SAWIT SEBAGAI BACKBONE BIOENERGI UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN ENERGI NASIONAL

JOURNAL AUTHOR

Dr. ir. tungkot sipayung

Executive Director at PASPI

Dr. Ir. Tungkot Sipayung is a seasoned professional in the palm oil industry with over 23 years of experience. Currently serving as Executive Director of PASPI, he is a recognized leader and expert in the development of agribusiness strategies. Under his leadership, PASPI continues to drive growth, innovation, and sustainability in the industry.

Bagikan Jurnal
CITE THIS JOURNAL ARTICLE
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute. (2026). SAWIT SEBAGAI BACKBONE BIOENERGI UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN ENERGI NASIONAL. Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 1(10), 109-122.
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute. SAWIT SEBAGAI BACKBONE BIOENERGI UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN ENERGI NASIONAL. Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues. 2026;1(10):109-122.
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute. "SAWIT SEBAGAI BACKBONE BIOENERGI UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN ENERGI NASIONAL." *Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues*, vol. 1, no. 10, 2026, pp. 109-122. .
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, 2026. SAWIT SEBAGAI BACKBONE BIOENERGI UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN ENERGI NASIONAL. *Journal Analysis of Palm Oil Strategic Issues*, 1(10), pp. 109-122. Available at: <>.

TL;DR

Ketergantungan impor minyak fosil di tengah krisis geopolitik global mendorong percepatan diversifikasi bioenergi domestik guna memperkuat ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional.

Tiga Jalur Utama Bioenergi Sawit:

  • Bioenergi Generasi Pertama: Pemanfaatan minyak sawit untuk program mandatori biodiesel (B40 menyerap 12,7 juta ton), green diesel, bensin sawit, dan avtur nabati (SAF).
  • Bioenergi Generasi Kedua: Pengolahan 339 hingga 347 juta ton biomassa padat sawit menjadi bioetanol, biopellet, briket, dan biolistrik tanpa memerlukan pembukaan lahan baru.
  • Bioenergi Generasi Ketiga: Konversi limbah cair POME dengan teknologi methane capture serta minyak jelantah menjadi biogas, biometana, dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Nilai Strategis Bioenergi:

  • Ketersediaan Pasokan: Sumber bahan baku bioenergi tersedia stabil dan berlimpah di sepanjang rantai produksi perkebunan domestik.
  • Keterjangkauan Harga: Biaya produksi bioenergi sawit lebih kompetitif dibanding minyak nabati lain berkat efisiensi rantai pasok dan dukungan insentif Dana Sawit.
  • Keberlanjutan Lingkungan: Pemanfaatan bioenergi sawit memangkas emisi gas rumah kaca 40 hingga 71 persen dibanding bahan bakar fosil, mereduksi 39,61 juta ton CO₂ eq pada 2025, serta menggerakkan ekonomi sirkular.


Pendahuluan

Pada dekade 1970-an hingga pertengahan 1990-an, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara eksportir utama minyak fosil. Bersama dengan negara-negara Timur Tengah, Indonesia juga menjadi anggota organisasi eksportir minyak dunia atau Organization of The Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun kondisi tersebut mulai berubah seiring dengan penurunan produksi minyak nasional. Memasuki awal tahun 2000-an, produksi minyak domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat sehingga menyebabkan Indonesia harus mengimpor. Perubahan tersebut menandai transisi Indonesia dari  net oil exporter menjadi net oil importer. Dengan perubahan status tersebut, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia global.

Menguatnya tensi geopolitik Timur Tengah yang kemudian berdampak pada gangguan lalu lintas energi Selat Hormuz sejak awal tahun 2026 menjadi penyebab kenaikan harga minyak dunia yang sangat signifikan. Hal ini dikarenakan Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang krusial yang dilintasi sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah (crude oil) global (UNCTAD, 2026). Disrupsi yang terjadi di koridor pelayaran ini akan memicu volatilitas signifikan di pasar energi global (US Energy Information Administration, 2023) dan menimbulkan shock effect di negara importir (Nugroho, 2026).

Dampak konflik tersebut juga turut dirasakan oleh Indonesia, mengingat posisinya sebagai negara importir minyak fosil (crude oil). Akibat kenaikan biaya impor minyak fosil, Indonesia harus menghadapi risiko tekanan terhadap subsidi energi, pelemahan neraca perdagangan, serta kenaikan inflasi barang konsumsi akibat meningkatnya biaya transportasi dan logistik. Tingginya tingkat inflasi karena kenaikan harga energi (BBM) berpotensi menyebabkan peningkatan kemiskinan (Kpodar dan Liu, 2022; Yaqin et al., 2023).

Kondisi di atas menjadi pengingat bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap energi impor menjadikan perekonomian suatu negara lebih rentan terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, diversifikasi sumber energi dengan memanfaatkan sumber daya domestik menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Urgensi tersebut semakin relevan dengan arah pembangunan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan swasembada energi sebagai salah satu agenda strategis pembangunan. Swasembada energi tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan produksi energi fosil, tetapi juga melalui diversifikasi sumber energi nasional. Dalam Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2025 (PP 40/2025), salah satu strategi diversifikasi energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan dari jenis bahan bakar nabati/bioenergi (Hasan, 2026).

Pengembangan bioenergi sebagai bagian dari energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi semakin penting untuk mendukung komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Komitmen tersebut diwujudkan melalui Second Nationally Determined Contribution dengan target pencapaian net zero emissions pada 2060 atau lebih cepat (Republik Indonesia, 2025). Bioenergi berkontribusi memenuhi target SNDC melalui dua mekanisme utama yakni substitusi energi fosil untuk menurunkan emisi GRK dari sektor transportasi serta peningkatan porsi EBT dalam bauran energi nasional untuk mendukung target transisi menuju sistem energi rendah karbon.  

Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki modal strategis berupa sumber daya hayati yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku bioenergi. Salah satu yang paling potensial adalah sawit. 

Kontribusi sawit dalam ketahanan energi sebenarnya bukan lagi sekadar potensi, melainkan telah dibuktikan melalui pengembangan biodiesel berbasis minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) yang didukung oleh Program Mandatori Biodiesel (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2023d; Tim Riset PASPI, 2026b). Kontribusi sawit terhadap ketahanan energi nasional masih memiliki peluang untuk terus dikembangkan. 

Seiring dengan perluasan dan pendalaman hilirisasi, ruang pemanfaatan sawit sebagai produk bioenergi masih sangat besar. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan produk bioenergi membuka peluang bagi sawit untuk menjadi salah satu backbone dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Selain itu, pengembangan bioenergi sawit sebagai substitusi energi fosil impor juga turut menjadi bagian aksi mitigasi perubahan iklim global sekaligus mengurangi eksposur Indonesia terhadap gejolak pasar minyak global dan potensi risiko kerugian ekonomi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sawit tidak hanya sekadar komoditas/produk bisnis semata, tetapi telah menjadi bagian dari ketahanan energi nasional sekaligus ketahanan iklim dan ketahanan ekonomi.

Artikel ini akan mendiskusikan potensi produk bioenergi berbasis sawit. Diskusi dilanjutkan untuk membahas kontribusi industri sawit dalam memperkuat ketahanan energi nasional.


POTENSI BIOENERGI SAWIT

Pada dasarnya proses produksi perkebunan sawit merupakan proses pemanenan dan penyimpanan energi matahari (PASPI, 2023). Melalui proses fotosintesis, energi matahari yang ditangkap oleh pelepah sawit digunakan untuk mengubah karbon dioksida (CO₂) dan air menjadi senyawa organik yang disimpan dalam tanaman. Dengan demikian, perkebunan sawit menjadi hamparan bioreaktor biologis yang berfungsi untuk menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia (dan senyawa organik) yang tersimpan dalam minyak dan biomassa sawit. Sepanjang matahari masih memancarkan energinya serta didukung ketersediaan air, karbon dioksida, dan kondisi tumbuh yang baik, proses pemanenan energi oleh perkebunan sawit akan tetap berlangsung.

Dengan kandungan karbon dan senyawa organik tersebut, seluruh produk yang dihasilkan oleh tanaman sawit seperti minyak, biomassa, bahkan produk samping (by product) maupun residu hasil pengolahan minyak sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi (PASPI Monitor, 2023c; 2025a). Berdasarkan sumber bahan baku dapat dikembangkan tiga generasi bioenergi sawit secara joint product (Gambar 1). 

Pertama, Bioenergi Sawit Generasi Pertama (First Generation Bioenergy) merupakan hasil pengolahan minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO, Palm Kernel Oil/PKO). Minyak sawit memiliki karakteristik yang sesuai sebagai bahan baku bioenergi karena secara kimia tersusun atas trigliserida yang mengandung berbagai asam lemak dengan komponen utama yakni asam palmitat dan asam oleat (Knothe, 2010; Hoekman et al., 2012). Profil asam lemak tersebut menjadi dasar dalam menentukan karakteristik bahan bakar yang dihasilkan. Melalui proses transesterifikasi, trigliserida dalam minyak sawit dapat dikonversi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang dikenal sebagai biodiesel.

Gambar 1. Potensi Bioenergi Sawit

Perkebunan Sawit

Minyak Sawit

(Crude Palm Oil/CPO + Crude Palm Kernel Oil/CPKO)

Bioenergi Sawit Generasi Pertama

  • Biodiesel(FAME)
  • Diesel Sawit(CN > 80)
  • Bensin Sawit(RON > 110)
  • Green LPG
  • Bioavtur/ SAF(FP < -65 celcius)

Biomassa

(Tankos, Pelepah, Serat, Cangkang, Pelepah)

& Produk Samping

(POME Oil, HAPOR, EFB Oil, UCO)

Bioenergi Sawit Generasi Kedua

  • Biodiesel
  • Bioavtur/ SAF
  • Biocoal
  • Biomethanol / Bioethanol
  • Biogas/ Biolistrik
  • Briket

POME

Bioenergi Sawit Generasi Ketiga

  • Biodiesel Algae
  • Biogas/ Biomethane

Secara kimiawi, kandungan asam lemak pada minyak sawit sangat mirip dengan susunan hidrokarbon pada bahan bakar fosil (Subagjo, 2019; PASPI Monitor, 2020b, 2025a). Asam lemak minyak sawit berupa hidrokarbon rantai sedang yang “terkontaminasi” karbon dioksida pada salah satu ujung molekulnya. Untuk menghasilkan bioenergi yang menyerupai susunan hidrokarbon pada bahan bakar fosil, maka perlu  dilakukan proses penghilangan karbon dioksida. Asam palmitat pada minyak sawit dapat diubah menjadi pentadekana yaitu green diesel (solar sawit) sebagai pengganti solar fosil. Asam laurat pada minyak inti sawit juga dapat diubah menjadi undekana yaitu green avtur (avtur sawit atau Sustainable Avtur Fuel/SAF) pengganti avtur fosil. Dengan proses dekarboksilasi dan perengkahan pada susunan hidrokarbon dapat merubah asam oleat pada minyak sawit menjadi green gasoline (bensin sawit) sebagai pengganti bensin fosil. Pengolahan untuk menghasilkan green fuel sawit tersebut juga menghasilkan joint product berupa biogas yang dapat menjadi substitusi gas alam/LNG.

Kedua, Bioenergi Sawit Generasi Kedua (Second Generation Bioenergy) yakni bioenergi sawit yang dihasilkan dari pemanfaatan biomassa perkebunan sawit. Selain menghasilkan minyak sawit (CPO/PKO) sebagai produk utama, kebun sawit juga menghasilkan biomassa sawit sebagai joint product. Biomassa yang dimaksud mencakup tandan kosong (empty fruit bunch), cangkang (palm kernel), serat buah (oil palm fibre and shell), batang sawit (oil palm trunk), dan pelepah sawit (oil palm fronds).

Pada dasarnya, biomassa padat sawit merupakan material organik lignoselulosa yang tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Ketiga komponen tersebut dapat dikonversi melalui jalur termokimia maupun biokimia untuk menghasilkan produk bioenergi (Naik et al., 2010; Dolah et al., 2021; Usi et al., 2022; Yanti, 2023). Produk bioenergi yang dihasilkan dari pengolahan biomassa sawit seperti bioetanol, bio-oil, biocoal, briket, biopellet, biogas/biolistrik, dan lain-lain. Bioethanol dapat menjadi substitut atau digunakan dalam pencampuran (blending).


INDIKATOR KETAHANAN ENERGI NASIONAL

Melalui pengembangan ketiga generasi bioenergi tersebut, industri sawit tidak hanya berkontribusi dalam penyediaan alternatif energi untuk substitusi energi fosil impor, namun turut menjadi bagian dalam ketahanan energi nasional. Peran tersebut tercermin dari kemampuan industri sawit dalam memenuhi indikator ketahanan energi baik dari sisi availability, affordability, dan sustainability (Tim Riset PASPI, 2026a, 2026c). 

Pertama, availability. Keunggulan industri sawit terletak pada kemampuannya menyediakan bahan baku (feedstock) bioenergi dalam jumlah besar, beragam, dan dihasilkan secara simultan dari sistem produksi yang telah ada. Sumber bahan baku tersebut tidak hanya berasal dari minyak sawit sebagai produk utama, tetapi juga biomassa, produk sampingan, bahkan residu dari hasil proses pengolahan minyak sawit maupun konsumsi produk sawit.

Pada Bioenergi Generasi Pertama, minyak sawit sebagai feedstock tersedia dalam volume yang besar dan relatif stabil sepanjang tahun (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2021a). Ketersediaan bahan baku tersebut menjadi faktor penentu keberlanjutan program pengembangan energi berbasis bahan bakar nabati (BBN). Pengalaman Indonesia dalam pengembangan biodiesel menunjukkan pentingnya aspek tersebut. Pada tahap awal, Pemerintah Indonesia berencana untuk mengembangkan biodiesel berbasis tanaman jarak pagar (ESDM, 2021), namun karena keterbatasan produktivitas dan pasokan bahan baku yang tidak stabil menyebabkan rencana pengembangan biodiesel beralih dan diarahkan berbasis minyak sawit. Hal ini dikarenakan besarnya volume produksi minyak sawit yang mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel. 

Penggunaan minyak sawit untuk biodiesel mengalami peningkatan (GAPKI, 2026) seiring dengan semakin intensifnya implementasi program mandatori biodiesel yakni dari 3.8 juta ton tahun 2018 (B20) menjadi 12.7 juta ton tahun 2025 (B40). Jika dilihat dari total produksi minyak sawit Indonesia (Gambar 2) menunjukkan bahwa proporsi penggunaan minyak untuk biodiesel meningkat dari 8 persen menjadi 22 persen. Artinya peningkatan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku bioenergi masih dapat berjalan bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan minyak sawit untuk berbagai produk hilir lainnya.

Visualisasi Data

Produksi vs Konsumsi Minyak Sawit (Biodiesel)

Perbandingan Produksi Minyak Sawit dan Penggunaannya untuk Biodiesel (Bxx) di Indonesia Periode Tahun 2018-2025 (Juta Ton).

Produksi Minyak Sawit
Konsumsi untuk Biodiesel

Sementara itu, pada Bioenergi Generasi Kedua, potensi pasokan bahan baku diperluas yakni pemanfaatan biomassa sawit. Selain jenis bahan baku yang lebih bervariasi, volume ketersediaan biomassa sawit sangat besar. Studi Foo-Yuen Ng et al. (2011) menunjukkan bahwa untuk setiap hektar kebun sawit dapat menghasilkan biomassa sekitar 16 ton bahan kering (dry matter) per tahun atau sekitar tiga kali lebih besar dari produksi CPO dan PKO. Studi Dewi et al. (2026) memperkirakan potensi biomassa sawit yang dihasilkan dari 16.83 juta hektar kebun sawit di Indonesia mencapai sekitar 339-347 juta ton yang terdiri dari 46 juta ton tandan kosong, 12-16 juta ton cangkang inti sawit, 26-30 juta ton serat mesokarp, 208 juta ton pelepah sawit, dan 47 juta ton batang hasil replanting. Meskipun tidak seluruh biomassa dapat diambil karena sebagian berperan dalam menjaga siklus hara untuk peningkatan produktivitas kebun, namun potensi biomassa sawit tersebut menunjukkan besarnya sumber bahan baku bioenergi yang dapat dikembangkan.

Sementara itu POME sebagai sumber bahan baku Bioenergi Generasi Ketiga, dihasilkan secara rutin mengikuti aktivitas pengolahan TBS menjadi minyak sawit (CPO) di PKS. Hal ini menunjukkan setiap peningkatan produksi CPO berbanding lurus dengan peningkatan limbah POME. Berbagai studi (Madaki dan Seng, 2013; Saad et al., 2021; Dominic dan Baidurah, 2022) mengungkapkan bahwa setiap ton CPO yang dihasilkan akan memproduksi sekitar 2.5 hingga 3.8 ton POME. 

Ketersediaan minyak jelantah juga cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku bioenergi. Kajian Traction Energy Asia dan TNP2K (2020) mengungkapkan bahwa sekitar 3 juta kilo liter minyak jelantah berhasil dikumpulkan di Indonesia pada tahun 2019 dan berpotensi menghasilkan 0.6 juta kilo liter biodiesel. Kajian tersebut juga mengungkapkan potensi ketersediaan minyak jelantah di Indonesia mencapai 28.4 juta kilo liter. 

Dengan demikian, availability bioenergi sawit lebih terjamin karena ketersediaan bahan baku tidak hanya bertumpu pada minyak sawit sebagai produk utama, tetapi juga mencakup biomassa sawit, produk sampingan  (seperti POME Oil, HAPOR, PFAD, EFB Oil maupun minyak jelantah) maupun limbah POME yang dihasilkan secara joint product sepanjang rantai produksi. Selain itu, pemanfaatan produk sampingan ini juga dinilai lebih efisien dan strategis dalam menghasilkan bioenergi karena tidak memerlukan pembukaan atau penyediaan lahan khusus untuk tanaman bioenergi.

Kedua, affordability. Minyak sawit merupakan minyak nabati yang lebih murah sehingga lebih affordable dibandingkan dengan harga minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari (PASPI, 2023; Tim Riset PASPI, 2026c). Sebagai bahan baku (feedstock) Bioenergi Generasi Pertama, harga minyak sawit yang lebih murah akan berdampak pada biaya produksi yang lebih efisien sehingga produk bioenergi yang dihasilkan dapat tersedia dengan harga yang relatif lebih murah dan terjangkau. 

Keunggulan biaya tersebut terkonfirmasi dalam studi Lam et al. (2009) yang dirujuk dalam Wirawan et al. (2024) mengungkapkan bahwa biaya produksi biodiesel sawit di Malaysia sebesar USD 784-804 per ton atau lebih murah dibandingkan dengan biodiesel rapeseed (USD 1,035 per ton) dan biodiesel kedelai (USD 840 per ton). Publikasi IEA (2024) juga mengungkapkan rata-rata harga biodiesel sawit di Indonesia lebih rendah dibandingkan harga biodiesel di Amerika Serikat, Brazil, dan Eropa. Selain karena bahan baku yang lebih murah, implementasi Program Mandatori Biodiesel di Indonesia didukung oleh mekanisme dukungan (insentif) biodiesel yang bersumber dari Dana Sawit (Export Levy) untuk menutup selisih HIP Biodiesel dan HIP Solar (Sipayung, 2018; PASPI Monitor, 2025c; BPDP, 2026) sehingga produk biodiesel dapat dipasarkan dengan harga yang lebih terjangkau.

Sementara itu, sisi affordability dari Bioenergi Generasi Kedua dan Ketiga terletak dari bahan baku yang berasal dari sistem produksi yang telah berjalan dan bersifat joint product. Sehingga pemanfaatannya untuk menghasilkan bioenergi tidak memerlukan penyediaan lahan dan pembangunan sistem produksi khusus. Kondisi tersebut memberikan peluang untuk menekan biaya penyediaan bahan baku sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari biomassa, produk samping, dan POME yang sebelumnya dianggap limbah dan nilai ekonomi relatif rendah (Faradillah et al., 2026). Selain itu, pemanfaatan produk sampingan dan residu/limbah sebagai bahan baku bioenergi berpotensi meminimalisir trade-off food-fuel (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2021a) dari pemanfaatan bioenergi berbasis minyak (Bioenergi Generasi Pertama).

Secara keseluruhan, affordability bioenergi sawit tidak hanya berkaitan dengan apakah harga bioenergi lebih murah dibandingkan energi fosil, tetapi juga dengan kemampuan menyediakan energi dengan biaya yang kompetitif dan relatif terjangkau melalui pemanfaatan sumber daya domestik. Pendekatan tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sehingga dapat mengurangi eksposur perekonomian terhadap volatilitas harga komoditas global serta menciptakan nilai tambah dari hilirisasi sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

Ketiga, sustainability. Sawit memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan energi terbarukan dalam jangka panjang. Berbeda dengan minyak fosil yang terbentuk melalui proses geologis dalam waktu sangat panjang dan cadangannya bersifat terbatas sehingga digolongkan sebagai non-renewable resources, sawit berasal dari sumber daya hayati yang dapat diproduksi kembali melalui kegiatan budidaya sehingga dinilai lebih berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi. 

Dalam penyediaan minyak nabati, minyak sawit juga relatif lebih sustainable secara lingkungan dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari  (PASPI, 2023; PASPI Monitor, 2020a; 2021c; 2022a; Tim Riset PASPI, 2026a, 2026c). Minyak sawit relatif hemat lahan (deforestasi), hemat emisi, relatif rendah biodiversity loss, hemat air, dan lebih sedikit menghasilkan polusi tanah/air. Hal ini juga menunjukkan bahwa produk Bioenergi Generasi Pertama berbasis minyak sawit relatif lebih sustainable.

Salah satu indikator sustainability lingkungan yang sering digunakan adalah emisi. Berbagai studi yang telah dihimpun oleh PASPI (2023) mengungkapkan bahwa penggunaan biodiesel sawit mampu menghemat emisi (GHG emission saving) sekitar 40-71 persen lebih rendah dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan dari mesin yang menggunakan energi fosil.

Visualisasi Data

Pengurangan Emisi GRK (Mandatori Biodiesel)

Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Akibat Implementasi Program Mandatori Biodiesel (Bxx) di Indonesia (Juta Ton CO2e).

Pengurangan Emisi GRK

Temuan ilmiah studi tersebut juga menjadi tujuan awal pengembangan biodiesel di Indonesia yakni untuk  mengurangi emisi karbon sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim global. Seiring dengan semakin intensifnya implementasi Program Mandatori Biodiesel di Indonesia (Tim Riset PASPI, 2026b) berdampak pada pengurangan emisi GRK Indonesia yang terus meningkat (Gambar 3) dari hanya sekitar 2.4 juta ton CO2 eq tahun 2015 (B15) menjadi 39.61 juta ton CO2 eq tahun 2025 (B40). Diperkirakan dengan diimplementasikannya B50 akan semakin meningkatkan penurunan emisi karbon dioksida hingga mencapai 44.46 juta ton CO₂.

Dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, studi Gerbens-Leenes et al. (2009) mengungkapkan bahwa sawit menggunakan air yang lebih sedikit untuk memproduksi bioenergi dibandingkan tanaman nabati feedstock lainnya. Untuk menghasilkan setiap giga joule bioenergi, sawit hanya memerlukan air sebesar 75 m3. Sementara itu, volume penggunaan air pada tanaman penghasil bioenergi lainnya lebih besar, seperti rapeseed sebanyak 184 m3 air, kedelai  sebanyak 100 m3 air, dan bunga matahari sebanyak 100 m3 air.

Pemanfaatan limbah POME menjadi bioenergi merupakan salah satu langkah strategi untuk menurunkan emisi dari produksi minyak sawit (PASPI Monitor, 2023a, 2023b, 2025b). Aplikasi teknologi methane capture pada POME tersebut juga dapat menurunkan emisi GRK yang sangat signifikan dalam produksi minyak sawit (Mathews and Ardiyanto, 2015; Choong et al., 2018; Nisa dan Wijayanti, 2023)

Pengolahan POME dengan teknologi teknologi methane-capture juga mengurangi jejak emisi karbon biodiesel sawit sehingga kemampuan penghematan emisinya lebih besar. Studi European Commission Joint Research Centre (2013) juga mengungkapkan hal yang sama bahwa biodiesel sawit yang dihasilkan dari PKS yang menerapkan teknologi methane capture mampu menghemat emisi (emission saving) mencapai 62 persen atau lebih tinggi dibandingkan biodiesel nabati lain seperti biodiesel bunga matahari (58 persen), biodiesel rapeseed (45 persen), dan biodiesel kedelai (40 persen).

Pemanfaatan biomassa sawit, produk sampingan (POME Oil, HAPOR, EFB Oil), serta produk residu baik dari hasil pengolahan minyak sawit (POME) maupun kegiatan konsumsi produk sawit (minyak jelantah/UCO) sebagai bahan baku bioenergi memberikan manfaat lingkungan melalui pengurangan pencemaran air dan tanah sekaligus mendukung pemanfaatan kembali limbah dalam kerangka ekonomi sirkular (Diyane, 2017; Dominic dan Baidurah, 2022; Faradillah et al., 2026). Jika dibandingkan dengan jenis feedstock lainnya, pemanfaatan residu seperti POME dan minyak jelantah sebagai bahan baku bioenergi memiliki jejak emisi karbon yang lebih rendah sehingga dinilai lebih sustainable sebagai feedstock bioenergi (Goh et al., 2020; Rahman et al., 2025; Bentil et al., 2025; Judijanto, 2025; Bhatia et al., 2025; Punguti et al., 2026; Hermawan et al., 2026).

Uraian di atas menunjukkan bahwa industri sawit memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Kemampuan menyediakan bahan baku secara berkelanjutan, menghasilkan energi dengan biaya yang kompetitif, serta menekan emisi GRK, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, dan mendorong ekonomi sirkular menjadikan industri sawit memenuhi indikator ketahanan energi nasional. Dengan demikian, pengembangan bioenergi sawit perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi nasional untuk membangun sistem energi yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan.


KESIMPULAN 

Ketahanan energi nasional menjadi semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan energi, ketergantungan terhadap impor minyak bumi/BBM fosil, dan dinamika geopolitik yang memengaruhi stabilitas pasokan serta harga energi global. Dalam konteks tersebut, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti bioenergi menjadi strategi memperkuat ketahanan energi nasional.

Industri sawit memiliki posisi strategis karena mampu menyediakan bahan baku (feedstock) untuk dikembangkan sebagai backbone bioenergi nasional. Potensi bioenergi sawit sangat besar dan relatif beragam dengan memanfaatkan seluruh produk yang dihasilkan di sepanjang rantai produksi. Pertama, Bioenergi Sawit Generasi Pertama yang memanfaatkan minyak sawit sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bioenergi seperti biodiesel, diesel sawit, bensin sawit, dan avtur sawit/SAF. Kedua, Bioenergi Sawit Generasi Kedua yang memanfaatkan biomassa sawit untuk menghasilkan berbagai bentuk bioenergi, antara lain bioetanol, bio-oil, biopellet, biobriket, dan biolistrik/biogas. Produk bioenergi juga dihasilkan dengan memanfaatkan produk sampingan dari hasil pengolahan minyak sawit seperti POME Oil, HAPOR, PFAD, dan EFB Oil maupun minyak jelantah (UCO) sebagai bahan baku alternatif minyak sawit. Ketiga, Bioenergi Sawit Generasi Ketiga yang memanfaatkan POME sebagai bahan baku untuk menghasilkan biogas/biomethana dan biodiesel algae. 

Pemanfaatan beragam produk sawit memiliki implikasi lebih lanjut yang menunjukkan industri sawit mampu memenuhi indikator ketahanan energi nasional. Indikator yang dimaksud adalah ketersediaan bahan baku yang besar dan relatif stabil di sepanjang rantai pasok produksi dan konsumsi produk sawit (availability), efisiensi sumber bahan baku yang diproduksi secara joint product berpotensi menekan biaya produksi (affordability), serta menciptakan manfaat lingkungan (sustainability) dalam bentuk menekan emisi GRK, mengurangi pencemaran air dan tanah, dan mendukung ekonomi sirkular.

⭐ Mau lebih sering lihat artikel sawit dari kami di Google?


Acknowledgment

“Tim penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam penyusunan artikel ilmiah populer sebagai bagian advokasi dalam rangka meng-counter kampanye negatif sawit.”


Daftar Isi

References

Bagikan Jurnal
0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x