Jurnal Kelapa Sawit dan Pemanasan Global (2023)

Jurnal Kelapa Sawit dan Pemanasan Global (2023)

JOURNAL AUTHOR

Dr. ir. tungkot sipayung

Executive Director at PASPI

Dr. Ir. Tungkot Sipayung is a seasoned professional in the palm oil industry with over 23 years of experience. Currently serving as Executive Director of PASPI, he is a recognized leader and expert in the development of agribusiness strategies. Under his leadership, PASPI continues to drive growth, innovation, and sustainability in the industry.

Share

Poin-Poin Utama dalam Isu Sawit dan Pemanasan Global

Poin-poin utama dalam isu sawit dan pemanasan global adalah sebagai berikut :

  1. Penyebab Pemanasan Global: Pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya intensitas efek rumah kaca dalam atmosfer bumi. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) yang dihasilkan dari aktivitas manusia berkontribusi pada pemanasan global.
  2. Kaitan dengan Perkebunan Kelapa Sawit: Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit global dikaitkan dengan pemicu pemanasan global. Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan produksi minyak sawit global dituding berkontribusi pada fenomena pemanasan global.
  3. Peran Carbon Sink dan Carbon Sequestration: Perkebunan kelapa sawit memiliki kemampuan sebagai “carbon sink” yang mampu menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis. Ini membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida dalam atmosfer.
  4. Produksi Biofuel Rendah Emisi: Industri sawit global mampu memproduksi biofuel/bioenergi rendah emisi yang dapat menggantikan energi fosil. Biofuel dari kelapa sawit dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
  5. Pengurangan Emisi Karbon dengan Biodiesel Sawit: Kemampuan biodiesel sawit dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Biodiesel sawit dapat menghemat emisi dan memiliki potensi lebih tinggi dalam pengurangan emisi dibandingkan dengan biodiesel dari sumber lain.
  6. Kontribusi Industri Sawit pada Penurunan Emisi: Bagaimana industri sawit dapat menjadi bagian dari solusi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Penggunaan biofuel dan praktik-praktik berkelanjutan dalam industri sawit dapat membantu mengurangi dampak pemanasan global.
  7. Implementasi Kebijakan Mandatori Biodiesel: Bagaimana implementasi kebijakan mandatori biodiesel di berbagai negara, seperti Indonesia, dapat berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca.
  8. Komitmen Global terhadap Perubahan Iklim: Pentingnya komitmen global untuk mitigasi perubahan iklim, dan bagaimana industri sawit juga berkontribusi pada tujuan-tujuan berkelanjutan terkait perubahan iklim.
  9. Keberlanjutan Industri Sawit: Pentingnya meningkatkan praktik-praktik berkelanjutan dalam industri sawit, seperti peningkatan produktivitas dan penerapan teknologi yang dapat membantu lebih lanjut mengurangi dampak pemanasan global.

Mekanisme Pemanasan Global

Mechanism of greenhouse gas effect
Gambar 1. Mekanisme Efek Gas Rumah Kaca Dalam Fenomena Pemanasan Global (Sumber: US Global Change Research Program)
  1. Pemanasan global disebabkan karena meningkatnya intensitas efek gas rumah kaca (greenhouse intensity effect) pada atmosfer bumi.
  2. Secara alamiah, atmosfer bumi diisi Gas Rumah Kaca-GRK (Greenhouse Gasses-GHG) yang terdiri dari uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metane (CH4), dan nitrogen (N2) dengan konsentrasi alamiah tertentu. 
  3. Fungsi GRK tersebut untuk membentuk mekanisme efek rumah kaca (natural greenhouse effect), dimana sebagian energi panas yang dipancarkan matahari terperangkap dalam atmosfer bumi dan sebagian lagi dipantulkan ke luar angkasa sehingga temperatur atmosfer bumi tetap terjaga dan nyaman bagi kehidupan makhluk hidup di bumi.
  4. Seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia di bumi berpengaruh pada peningkatan konsentrasi emisi GRK pada atmosfer bumi di atas konsentrasi alamiahnya.
  5. Seperti sifat kaca, gas-gas yang konsentrasinya melebihi alamiahnya tersebut melapisi atmosfer sehingga energi panas yang terperangkap di atmosfer bumi lebih besar dibandingkan energi yang dipantulkan ke luar angkasa.
  6. Implikasinya temperatur bumi mengalami peningkatan terkonfirmasi dari studi NASA yang menyebutkan bahwa rata-rata temperatur bumi meningkat 1 derajat celcius sejak periode pra-industri dan saat ini peningkatan temperatur tersebut lebih dari 0.2 derajat celcius per dekade.

Data Kemampuan Carbon Sink Perkebunan Kelapa Sawit

Tabel 1. Carbon Sink Perkebunan Sawit Versus Hutan Tropis

IndikatorHutan TropisPerkebunan Kelapa Sawit
Asimilasi kotor (ton CO2/ha/tahun)163.5161.0
Total respirasi (ton CO2/ha/tahun)121.196.5
Asimilasi neto (ton CO2/ha/tahun)42.464.5
Produksi oksigen (ton O2/ha/tahun)7.0918.70
Indeks luas daun7.35.6
Efisiensi fotosintesis (%)1.733.18
Efisiensi konversi radiasi (g/mj)0.861.68
Total biomas di area (ton/ha)431100
Incremental biomas (ton/ha/tahun)5.88.3
Produktivitas bahan kering (ton/ha/tahun)25.736.5
Sumber: Henson (1999); PPKS (2004, 2005)
  1. Perkebunan kelapa sawit berperan sebagai “paru-paru ekosistem” karena memiliki kemampuan carbon sink untuk menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis.
  2. Melalui mekanisme tersebut, karbon dioksida dipecah menjadi karbon dan oksigen. Karbon kemudian diproses dan dirubah menjadi tubuh tanaman (akar, batang, daun) atau biomassa/biomaterial dan produk, sedangkan oksigen dikeluarkan ke atmosfer/udara bumi untuk dihirup manusia ketika bernafas.
  3. Studi Henson (1999) membandingkan kemampuan carbon sink antara hutan tropis dan perkebunan kelapa sawit. Studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan carbon sink dari perkebunan kelapa sawit (64.5 ton CO2/ha/tahun) secara neto lebih tinggi dibandingkan hutan tropis (42.4 ton CO2/ha/tahun) .
  4. Hal ini dikarenakan laju fotosintesis pada perkebunan kelapa sawit masih jauh lebih besar dibandingkan dengan laju respirasi (Hardter et al., 1997; Fairhurst & Hardter, 2003), sebaliknya hutan tropis umumnya sudah pada kondisi steady state yakni laju fotosintesis dengan laju respirasi sudah seimbang.
  5. Dengan luas perkebunan kelapa sawit global tahun 2021 yang mencapai 25 juta hektar, perkebunan kelapa sawit global mampu menyerap emisi karbon dioksida sebesar 1.61 miliar ton CO2/ha/tahun.
  6. Selain besar emisi yang diserap, perkebunan kelapa sawit menyerap emisi karbon dari atmosfer bumi berlangsung setiap hari, sepanjang tahun hingga tanaman berumur 25 tahun.

Data Kemampuan Carbon Sequestration Perkebunan Kelapa Sawit

Sawit dan Pemanasan Global
Gambar 2. Sequestrasi Karbon, Stok Biomas dan Stok Karbon pada Biomasa Di Atas Tanah pada Perkebunan Kelapa Sawit Berdasarkan Umur (Sumber: Chan, 2002)
  1. Karbon yang diserap oleh perkebunan kelapa sawit melalui mekanisme biosequestrasi disimpan pada biomas baik pada biomas tanaman sawit itu sendiri (above ground biomass) maupun pada sistem perakaran bawah tanah (underground biomass).
  2. Studi Chen (2002) menghitung besarnya biomas dan stok karbon (above ground biomass) hasil sequestration pada perkebunan sawit. Studi tersebut menunjukkan bahwa meskipun besaran volume sequestrasi karbon berlangsung setiap hari, sepanjang tahun dan terus meningkat hingga mencapai umur 25 tahun seiring dengan peningkatan carbon sink yang terjadi.
  3. Berbagai studi lainnya juga mengungkapkan besaran volume karbon stok pada perkebunan kelapa sawit, diantaranya adalah:
    • Kusumawati et al. (2021) mengungkapkan perkebunan kelapa sawit berumur satu tahun mengandung karbon stok sebesar 43.5 ton per hektar dan ketika berumur 28 tahun memiliki karbon stok dengan volume 74.7 ton per hektar.
    • Khasanah et al. (2019) mengungkapkan bahwa rata-rata stok karbon pada biomasa di atas tanah pada perkebunan sawit di Indonesia mencapai 40 ton per hektar.

Data Industri Sawit Penghasil Biofuel/Bioenergi Rendah Emisi

Kelapa Sawit Penghasil Sumber Biofuel Bioenergy Rendah Emisi
Gambar 3. Kelapa Sawit Penghasil Sumber Biofuel/Bioenergy Rendah Emisi (Sumber: Ditjen EBTKE)
  1. Industri sawit global mampu memproduksi biofuel/bioenergi rendah emisi yang dapat dimanfaatkan sebagai subsitusi energi fosil.
  2. Energi fosil merupakan sumber utama emisi GRK global sehingga mensubsitusinya dengan biofuel yang rendah emisi merupakan bagian solusi penurunan emisi GRK dan pemanasan global
  3. Industri sawit global mampu menghasilkan biofuel/bioenergi yang rendah emisi dan berkelanjutan yakni:
    • Biofuel/Bioenergi Generasi Pertama (biodiesel dan greenfuel/ green diesel, green gasoline, green avtur)dari pengolahan minyak sawit (CPO/CPKO);
    • Biofuel/Bioenergi Generasi Kedua (biopremium/biogasoline/bioethanol, biopelet, biogas/biolistrik, biobara) dihasilkan dari pengolahan biomassa sawit (tandan kosong, cangkang dan serat buah, batang dan pelepah);
    • Biofuel/Bioenergi Generasi Ketiga (biogas, biolistrik dan biodiesel algae) dihasilkan dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yakni POME.

Data Kemampuan Biodiesel dalam Menurunkan Emisi GRK

Pengurangan Emisi CO2 dari Berbagai Jenis Bahan Baku Biodiesel dibandingkan dengan Emisi Diesel
Gambar 4. Pengurangan Emisi CO2 dari Berbagai Jenis Bahan Baku Biodiesel dibandingkan dengan Emisi Diesel (Sumber: European Commission Joint Research Centre, 2013)
  1. European Commission Joint Research Centre (2013) mengungkapkan bahwa biodiesel sawit yang dihasilkan dari Pabrik Kelapa Sawit/PKS (CPO Mill) yang menerapkan teknologi methane capture mampu menghemat emisi (emission saving)mencapai 62 persen.
  2. Kemampuan biodiesel sawit tersebut juga lebih tinggi dibandingkan biodiesel nabati lain seperti biodiesel rapeseed (45 persen), biodiesel kedelai (40 persen), dan biodiesel bunga matahari (58 persen).
  3. Merujuk berbagai studi lainnya juga mengungkapkan hal yang sama yakni kemampuan biodiesel sawit dalam menurunkan emisi karbon berkisar 40-71 persen.

Data Riset Internasional terkait Penghematan Emisi Biodiesel Sawit

International Research Results showed Palm Oil Biodiesel Saving Emission Level
Gambar 5. Riset Internasional terkait Penghematan Emisi Biodiesel Sawit

Data Penurunan Emisi GRK Indonesia Akibat implementasi Program Mandatori Biodiesel

Kebijakan Mandatori Biodiesel Meningkatkan Penurunan Emisi GRK Indonesia
Gambar 6. Kebijakan Mandatori Biodiesel Meningkatkan Penurunan Emisi GRK Indonesia (Sumber: Ditjen EBTKE)
  1. Subsitusi solar fosil dengan biodiesel sawit melalui implementasi kebijakan mandatori biodiesel dapat menurunakan emisi GRK di Indonesia.
  2. Seiring dengan peningkatan blending rate subsitusi solar fosil dengan biodiesel sawit maka penurunan emisi GRK Indonesia juga meningkat.
  3. Implementasi mandatori biodiesel B7.5 mampu menurunkan emisi GRK sebesar 592.3 ribu ton CO2 eq tahun 2010.
  4. Seiring dengan meningkatnya blending rate pada kebijakan mandatori biodiesel B30 dan penggunaan biodiesel, penurunan emisi GRK Indonesia meningkat menjadi 22.3 juta ton CO2 eq tahun 2020, 24.7 uta ton CO2 eq tahun 2021, dan 27.8 juta ton CO2 eq tahun 2022.
  5. Diperkirakan implementasi kebijakan mandatori B35 yang dilaunching Februari 2023 akan menurunkan emisi GRK yang semakin besar yakni 34.9 juta ton CO2 eq.

Jurnal Terkait Sawit dan Pemanasan Global

Industri Sawit Menuju Net Carbon Sink [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 47 Tahun 2021

  • Pasca pelaksanaan COP-26 Glassglow di awal November tahun 2021, negara di dunia termasuk Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan Net Zero Emission (NZE) yang ditargetkan tercapai pada tahun 2060 atau lebih cepat. Berkaitan dengan komitemen tersebut, diperlukan banyak sektor-sektor ekonomi yang mencapai Net Carbon Sink (NCS).
  • Peningkatan produktivitas, penerapan Good Agriculture Practices, penggunaan teknologi methane capture untuk pengolahan POME, serta pemanfaatan biomas sawit sebagai sumber energi pada PKS dapat menurunkan emisi proses produksi minyak sawit (CPO) mampu memperbesar kemampuan perkebunan sawit sebagai carbon sink hingga mencapai 97 persen.
  • Peningkatan carbon sink tersebut juga masih dapat ditingkatkan melalui peningkatan produktivitas.  
  • Oleh karena itu, dibutuhkan investasi untuk penerapan GAP, peningkatan produktivitas, pembangunan teknologi methane capture dan teknologi energi biomass kepada pelaku perkebunan sawit di Indonesia untuk mengadopsi paket teknologi tersebut dalam rangka Net Carbon Sink (NCS).
  • Dengan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi sebagai NCS dalam rangka mencapai target NZE), industri sawit dapat menjadi sektor yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dalam mengurangi emisi karbon, memperkuat ketahanan lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Solusi Industri Sawit untuk Perubahan Iklim [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 39 Tahun 2021

  • Pemanasan global dan perubahan iklim global telah menjadi masalah dan perhatian masyarakat dunia sehingga komunitas global sepakat untuk melakukan upaya mitigasi dan penanggulangan perubahan iklim.
  • Komitmen global untuk mitigasi perubahan iklim juga tertuang dalam salah satu dari 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) periode tahun 2015-2030 yakni Climate Action (SDG-13). Artinya setiap orang, perusahaan, industri, sektor, negara dimanapun dan kapanpun perlu menempatkan diri sebagai bagian solusi perubahan iklim global dan melakukan mitigasi mengatasi dampaknya.
  • Industri sawit merupakan bagian dari industri global menempatkan diri untuk hadir sebagai solusi atas masalah pemanasan global dan perubahan iklim global melalui dua mekanisme yang dilakukan secara simultan yakni:
    • Mekanisme pertama melalui mekanisme fotosintesis asimilasi (carbon sink) dan phytosequestration karbon (carbon sequestrasi).
    • Mekanisme kedua melalui subsitusi energi fosil dengan biofuel sawit.

Industri Sawit Sebagai Bagian dari Solusi Pemanasan Global dan Perubahan Iklim [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 9 Tahun 2020

  • Industri sawit berperan sebagai solusi pemanasan global dan perubahan iklim melalui dua mekanisme yakni penyerapan kembali emisi karbon dan penurunan emisi karbon.
  • Pada mekanisme penyerapan kembali emisi karbon memanfaatkan peran tanaman kelapa sawit sebagai tumbuhan hijau dengan kemampuan berfotosintesis untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi dan menghasilkan oksigen ke atmosfer bumi.
  • Mekanisme kedua yakni penurunan emisi karbon ditunjukkan dengan kontribusi industri sawit menghasilkan biofuel/bioenergi generasi pertama, kedua, dan ketiga yang rendah emisi sehingga dapat dijadikan alternatif penggunaan energi fosil yang boros emisi.
  • Selain memiliki kemampuan besar dalam penurunan emisi GRK, penggunaan biofuel/bioenergi sawit khususnya yang diproduksi dari biomassa dan limbah memiliki manfaat lain yakni meminimalisir terjadinya trade-off fuel-food.

Kebun Sawit Dianggap Sebagai Penyebab dari Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Global, Benarkah? [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 6 Tahun 2020

  • Industri sawit berperan sebagai solusi pemanasan global dan perubahan iklim melalui dua mekanisme yakni penyerapan kembali emisi karbon dan penurunan emisi karbon.
  • Pada mekanisme penyerapan kembali emisi karbon memanfaatkan peran tanaman kelapa sawit sebagai tumbuhan hijau dengan kemampuan berfotosintesis untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi dan menghasilkan oksigen ke atmosfer bumi.
  • Mekanisme kedua yakni penurunan emisi karbon ditunjukkan dengan kontribusi industri sawit menghasilkan biofuel/bioenergi generasi pertama, kedua, dan ketiga yang rendah emisi sehingga dapat dijadikan alternatif penggunaan energi fosil yang boros emisi.
  • Selain memiliki kemampuan besar dalam penurunan emisi GRK, penggunaan biofuel/bioenergi sawit khususnya yang diproduksi dari biomassa dan limbah memiliki manfaat lain yakni meminimalisir terjadinya trade-off fuel-food.

Biodiesel Sawit sebagai Solusi Kebijakan Trump [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 22 Tahun 2019

  • Negara super power (Amerika Serikat) merupakan salah satu negara emitter utama di dunia dengan kontribusinya mencapai 13 persen dari emisi global.
  • Besarnya kontribusi USA terhadap emisi GHG global menuntut negara ini turut bertanggung jawab untuk menurunkan emisi GHG dunia bersama negara emitter utama lainnya. Bentuk kontribusi negara-negara emitter utama dunia dan negara lainnya adalah Paris Agreement.
  • Dibawah kepemimpinan Presiden Trump menghendaki USA keluar dari kesepakatan tersebut. Hal ini dikarenakan, kesepakatan tersebut berpotensi menurunkan perekonomian dan kesejahteran USA. Upaya lainnya untuk menurunkan emisi yang sudah dilakukan oleh USA adalah dengan pengembangan biodiesel dengan bahan baku utama minyak kedelai.
  • Menurut beberapa studi, biodiesel dengan bahan baku kedelai justru meningkatkan emisi, inefisien dalam penggunaan input dan deforestrasi yang luas serta biaya produksi yang relatif tinggi.
  • Solusi yang ditawarkan untuk USA dalam rangka tetap berkontribusi untuk menurunkan emisi global dengan tetap mempertahankan kesejahteraan negaranya adalah dengan mengembangkan biodiesel sawit yang mampu menghemat emisi serta harganya lebih kompetitif dibandingkan biodiesel minyak nabati lainnya.

Minyak Sawit sebagai Solusi Penurunan Emisi bagi Emitter Utama Dunia [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 20 Tahun 2019

  • China adalah negara penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di dunia, dengan peningkatan 5 persen per tahun selama periode 1990-2016.
  • Sumber emisi GHG terbesar berasal dari gas karbon dioksida (CO2) akibat penggunaan energi fosil, sementara sektor pertanian juga berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi.
  • Salah satu cara untuk menurunkan emisi China adalah dengan menggantikan konsumsi energi fosil dengan energi terbarukan, terutama biodiesel.Minyak sawit merupakan alternatif utama yang digunakan oleh industri biodiesel China karena harganya yang lebih murah dan menghemat emisi jika dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.
  • Oleh karena itu, penggunaan biodiesel sawit merupakan pilihan yang tepat untuk menurunkan emisi GHG China.

Minyak Sawit sebagai Solusi Penurunan Emisi India [Sawit dan Pemanasan Global] – Jurnal PASPI Nomor 17 Tahun 2019

  • India termasuk Top-4 emitter global
  • Selama periode tahun 1990-2016, peningkatan emisi GRK India dari 1.4 giga ton CO2 eq menjadi 3.65 giga ton CO2  eq.
  • Sebagian besar emisi GRK India bersumber dari sektor energi yang menghasilkan emisi CO2 (65 persen) dan sektor pertanian yang menghasilkan emisi CH4 dan N2O (30 persen).
  • Industri sawit menjadi solusi bagi India untuk menurunkan emisi GRK melalui penggantian minyak nabati untuk produk pangan maupun produk toileteries dan penggunaan biodiesel sawit untuk sektor energi.

Pertanyaan yang sering ditanyakan seputar Sawit dan Pemanasan Global

Apa yang menyebabkan pemanasan global?

Bagaimana perkebunan kelapa sawit terkait dengan pemanasan global?

Apa itu “carbon sink” dan bagaimana perkebunan kelapa sawit berperan dalam hal ini?

Bagaimana industri sawit dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca?

Apa kontribusi biodiesel sawit dalam menurunkan emisi gas rumah kaca?

Bagaimana industri sawit dapat berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca?

Apa yang dimaksud dengan kebijakan mandatori biodiesel, dan bagaimana dampaknya pada emisi gas rumah kaca?

Mengapa komitmen global terhadap perubahan iklim penting, dan bagaimana industri sawit berperan di dalamnya?

Mengapa penting untuk meningkatkan keberlanjutan dalam industri sawit?

Bagaimana peran perkebunan kelapa sawit dalam mengurangi emisi GRK dan mengatasi perubahan iklim?

Apa yang dimaksud dengan mekanisme pemanasan global?

Bagaimana peran perkebunan kelapa sawit sebagai “carbon sink”?

Apa hubungan antara biodiesel sawit dan pengurangan emisi gas rumah kaca?

Bagaimana implementasi kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia mempengaruhi emisi gas rumah kaca?

Bagaimana peran industri sawit dalam mencapai tujuan berkelanjutan terkait perubahan iklim?

Share
5 1 vote
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
Bilal Adijaya
Bilal Adijaya
17/03/2023 7:45 PM
Berikan Rating Untuk Artikel Ini :
     

sawit menuju NZE 2050 merupakan salah satu instrumen yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi dan lingkungan secara simultan

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x