minyak sawit menyebabkan biodiversity loss yang relatif lebih rendah, memiliki kemampuan penyerapan karbon (carbon sink and sequestration) yang tinggi, menghasilkan emisi dan polusi tanah/air yang lebih sedikit, serta menggunakan air yang relatif lebih sedikit.

Peran strategis sawit juga semakin jelas terlihat dalam pemenuhan kebutuhan minyak nabati dunia tahun 2050. Pada skenario pengurangan peran industri sawit dunia (S1) dalam penyediaan minyak nabati dunia akan memberikan konsekuensi tambahan beban ekspansi lahan pada ketiga minyak nabati lainnya sehingga menyebabkan deforestasi hutan dunia semakin meluas. Sebaliknya, peningkatan peran industri sawit dalam produksi minyak nabati dunia (S3 dan S4) akan berimplikasi pada pengurangan tambahan deforestasi hutan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kontribusi industri minyak sawit dunia baik melalui ekspansi areal maupun peningkatan produktivitas menjadi solusi yang tepat dan lebih sustainable untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia di masa depan.


Daftar Pustaka

  1. Alcock TD, Salt DE, Wilson P, Ramsden SJ. 2022. More Sustainable Vegetable Oil: Balancing Productivity with Carbon Storage Opportunities. Science of the Environment. 829(2022): 154539https://www.nottingham.ac.uk/research/beacons-of-excellence/future-food/publications/documents/futureproofing-ag-publications/alcock-et-al-2022-more-sustainable-vegetable-oil....pdf 
  2. Barredo J, Brailesco C, Teller A, Sabatini FM, Mauri A, Janouskova K. 2021. Mapping and Assessment of Primary and Old-Growth Forests in Europe. European Commission: JRC Science for Policy Report. Tersedia pada: http://dx.doi.org/10.2760/797591
  3. Beyer RM, AP Durán, TT Rademacher, P Martin, C Tayleur, SE Brooks, D Coomes, PF Donald, FJ Sanderson. 2020. The Environmental Impacts of Palm Oil and Its Alternatives. Environmental Science bioRxiv. https://doi.org/10.1101/2020.02.16.951301 
  4. Beyer RM, Rademacher T. 2021. Species Richness and Carbon Footprints of Vegetable Oils: Can High Yields Outweigh Palm Oil’s Environmental Impact?. Sustainability. 13: 1813. https://harvardforest1.fas.harvard.edu/sites/harvardforest.fas.harvard.edu/files/publications/pdfs/Beyer_Sustainability_2021.pdf 
  5. Bhattarai M, Haming M. 2001. Institution and The Environmental Kuznet Curve for Deforestation: A Cross-Country Analysis for Latin America, Africa and Asia. World Development. 29(6): 995-1010.
  6. Ciastowicz Z, Pamuła R, Bobak Ł, Białowiec A. 2025. Characterization of Vegetable Oils for Direct Use in Polyurethane-Based Adhesives: Physicochemical and Compatibility Assessment. Materials. 18(5): 918. https://doi.org/10.3390/ma18050918
  7. Egli H. 2001. Area Cross Country Study of the Environmental Kuznet Curve Misleading? New Evidence from Time Series Data To Germany. Greifswald (DE): Universiteit Greifswald.
  8. European Commission. 2013. The Impact of EU Consumption on Deforestation: Comprehensive Analysis of the Impact of EU Consumption on Deforestation. https://data.europa.eu/doi/10.2779/82226 
  9. [FAO] Food Agricultural Organization. 1996. Environment, Sustainability and Trade. Linkages for Basic Food Stuff Rome.
  10. [FAO] Food Agricultural Organization. 2012. State of the World Forest. Tersedia pada: https://www.fao.org/3/i3010e/i3010e.pdf
  11. [FAO] Food Agricultural Organization. 2013. Biofuels and Sustainability Challenges: A Global Assessment of Sustainability Issues, Trends and Policies for Biofuels and Related Feedstocks. https://agris.fao.org/agris-search/search.do?recordID=XF2015000712 
  12. Gerbens-Leenes, Hoekstra P. Van der Meer, T. 2009: The Water Footprint of Energy from Biomass: a Quantitative Assessment and Consequences of an Increasing Share of Bioenergy Supply. 
  13. Henson I. 1999. Comparative Ecophysiology of Palm Oil and Tropical Rainforest. Oil Palm and Environment: A Malaysian Perspective. Kuala Lumpur (MY): Malaysian Oil Palm Brower Council.
  14. Houghton RA. 1996. Land Use Change and Terrestrial Carbon: The Temporal Record in Forest Ecosystem, Forest Management and the Global Carbon Cycles (ed. MJ Apps & D.T. Price). Berlin (DE): Springer. 
  15. Kaplan JO. 2017. Constraining the Deforestation History of Europe: Evaluation of Historical Land Use Scenarios with Pollen-Based Land Cover Reconstructions. Land. 6(4): 1-20. https://doi.org/10.3390/land6040091
  16. Keenan RJ. 2015. Dynamics of Global Forest Area: Results from the FAO Global Forest Resources Assessment 2015. Forest Ecology and Management. 352:9-20.
  17. Matthew E. 1983. Global Vegetation and Land Use: New High-Resolution Data Based for Climate Study. Journal of climate change and applied Meteorology. 22:474-487. https://ui.adsabs.harvard.edu/link_gateway/1983JApMe..22..474M/doi:10.1175/1520-0450(1983)022%3C0474:GVALUN%3E2.0.CO;2
  18. Meijaard E, Garcia-Ulloa J, Sheil D, Wich SA, Carlson KM, Juffe-Bignoli D, Brooks, T.M. 2019. Kelapa sawit dan Keanekaragaman Hayati. Gland (SZ):
  19. IUCN. https://portals.iucn.org/library/sites/library/files/documents/2018-027-Id.pdf 
  20. Meijaard E, Virah-Sawmy M, Newing HS, Ingram V, Holle MJM, Pasmans T, Omar S, van den Hombergh H, Unus N, Fosch A, Ferraz de Arruda H, Allen J, Tsagarakis K, Ogwu MC, Diaz-Ismael A, Hance J, Moreno Y, O’Keeffe S, Slavin J, Slingerland M, Meijaard EM, Macfarlane N, Jimenez R, Wich S, Sheil D. 2024. Exploring the Future of Vegetable Oils: Oil Crop Implications – Fats, Forests, Forecasts, and Future. Gland (SZ):
  21. IUCN and SNSB. https://portals.iucn.org/library/sites/library/files/documents/2024-010-En.pdf
  22. Mekonnen MM, Hoekstra AY. 2010. The Water Footprint of Crops and Derived Crop Products. UNESCO-IHE Institute for Water Education. https://research.utwente.nl/files/59481249/Report47_WaterFootprintCrops_Vol1.pdf 
  23. Mielke T. 2025. Global Supply, Demand, and Price Outlook of Palm Oil & Other Vegetable Oils. Materi Paparan pada International Palm Oil Conference (IPOC) yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada tanggal 14 November 2025 di Bali.
  24. Murphy DJ. 2024. Carbon Sequestration by Tropical Trees and Crops: A Case Study of Oil Palm. Agriculture. 14-1133. https://doi.org/10.3390/agriculture14071133
  25. [PASPI] Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute. 2023. Mitos dan Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global. Edisi Keempat. Bogor (ID): PASPI.
  26. PASPI Monitor. 2020. Rencana Phase-Out Sawit, Picu Peningkatan Emisi Dan Deforestasi Global. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 1(23): 153-158. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/kebijakan-negara-importir/#16-rencana-phase-out-sawit-picu-peningkatan-emisi-dan-deforestasi-global-jurnal-paspi-nomor-23-tahun-2020- 
  27. PASPI Monitor. 2021a. Minyak Sawit adalah Minyak Nabati yang Paling “Berminyak” di Dunia. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(9): 327-332. https://palmoilina.asia/wp-content/uploads/2021/03/2.9.-MINYAK-SAWIT-ADALAH-MINYAK-NABATI-YANG-PALING-BERMINYAK-DI-DUNIA.pdf
  28. PASPI Monitor. 2021b. Gerakan “No Palm Oil” Picu Polusi Tanah/Air Dunia Semakin Besar. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(40): 527-532. https://palmoilina.asia/wp-content/uploads/2021/10/2.40.-GERAKAN-NO-PALM-OIL-PICU-POLUSI-TANAH-AIR-DUNIA-SEMAKIN-BESAR.pdf 
  29. PASPI Monitor. 2021c. Benarkah Biodiversitas Loss Untuk Memproduksi Minyak Sawit Lebih Tinggi Dari Produksi Minyak Nabati Lain?. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(45): 563-568. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/sawit-dan-biodiversitas/ 
  30. PASPI Monitor. 2021d. Emisi Karbon Perkebunan Sawit Versus Perkebunan Minyak Nabati Lain. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2(46): 569-574.  https://palmoilina.asia/wp-content/uploads/2021/12/2.46.-EMISI-KARBON-PERKEBUNAN-SAWIT-VERSUS-PERKEBUNAN-MINYAK-NABATI-LAIN-1.pdf 
  31. PASPI Monitor. 2022. Dunia Tanpa Minyak Sawit: Lingkungan Lebih Baik Atau Lebih Buruk?. Palm Oil Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 3(5): 607-618. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/dunia-tanpa-minyak-sawit/#0-vol-iii-no-05042022-dunia-tanpa-minyak-sawit-lingkungan-lebih-baik-atau-lebih-buruk 
  32. PASPI Monitor. 2023a. Global Warming dan Solusi dari Industri Sawit. Journal of Analysis Palm Oil Strategic Issues. 4(7): 783-789. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/global-warming-dan-solusi/
  33. PASPI Monitor. 2023b. Pelestarian Biodiversitas dan Biodiversitas Kebun Sawit di Indonesia. Journal of Analysis Palm Oil Strategic Issues. 4(9): 799-806. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/sawit-dan-biodiversitas/
  34. PASPI Monitor. 2023c. Keunggulan Perkebunan Sawit dalam Carbon Sink & Produksi Minyak Hemat Emisi. Journal of Analysis Palm Oil Strategic Issues. 4(15): 841-848. https://palmoilina.asia/jurnal-kelapa-sawit/sawit-dalam-carbon-sink/ 
  35. Sabatini FM, Burrascano S, Keeton WS, Levers C, Lindner M, Pötzschner F, Verkerk PJ, Bauhus J, Buchwald E, Chaskovsky O, Debaive N, Horváth F, Garbarino M, Grigoriadis N Lombardi F, Duarte IM, Meyer P, Midteng N, Mikac S, Mikoláš M, Motta R, Mozgeris G, Nunes L, Panayotov M, Ódor P, Ruete A, Simovski B, Stillhard J, Svoboda M, Szwagrzyk J, Tikkanen OP, Volosyanchuk R, Vrska T, Zlatanov T, Kuemmerle T. 2018. Where are Europe’s Last Primary Forest? Diversity and Distributions. 24(10): 1426-1439. https://doi.org/10.1111/ddi.12778
  36. Safitri L, Kautsar HV, Purboseno S, Suryanti S, Wulandari RK. 2018. Model Analisis Water Footprint TBS Sawit untuk Optimalisasi Produksi dan Early Warning System Kekeringan Perkebunan Kelapa Sawit. Dipublikasikan pada Laporan Grant Riset Sawit BPDPKS tahun 2018
  37. [USDA] United States of Departement Agricultural. 2014. US Forest Resource Facts and Historical Trend. Washington DC (US): US Department of Agriculture, Science and Education Administration. https://www.fs.usda.gov/sites/default/files/legacy_files/media/types/publication/field_pdf/forestfacts-2014aug-fs1035-508complete.pdf 
  38. [USDA] United States Department of Agriculture. 2026. Oilseed: World Market and Trend 2026 https://apps.fas.usda.gov/psdonline/circulars/oilseeds.pdf
  39. Walker. 1993. Deforestation and Economic Development. https://idjs.ca/images/rcsr/archives/V16N3-Walker.pdf
Bagikan Jurnal
0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x