TL;DR Dampak El Niño dan Karhutla pada Perkebunan Sawit
- Fenomena Perubahan Iklim Global: Kekeringan ekstrem (El Niño) memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara masif di berbagai belahan dunia. Luasan karhutla di Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia tercatat lebih besar dibandingkan dengan Indonesia.
- Cekaman Ekofisiologis: Defisit air akibat kekeringan yang diperparah oleh tutupan kabut asap karhutla mengganggu laju fotosintesis, menghambat pembentukan tandan buah, dan membuat tanaman sawit mengalami stres.
- Efek Tunda (Lagged Effect): Penurunan drastis pada produktivitas kelapa sawit tidak terjadi seketika, melainkan baru terealisasi pada kisaran waktu 7 hingga 24 bulan setelah periode kekeringan berakhir.
- Kerugian Ekonomi dan Fluktuasi Harga: Penurunan suplai minyak sawit dari negara produsen utama memicu lonjakan harga CPO global sekaligus menciptakan kerugian aset finansial yang masif bagi petani maupun perusahaan perkebunan.
- Status Korban (Victim): Tingkat kerugian material yang sangat besar membuktikan secara rasional dan empiris bahwa perkebunan sawit merupakan korban dari bencana karhutla di sekitarnya.
Daftar Isi
Pendahuluan
Masyarakat dunia termasuk di Indonesia sedang mengalami perubahan iklim global (global climate change) yang salah satu bentuknya adalah kekeringan ekstrem (El Niño). Kekeringan ekstrem berlangsung secara bergiliran di daerah subtropis seperti daratan Eropa, Amerika Utara, Rusia, Australia dan daerah tropis seperti Indonesia. Anomali iklim El Niño sedang terjadi saat ini dan diperkirakan hingga Kuartal I/2027.
Kekeringan ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah dunia juga disertai dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Secara global, jutaan hektar hutan dan lahan terbakar pada musim kering ekstrem ini. Hal ini menunjukkan bahwa El Niño merupakan faktor penguat risiko karhutla yang terjadi di beberapa negara.
Visualisasi Iklim
Mekanisme Terjadinya Fenomena El Niño
Gunakan tombol di bawah untuk melihat perbedaan sirkulasi angin, pergeseran suhu permukaan laut (kolam air hangat), dan intensitas curah hujan antara kondisi normal dan El Niño.
El Niño yang disertai karhutla membawa dampak ganda negatif bagi masyarakat maupun ekonomi. Selain berdampak luas bagi kesehatan masyarakat, kekeringan dan karhutla juga mengganggu sektor-sektor ekonomi, termasuk sektor pertanian/perkebunan. Kombinasi dampak cekaman kekeringan dan kabut asap tebal dari karhutla membuat proses produksi pertanian/perkebunan terganggu dan hasilnya menurun.
Perkebunan sawit juga menjadi salah satu sektor ekonomi yang terdampak El Niño dan karhutla, meskipun dampaknya berbeda-beda tergantung lokasi, intensitas kekeringan, umur tanaman, dan variabel lain. Dampak dari kekeringan ekstrem terhadap perkebunan sawit juga tidak dirasakan seketika saat ini, tapi ada lagged effect yang baru dirasakan mulai 7 hingga 24 bulan setelah cekaman kekeringan terjadi.
Artikel ini mendiskusikan bagaimana perubahan iklim global menimbulkan karhutla di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi terkait dampak El Niño yang juga disertai dengan karhutla pada perkebunan sawit.
PERUBAHAN IKLIM GLOBAL DAN KARHUTLA
Kaitan antara pemanasan global (global warming), perubahan iklim global (global climate change), dan kekeringan ekstrem telah lama dipahami dan dialami masyarakat global. Pemanasan global mengakibatkan perubahan iklim global yang salah satu wujudnya adalah anomali iklim seperti kekeringan ekstrem (El Niño) dan hujan ekstrem (La Nina) (PASPI, 2023).
Ketika kekeringan ekstrem terjadi di berbagai belahan dunia, biasanya terjadi juga fenomena karhutla yang masif. Dan ketika karhutla terjadi, perdebatan publik pun mengemuka terkait dengan penyebab terjadinya karhutla. Selain akibat kekeringan ekstrem, beberapa isu yang dikaitkan dengan karhutla yang sedang terjadi, misalnya pembukaan lahan, budaya masyarakat, ketidakpedulian masyarakat, dan lain-lain. Bahkan dari NGO yang tidak senang dengan perkebunan sawit, sering mengaitkan karhutla dengan perkebunan sawit.
Apapun penyebabnya, karhutla yang terjadi di mana pun patut kita sesalkan karena merugikan semua pihak. Untuk membantu memahami fenomena karhutla yang terjadi, barangkali ada baiknya melihat kejadian karhutla di berbagai negara (Gambar 1) dan daerah di Indonesia (Tabel 1). Hal ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai hipotesis fenomena karhutla, apakah spesifik lokasi/ekosistem atau bukan, dan sejauh mana disiplin masyarakat dan kemampuan antisipatif pemerintah dapat memengaruhi kejadian karhutla.
Data Kehutanan Global
Luas Karhutla di Berbagai Negara di Dunia (2011 – Juli 2026)
Perbandingan area terdampak kebakaran hutan dan lahan di Amerika Serikat, Eropa, Rusia, dan Indonesia.
Pertama, kejadian karhutla terjadi setiap tahun baik di Amerika Serikat, Eropa, Rusia, dan Indonesia. Dalam periode tahun 2011 hingga Juli 2026, luas karhutla di Amerika Serikat berkisar antara 1-16.2 juta hektar per tahun dengan rata-rata sekitar 3.53 juta hektar per tahun. Di daratan Eropa, luas karhutla berkisar antara 0.17-1.37 juta hektar per tahun dengan rata-rata sekitar 0.55 juta hektar per tahun. Luas karhutla yang terjadi di Rusia berkisar antara 1.3-5.3 juta hektar per tahun dengan rata-rata sekitar 2.48 juta hektar per tahun. Sedangkan di Indonesia, luas karhutla berkisar antara 0-2.6 juta hektar per tahun dengan rata-rata sebesar 0.53 juta hektar per tahun.
Data-data tersebut menunjukkan bahwa karhutla terjadi di berbagai negara dunia fenomena global dan tidak hanya terjadi spesifik di Indonesia (PASPI, 2023). Bahkan kisaran dan rataan luas karhutla di negara-negara tersebut relatif lebih luas dibandingkan Indonesia.
Kedua, hutan di negara Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia merupakan hutan subtropis. Sedangkan hutan di Indonesia merupakan hutan tropis. Dengan data-data luas karhutla berbagai negara tersebut di atas menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya terjadi pada negara yang memiliki lahan dan hutan tropis, tetapi juga terjadi pada hutan subtropis.
Ketiga, masyarakat Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa merupakan masyarakat lebih maju yang memiliki disiplin tinggi, lebih peduli pada lingkungan dan sangat memperhitungkan risiko, setidaknya lebih tinggi dibandingkan rata-rata di Indonesia. Namun faktanya karhutla tetap terjadi setiap tahun dan bahkan lebih luas dibandingkan di Indonesia. Dengan kata lain, variabel disiplin, budaya/kebiasaan, dan etos masyarakat sekitar hutan juga bukanlah satu-satunya variabel yang menyebabkan karhutla.
Keempat, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa memiliki sistem nasional antisipasi kebakaran hutan dan lahan yang terbaik di dunia, memiliki peralatan dan teknologi yang paling baik, SDM yang tangguh, dan dukungan anggaran yang kuat, setidaknya lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Namun data-data karhutla tersebut menunjukkan bahwa setinggi apa pun kesiapan, kemampuan, dan komitmen pemerintah ternyata tidak mampu juga mencegah kejadian karhutla.
Apakah fenomena antar negara tersebut juga terjadi antar daerah di Indonesia? Apakah karhutla di Indonesia terkait langsung dengan perkebunan sawit? Untuk menjawab hal ini mari kita lihat data karhutla masing-masing provinsi di Indonesia.
Berkaitan dengan data-data karhutla yang terjadi berbagai provinsi di Indonesia pada periode tahun 2010 hingga 2022 yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, PASPI telah menganalisis dan menyimpulkan bahwa hampir setiap daerah di Indonesia mengalami karhutla setiap tahun (PASPI Monitor, 2015, 2016, 2019, 2020; PASPI, 2023). Selain itu, kejadian karhutla yang terjadi pada daerah-daerah di Indonesia menunjukkan tidak ada keterkaitan langsung antara perkebunan sawit dengan kejadian karhutla. Daerah-daerah sentra kebun sawit maupun bukan daerah-daerah sentra sawit juga terjadi karhutla.
Menarik untuk menganalisis kejadian karhutla di Indonesia khususnya pada periode 1 Januari 2026 – 31 Juli 2026. Karhutla terjadi baik pada kawasan hutan maupun non-kawasan hutan (Area Penggunaan Lain/APL)
Bahkan luas karhutla pada kawasan hutan lebih besar dibandingkan pada kawasan non-hutan. Pangsa luas karhutla yang terjadi di kawasan hutan sebesar 57.37 persen. Sedangkan pangsa luas karhutla di kawasan non-hutan sebesar 42.63 persen (Gambar 2).
Komposisi Area Karhutla
Perbandingan Luas Areal Karhutla (Jan – Jul 2026)
Persentase komposisi luas lahan terbakar yang berada di dalam kawasan hutan dibandingkan dengan Non-Kawasan Hutan atau Areal Penggunaan Lain (APL).
Distribusi karhutla pada kawasan hutan dan non-kawasan hutan setiap provinsi juga konsisten dengan rata-rata nasional, dimana karhutla di kawasan hutan lebih tinggi dibandingkan non-kawasan hutan (Tabel 1). Pangsa luas karhutla yang terjadi di kawasan hutan sekitar 57.37 persen, sedangkan sisanya yakni 42.63 persen karhutla terjadi pada areal non-kawasan hutan (APL). Tidak ada pola yang konsisten yang menunjukkan bahwa APL di daerah sentra kebun sawit lebih tinggi dibandingkan daerah bukan sentra sawit.
Dominasi kejadian karhutla pada kawasan hutan di Indonesia tersebut bukan satu-satunya di dunia. Di kawasan Eropa juga terjadi pola yang sama yakni sebagian besar karhutla di Eropa terjadi dalam kawasan hutan (European Commission, 2011, 2014, 2015). NASA Earth Observatory (2026) juga melaporkan peningkatan aktivitas kebakaran di Hutan Tropis Amazon bagian tengah dan timur sejak September 2026, dimana kekeringan ekstrem akibat El Niño membuat kawasan hutan lebih rentan terbakar.
Distribusi karhutla pada kawasan hutan dan non-kawasan hutan setiap provinsi juga konsisten dengan rata-rata nasional, dimana karhutla di kawasan hutan lebih tinggi dibandingkan non-kawasan hutan (Tabel 1). Pangsa luas karhutla yang terjadi di kawasan hutan sekitar 57.37 persen, sedangkan sisanya yakni 42.63 persen karhutla terjadi pada areal non-kawasan hutan (APL). Tidak ada pola yang konsisten yang menunjukkan bahwa APL di daerah sentra kebun sawit lebih tinggi dibandingkan daerah bukan sentra sawit.
Dominasi kejadian karhutla pada kawasan hutan di Indonesia tersebut bukan satu-satunya di dunia. Di kawasan Eropa juga terjadi pola yang sama yakni sebagian besar karhutla di Eropa terjadi dalam kawasan hutan (European Commission, 2011, 2014, 2015). NASA Earth Observatory (2026) juga melaporkan peningkatan aktivitas kebakaran di Hutan Tropis Amazon bagian tengah dan timur sejak September 2026, dimana kekeringan ekstrem akibat El Niño membuat kawasan hutan lebih rentan terbakar.
Data Tabular
Tabel Sebaran Karhutla Daerah (Jan-Jul 2026)
Cari dan urutkan rincian sebaran luasan karhutla di 36 provinsi. Klik pada judul kolom untuk mengubah urutan data (Ascending/Descending).
| Provinsi ⇕ | Non-Kawasan Hutan (Ha) ⇕ | Kawasan Hutan (Ha) ⇕ | Jumlah Luas (Ha) ⇕ |
|---|
Barangkali kejadian karhutla dalam kawasan hutan terkait dengan pengelolaan dan kepemilikan (property right). Sebagaimana pandangan dari seorang ekonom bermahzab sustainability dari Bank Dunia, Panayotou (1993) yang mengatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya kerusakan hutan, termasuk kebakaran hutan, adalah tentang pemilikan (property right) hutan itu sendiri. Hutan di setiap negara yang merupakan hutan negara (common resources) merupakan sumber daya yang terbuka bagi semua orang (open access) sehingga sering terperangkap pada apa yang disebut dengan tragedy of the common property (Hardin, 1968; Brown dan Harris, 1992; Markov et al., 2010).
Teori tragedy of the common property tersebut yang dipopulerkan oleh Hardin (1968) mengatakan bahwa “common property right is nobody property right”. Hutan negara sebagai milik publik sesungguhnya tidak dimiliki siapapun dan semua memiliki akses untuk masuk dan memanfaatkannya tanpa ada beban untuk bertanggung jawab dalam pelestariannya. Patut diduga, kejadian karhutla yang terjadi baik di berbagai negara maupun di Indonesia juga merupakan korban dari “tragedy of common” tersebut. Oleh karena itu, sebagaimana diusulkan Panayotou (1993), bahwa untuk mencegah terjadinya degradasi hutan baik akibat kebakaran maupun faktor lain, diperlukan perubahan tata kelola kehutanan yang mengeluarkan hutan dari perangkap tragedy of the common property.
Apapun penyebabnya, karhutla yang terjadi setiap musim kering setiap tahun di setiap negara, termasuk di Indonesia, perlu diakhiri karena merugikan semua baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Semua pihak haruslah menempatkan diri sebagai bagian solusi. Cara menyikapi karhutla dengan saling menyalahkan, apalagi mencari “kambing hitam” tidak akan menyumbang pada upaya mencegah dan mengatasi karhutla. Kolaborasi internasional perlu dibangun untuk menyelamatkan hutan dunia dari karhutla.
DAMPAK PADA PERKEBUNAN SAWIT
Secara ekofisiologi, produksi pertanian merupakan proses biologis yang memerlukan kondisi iklim tertentu (comfort zone) untuk menjamin kehidupan dan produksi optimum, sehingga jika kejadian perubahan iklim yang ekstrem terjadi akan memengaruhi produksi pertanian/pangan. Artinya bagi sektor pertanian, kondisi iklim bukan sekadar menjadi faktor pendukung namun menjadi penentu utama produktivitas.
Berbagai studi (Rosenzweig dan Parry, 1994; Wheeler dan Von Braun, 2013, Bandara dan Cai, 2014; Haile et al., 2017) mengungkapkan bahwa perubahan iklim berdampak pada produksi pertanian dunia, meskipun dampaknya berbeda-beda baik antar negara maupun jenis komoditi. Studi Lesk et al., (2016) mengungkapkan bahwa produksi serealia dunia pernah mengalami penurunan sekitar 8-10 persen akibat kekeringan yang terjadi dalam periode tahun 1964-2007.
Keterkaitan antara perubahan iklim dengan produksi pertanian/pangan dan harga bahan pangan juga telah menjadi salah satu topik studi para ahli dalam beberapa dekade terakhir. Dari berbagai studi (Keppenne, 1995; Letson dan McCullough, 2001; Brunner, 2002; Ubilava, 2017a,b; Ubilava dan Holt, 2013; Perry et al., 2017; Oktarina et al., 2021) mengungkapkan dampak dari kekeringan pada harga komoditas pertanian atau produk pangan yakni: (1) kejadian El Niño memengaruhi kenaikan future prices dari hampir semua komoditas pangan; (2) El Niño tidak selalu berpengaruh pada kenaikan harga spot komoditas; (3) besaran kenaikan harga berbeda-beda di antara komoditas; dan (4) hubungan kejadian El Niño dengan harga komoditas umumnya non-linear. Untuk kasus El Niño tahun 2023, World Bank (2024) mengungkapkan bahwa anomali iklim tersebut berdampak pada pengurangan panen padi dan jagung domestik sehingga menaikkan harga produk pangan.
Dampak El Niño juga signifikan memengaruhi produksi minyak sawit melalui penurunan curah hujan dan meningkatnya defisit air di wilayah perkebunan. Cekaman kekeringan menimbulkan dampak negatif pada tanaman sawit yakni menurunkan laju pembelahan sel, laju penyerapan CO2, penyerapan zat hara, dan laju fotosintesis (Darmosarkoro et al., 2001; Bakoume et al., 2013; Cha-um et al., 2013). Selain itu, cekaman kekeringan yang terjadi pada 0-6 bulan sebelum tandan dipanen dapat menyebabkan kegagalan tandan (RBT menurun) maupun aborsi bunga betina (RJT menurun) (Hasibuan dan Pradiko, 2018) serta rendemen minyak sawit lebih rendah (Mahnhmad et al., 2011).
Tanaman mengalami stres akibat kekeringan ditandai munculnya daun tombak, banyak muncul bunga jantan, malformasi tandan, pelepah segar mengalami sengkleh, serta cadangan buah dan bunga yang kurang (Darlan et al., 2016). Defisit air yang disebabkan oleh El Niño berdampak pada perkembangan vegetatif, proses pembungaan dan pematangan buah terganggu sehingga produktivitas menurun (Siregar, 2015). Dampak kekeringan pada penurunan produksi sawit juga ditemukan pada studi-studi sebelumnya seperti studi Siregar et al. (1995); Siregar et al. (1998); Darmosarkoro (2001); Pangaribuan et al. (2001); Corley dan Tinker (2003); Rizal dan Tsan (2007); Bakoume et al. (2013); Rahman et al., (2013); Kamil dan Omar, (2016).
Studi terbaru Naito dan Takeuchi (2026) mengungkapkan bahwa El Niño menyebabkan defisit air yang faktor stres dominan pada tanaman sawit. El Niño menyebabkan udara yang panas dan kering sehingga membuat atmosfer membutuhkan air yang lebih banyak dari tanaman atau Vapor Pressure Deficit (VPD) yang lebih tinggi. Selain itu, El Niño juga menyebabkan pasokan air yang tersedia di tanah berkurang. Kedua kondisi tersebut menyebabkan defisit air pada tanaman sawit semakin besar yang memengaruhi produktivitas dan produksi buah.
Kerentanan tanaman sawit terhadap cekaman kekeringan berbeda-beda tergantung pada umur tanaman (Siregar et al., 1998; Pradiko et al., 2016). Urutan kerentanan terhadap cekaman kekeringan yakni sebagai berikut: tua, dewasa, remaja, dan muda. Tanaman sawit tua paling rentan terhadap cekaman kekeringan dan memiliki masa pemulihan yang lebih lama, vice versa. Pemulihan pada tanaman sawit muda relatif lebih cepat dibandingkan tanaman yang lebih tua (Harahap dan Latif, 1998).
El Niño yang juga disertai dengan karhutla menimbulkan dampak ganda bagi perkebunan sawit. Kabut asap membuat tanaman sawit stres, menghambat proses fotosintesis, dan mengganggu proses pembentukan dan pertumbuhan buah sawit. Gangguan asap mereduksi radiasi dan intensitas matahari sehingga menyebabkan penurunan laju fotosintesis yang berdampak pada pematangan buah dan sintesis minyak dalam buah (Darlan et al., 2016). Studi Hasibuan dan Pradiko (2018) juga menemukan bahwa El Niño dan asap karhutla yang terjadi pada tahun 2015 berdampak pada rendemen CPO dan kernel cenderung lebih rendah pada saat cekaman kekeringan terjadi. Selain itu, asap karhutla juga berpotensi mengganggu pengelolaan kebun sawit (seperti jadwal pemupukan atau pemberian pestisida/obat tanaman) oleh petani sawit atau karyawan perkebunan sehingga akan berdampak pada penurunan produktivitas kebun.
Karhutla yang disertai dengan kabut asap pekat menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial (kesehatan) bagi masyarakat sekitar, termasuk perkebunan sawit dan masyarakat yang terlibat dalam perkebunan sawit. Karhutla menurunkan produksi bobot kering TBS berkisar 4-12 persen (Harahap dan Rahutomo, 1999). Gangguan asap yang ditimbulkannya juga berdampak pada rendemen minyak sawit yang cenderung menurun (Hasibuan dan Pradiko, 2018) sehingga menurunkan produktivitas sekitar 0.2-5.5 persen. Potensi kerugian per hektar akibat penurunan produktivitas yang disebabkan karhutla di sekitarnya dapat mencapai 12-15 juta per hektar (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2023).
Kerugian lainnya yakni potensi kehilangan aset perkebunan sawit secara material. Nilai aset perkebunan sawit secara finansial berkisar antara Rp50 juta hingga Rp200 juta per hektar tergantung umur tanaman sawit, lokasi, dan harga TBS. Artinya, jika kebun sawit terbakar sama dengan membakar aset dengan nilai yang cukup besar. Dengan nilai aset yang relatif besar tersebut dapat dipahami mengapa pada tata kelola perkebunan sawit upaya pencegahan kebakaran kebun sawit merupakan bagian dari tata kelola mitigasi risiko.
Hal lain yang menarik dari karakteristik biologis tanaman sawit adalah adanya lagged effect atau efek tunda. Artinya respon penurunan produktivitas sawit baik akibat cekaman kekeringan atau stres air sebagai efek dari El Niño maupun gangguan asap memerlukan jeda waktu sekitar 7-24 bulan (Sakdiyah, 2023) atau 12-24 bulan (Rahman et al., 2013) setelah cekaman kekeringan terjadi. Penelitian Sukarman et al. (2022) juga mengungkapkan hal yang sama yakni defisit air menyebabkan penurunan produktivitas sawit dibandingkan produktivitas tahun sebelumnya yakni sebesar 5-22 persen pada tahun pertama dan 1-8 persen pada tahun.
Secara historis dalam kurun dua dekade terakhir (NOAA. 2026), kejadian El Niño dengan intensitas sangat kuat (very strong) terjadi pada tahun 2015 (PASPI Monitor, 2019, 2023; Khor et al., 2021) dan 2023 (BMKG, 2024). El Niño yang terjadi pada tahun 2015 juga diikuti oleh karhutla yang relatif besar dengan luas mencapai 2.6 juta hektar (PASPI Monitor, 2015, 2016, 2020). Karhutla juga terjadi pada periode El Niño tahun 2023, meskipun luasnya relatif lebih rendah yakni sebesar 1.16 juta hektar (Kementerian Kehutanan, 2026). Untuk melihat keterkaitan kejadian El Niño dan karhutla pada produktivitas pada perkebunan sawit di Indonesia selama periode 2000-2022 disajikan pada Gambar 3.
Dinamika Produktivitas Sawit
Kaitan Produktivitas Sawit dengan El Niño Intensitas Kuat
Tren produktivitas kelapa sawit pada Perkebunan Rakyat, Negara, dan Swasta di Indonesia (2010 hingga 2025).
El Niño dengan intensitas sangat kuat dan karhutla yang terjadi di Indonesia pada tahun 2025 menyebabkan penurunan produkivitas sawit, khususnya pada perkebunan negara dan swasta yang menunjukkan penurunan relatif signifikan. Produktivitas sawit dari perkebunan negara menurun dari 3.15 ton/hektar pada tahun 2015 menjadi 2.67 ton/hektar tahun 2016 dan 2.92 ton/hektar tahun 2017. Demikian juga pada perkebunan swasta menunjukkan penurunan produktivitas dari 3.04 ton/hektar tahun 2015 menjadi 2.97 ton/hektar tahun 2017. Sementara itu, produktivitas perkebunan rakyat relatif tetap berkisar 2.32 ton/hektar selama periode 2015-2017. Secara total, produktivitas sawit nasional mengalami penurunan dari 2.76 ton/hektar tahun 2015 menjadi 2.70 ton/hektar tahun 2017.
Temuan berdasarkan data historis tersebut searah dengan studi Azlan et al., (2016) yang mengungkapkan bahwa El Niño dengan intensitas kuat pada tahun 2015 menyebabkan penurunan produktivitas TBS sebesar 11-16 persen dan penurunan produksi CPO sebesar 8-14 persen. Temuan serupa juga diungkapkan oleh studi Darlan et al. (2016) yang menyatakan bahwa dampak El Niño dan asap karhutla yang terjadi pada 2015 berdampak pada produktivitas kebun sawit yang menurun dengan variasi 6-60 persen. Penurunan produktivitas sawit tertinggi terjadi di daerah Lampung dan penurunan produktivitas terendah terjadi di daerah Bengkulu dan Sumatera Barat. Secara umum, dampak El Niño terhadap produksi minyak sawit tergantung pada kombinasi beberapa faktor yakni intensitas El Niño, geolokasi, umur tanaman, kondisi/kualitas lahan, dan kualitas Good Agriculture Practices (GAP).
Fenomena serupa juga terlihat pada kejadian El Niño intensitas kuat dan karhutla pada tahun 2023. Penurunan produktivitas konsisten terjadi pada seluruh pelaku usaha, namun dampak penurunan yang tertinggi pada perkebunan sawit negara dan swasta. Produktivitas sawit dari perkebunan negara menurun dari 4.09 ton/hektar pada tahun 2023 menjadi 3.74 ton/hektar tahun 2024 dan 3.75 ton/hektar tahun 2025. Demikian juga pada perkebunan swasta menunjukkan penurunan produktivitas dari 3.31 ton/hektar menjadi 2.99 ton/hektar dan 3.23 ton/hektar pada periode yang sama. Produktivitas perkebunan rakyat juga mengalami penurunan sedikit yakni dari 2.59 ton/hektar tahun 2023 menjadi 2.48 ton/hektar tahun 2025. Secara total, produktivitas sawit nasional mengalami penurunan dari 2.79 ton/hektar menjadi 2.70 ton/hektar dan 2.77 ton/hektar selama periode 2023-2025. Penurunan produktivitas tersebut menyebabkan produksi minyak sawit menurun jika dibandingkan produksi tahun 2023 yakni sebesar 3.3 persen tahun 2024 dan 0.9 persen tahun 2025.
Hasil pemantauan dan prediksi BMKG mengungkapkan bahwa El Niño dengan intensitas kuat telah terjadi di Semester II/2026 dan diperkirakan hingga Kuartal I/2027. El Niño juga berpotensi berkembang menjadi intensitas sangat kuat yang dapat meningkatkan risiko kondisi kering yang lebih ekstrem dan berkepanjangan di sebagian wilayah Indonesia (Bappenas, 2026). BMKG (2026) juga menyebutkan bahwa indeks Nino tahun ini melampaui El Niño tahun 2023 dan hampir menyamai El Niño tahun 2025. Anomali iklim tahun ini menjadi faktor risiko yang semakin kuat memperbesar kerawanan karhutla. Kondisi ini diperkirakan berpotensi menurunkan produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2027 sebesar 2.2 juta ton atau sekitar 3.7 persen dibandingkan produksi tahun 2026 (GAPKI, 2026).
Dampak lanjutan dari penurunan produktivitas sawit setiap kejadian El Niño maupun karhutla di Indonesia dan Malaysia adalah peningkatan harga minyak sawit dunia (Rahman et al., 2013; Kamil dan Omar, 2016), mengingat kedua negara tersebut merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia (PASPI, 2023; USDA, 2026). Hal ini mudah dipahami karena penurunan produktivitas minyak sawit pada negara produsen utama minyak sawit dunia, akan berdampak besar pada penurunan supply minyak sawit global. Pada kondisi demand minyak sawit dunia yang tetap, maka akan terbentuk excess demand di pasar minyak sawit dunia yang kemudian tercermin dalam kenaikan harga minyak sawit dunia.
Analisis Ekonomi Sawit
Kaitan Produktivitas dengan Harga CPO Dunia (2000-2025)
Dinamika tren produktivitas perkebunan sawit Indonesia dibandingkan dengan fluktuasi pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global.
⭐ Mau lebih sering lihat artikel sawit dari kami di Google?
Meskipun banyak faktor lain yang memengaruhi pergerakan harga minyak sawit dunia, namun dampak El Niño intensitas kuat yang disertai dengan karhutla juga terlihat pada tren peningkatan harga (Gambar 4). El Niño dan karhutla yang terjadi pada tahun 2015 turut memengaruhi tren peningkatan harga sebesar 2.97 persen/tahun selama periode tahun 2015-2017. Demikian juga, El Niño yang terjadi pada tahun 2023 turut memengaruhi tren kenaikan harga minyak sawit sebesar 13.39 persen/tahun selama periode tahun 2023-2025.
Diproyeksikan harga minyak sawit dunia tahun 2027 juga kembali mengalami peningkatan. Pergerakan harga yang demikian diperkirakan sebagai dampak dari penurunan produksi minyak sawit akibat El Niño yang diikuti karhutla di negara produsen minyak sawit, disrupsi rantai pasok akibat konflik Timur Tengah, implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 di Indonesia (Tim Riset PASPI, 2026a, 2026b), dan faktor lainnya.
Meskipun terjadi kenaikan harga minyak sawit, namun dampak El Niño menurunkan produktivitas minyak sawit secara netto menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan petani maupun perusahaan. Studi Zainal et al. (2012) menghitung setiap kenaikan satu derajat celsius temperatur udara (dari temperatur comfort zone) akan menurunkan net revenue pekebun sawit sebesar RM37.7 hingga RM45.7. Studi Khor et al. (2021) mengungkapkan bahwa kerugian ekonomi akibat dari El Niño pada kebun sawit Malaysia. Pada kejadian El Niño intensitas sangat kuat, nilai kerugian ekonomi perkebunan sawit mencapai USD 522 juta. Sementara itu, pada kejadian El Niño dengan intensitas moderat, menimbulkan kerugian sebesar USD 416 juta. Sedangkan El Niño dengan intensitas lemah menimbulkan kerugian ekonomi sebesar USD 231 juta.
Dengan demikian kiranya sangat jelas bahwa dampak El Niño menimbulkan kerugian yang cukup besar pada perkebunan sawit. Kerugian tersebut akan semakin besar jika El Niño disertai dengan karhutla di sekitar perkebunan sawit. Besarnya nilai kerugian tersebut juga sekaligus menjadi argumen bahwa sangat irasional jika pengelola perkebunan sawit dituding menjadi pelaku pembakaran kebun dan karhutla. Perkebunan sawit juga menjadi korban jika terjadi karhutla di sekitarnya, apalagi kebakaran di dalam kawasan perkebunan sawit.
Kesimpulan
Kekeringan ekstrem (El Niño) merupakan salah satu bagian dari fenomena perubahan iklim global (global climate change) yang terjadi dan berdampak secara internasional. Kekeringan ekstrem tersebut sering memicu terjadinya karhutla di berbagai negara. Luas karhutla di berbagai negara seperti di Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia jauh lebih besar dibandingkan Indonesia.
Kejadian karhutla menimbulkan kerugian besar baik secara sosial, ekonomi maupun ekologis. Tampaknya, secara internasional terdapat isu tata kelola hutan yang perlu dibenahi agar karhutla dapat dicegah ke depan.
El Niño berdampak pada penurunan produktivitas perkebunan sawit hingga 7-24 bulan sejak cekaman kekeringan terjadi. Penurunan produktivitas sawit tersebut akan semakin besar jika El Niño disertai dengan karhutla di sekitar perkebunan sawit. El Niño (maupun disertai dengan karhutla) yang terjadi di Indonesia dan Malaysia juga berpotensi memengaruhi harga minyak sawit dunia, mengingat kedua negara tersebut merupakan Top-2 produsen minyak sawit dunia. Meskipun terjadi kenaikan harga, namun dampak El Niño secara netto menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Kerugian ekonomi tersebut makin besar jika karhutla juga terjadi pada perkebunan sawit. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa perkebunan sawit juga menjadi korban jika terjadi karhutla di sekitarnya, apalagi terjadi kebakaran di dalam kawasan perkebunan sawit.
Acknowledgment
“Tim penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam penyusunan artikel ilmiah populer sebagai bagian advokasi dalam rangka meng-counter kampanye negatif sawit.”