Jurnal Sawit dan Ekonomi Nasional (2023)

Jurnal Sawit dan Ekonomi Nasional (2023)

JOURNAL AUTHOR

Dr. ir. tungkot sipayung

Executive Director at PASPI

Dr. Ir. Tungkot Sipayung is a seasoned professional in the palm oil industry with over 23 years of experience. Currently serving as Executive Director of PASPI, he is a recognized leader and expert in the development of agribusiness strategies. Under his leadership, PASPI continues to drive growth, innovation, and sustainability in the industry.

Share

Poin-Poin Peristiwa Sawit dan Ekonomi Nasional

Berikut adalah poin-poin peristiwa dalam isu sawit dan nasional :

  • Pertumbuhan Ekonomi Desa Sawit: Perkembangan ekonomi di daerah perkebunan kelapa sawit terjadi baik di tingkat nasional maupun di setiap provinsi yang merupakan pusat perkebunan kelapa sawit. Pertumbuhan ini tercermin dari Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) Desa Sawit yang meningkat dari 0.41 pada tahun 2016 menjadi 0.58 pada tahun 2021. Secara rata-rata, kemajuan ekonomi Desa Sawit lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Non-Sawit dalam periode 2016-2021.
  • Kontribusi Devisa dari Ekspor Minyak Kelapa Sawit: Devisa dari ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya memiliki kontribusi penting dalam neraca perdagangan non-migas Indonesia. Tanpa ekspor minyak kelapa sawit, neraca non-migas umumnya mengalami defisit, namun dengan adanya ekspor minyak kelapa sawit, neraca non-migas selalu mengalami surplus.
  • Hilirisasi Produk Kelapa Sawit: Selama periode 2010-2020, hilirisasi kelapa sawit Indonesia mencatat kemajuan yang signifikan. Namun, hilirisasi yang terjadi masih didominasi oleh produk antara dengan nilai tambah yang masih relatif rendah. Oleh karena itu, diperlukan pendalaman hilirisasi lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.
  • Perubahan Struktur Ekspor: Peningkatan produksi kelapa sawit disertai dengan hilirisasi kelapa sawit di Riau, yang telah mengubah struktur ekspor Riau. Dominasi produk migas dalam struktur ekspor Riau semakin menurun dan digantikan oleh produk kelapa sawit.
  • Restorasi Degraded Land menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru: Proses perkebunan kelapa sawit dalam merestorasi lahan yang terdegradasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah di Indonesia, dapat dibagi menjadi tiga fase proses pembangunan yaitu fase perintisan, fase percepatan, dan fase pusat pertumbuhan ekonomi baru.
  • Pusat-pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Daerah Berbasis Industri Sawit: Terdapat beberapa pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah yang berbasis industri kelapa sawit di berbagai provinsi di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit di daerah tersebut menjadi lokomotif pengurangan kemiskinan di pedesaan dan perkotaan.
Materi Isu Sawit dan Ekonomi

Data Indeks Ketahanan Ekonomi Desa Sawit dan Desa Non-Sawit pada Top-8 Provinsi Sawit

Sawit dan ekonomi nasional
Gambar 1. Indeks Ketahanan Ekonomi Desa Sawit dan Desa Non-Sawit pada Top-8 Provinsi Sawit
  1. Peningkatan kemajuan ekonomi pada Desa Sawit terjadi baik di tingkat nasional maupun setiap provinsi pada Top-8 sentra perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
  2. Kemajuan ekonomi desa tersebut tercerminkan dari Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE).
  3. Secara nasional, IKE Desa Sawit meningkat dari 0.41 pada tahun 2016 menjadi 0.58 pada tahun 2021.

Data Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) Desa Sawit dan Desa Non-Sawit Secara Agregat

Indeks Ketahanan Ekonomi IKE Desa Sawit dan Desa Non Sawit Secara Agregat
Gambar 2. Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) Desa Sawit dan Desa Non-Sawit Secara Agregat
  1. Jika dibandingkan rata-rata nilai kemajuan ekonomi antara Desa Sawit dan Desa Non-Sawit menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi Desa Sawit lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Non-Sawit periode tahun 2016-2021.

Data Perkembangan dan Peran Devisa Sawit Dalam Neraca Perdagangan Non Migas Indonesia

Tabel 1. Perkembangan dan Peran Devisa Sawit Dalam Neraca Perdagangan Non Migas Indonesia (USD Milyar)

TahunEkspor Minyak Kelapa SawitNetto Ekspor Non Migas Tanpa Minyak Kelapa SawitNetto Ekspor Non Migas (dengan Minyak Kelapa Sawit)
201016.311.127.4
201121.63.725.3
201221.3-17.43.9
201319.2-10.78.5
201421.1-9.911.2
201518.6-4.913.7
201618.1-3.415.2
201722.9-2.520.4
201820.5-16.54.0
201920.2-13.76.5
202023.04.727.7
Jan-Agu 2123.44.828.2
Sumber: BPS, diolah
  1. Devisa sawit dari ekspor minyak sawit dan produk turunannya memiliki kontribusi yang cukup penting dalam neraca perdagangan non-migas Indonesia.
  2. Tanpa ekspor minyak sawit, neraca non-migas umumnya mengalami defisit.
  3. Sebaliknya dengan adanya ekspor minyak sawit membuat neraca non-migas selalu mengalami surplus.

Data Indeks Nilai Tambah Produk Hilir Sawit

Indeks Nilai Tambah Produk Hilir Sawit
Gambar 3. Indeks Nilai Tambah Produk Hilir Sawit
  1. Dalam periode 2010-2020, hilirisasi sawit Indonesia telah mencatat kemajuan yang signifikan.
  2. Namun, hilirisasi yang terjadi masih didominasi oleh produk antara (intermediate product) yang nilai tambahnya masih relatif rendah.
  3. Oleh karena itu, dibutuhkan pendalaman hilirisasi lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Data Perubahan Struktur Ekspor Riau

Perubahan Struktur Ekspor Riau
Gambar 4. Perubahan Struktur Ekspor Riau (Sumber: BPS)
  1. Peningkatan produksi perkebunan sawit juga disertai dengan hilirisasi sawit di Riau yang juga telah turut merubah struktur ekspor Riau.
  2. Dominasi produk migas dalam struktur ekspor Riau semakin menurun dan digantikan oleh produk sawit.

Data Fase-Fase Restorasi Degraded land menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Fase Fase Restorasi Degraded land menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Berbasis Kelapa Sawit
Gambar 5. Fase-Fase Restorasi Degraded land menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Berbasis Kelapa Sawit (Sumber: PASPI, 2014)
  1. Proses perkebunan kelapa sawit dalam merestorasi degraded land menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah di Indonesia, dapat dibagi atas tiga fase proses pembangunan.
  2. Ketiga fase yang dimaksud adalah fase perintisan, fase percepatan dan fase pusat pertumbuhan ekonomi baru.
  3. Fase Perintisan (A dan B) merupakan fase awal dimana calon lokasi (degraded land) yang ditetapkan pemerintah sebagai wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR).
  4.  Fase kedua yakni Fase Percepatan (C). Berkembangnya perkebunan inti dan/atau korporasi yang melibatkan petani plasma pada daerah degraded land
  5. Pada fase ketiga yakni fase Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Daerah (D). Seiring dengan makin berkembangnya kegiatan perkebunan sawit diberbagai daerah maka turut menggerakkan sektor ekonomi lainnya.

Data Pusat-pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Daerah yang Berbasis Industri Sawit

Tabel 1. Pusat-pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Daerah yang Berbasis Industri Sawit

ProvinsiPusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
 AcehNagan Raya, Aceh Singkil, Aceh Timur, Subulussalam, Aceh Barat Daya, Aceh Utara Dan Lainnya
Sumatera UtaraStabat, Belarang, Sei Rampah, Limapuluh, Perdagangan, Rantau Prapat, Aek Kanopan, Aek Nabara, Kota Pinang, Sosa, Sibuhuan, Panyabungan Dan Lain-Lain
Sumatera BaratPasaman Barat, Dharmas Raya, Agam, Pesisir Selatan, Sijunjung Dan Lainnya
Sumatera SelatanSungai Lilin, Tugumulyo, Pematang Panggang, Bayung Lencir, Musi Rawas, Peninjauan, Muara Enim, Lahat
RiauPasir Pengaraian, Bangkinang, Siak Sri Indrapura, Rengat, Tembilahan, Bengkalis, Bagan Siapi-Api, Teluk Kuantan, Dumai, Pekanbaru Dan Lain-Lain
JambiSarolangun, Sungai Bahar, Sengeti, Kuala Tungkal Dan Lainnya
BengkuluBengkulu Selatan, Mukomuko, Seluma, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan,  Bengkulu Tengah Dan Lainnya
Kalimantan BaratSanggau, Bengkayang, Ketapang, Sintang, Kubu  Raya Dan Lainnya
Kalimantan TengahSampit, Kuala Pembuang, Pangkalan Bun, Kasongan Dan Lainnya
Kalimantan TimurSangatta, Tenggarong, Tana Pase, Tanjung Redeb, Nunukan, Sendawar Dan Lainnya
Kalimantan SelatanBatulicin, Kotabaru, Pelaihari Dan Lainnya
SulawesiMamuju, Donggala, Bungku, Luwu, Pasangkayu, Dan Lainnya
Papua & Papua BaratKeerom, Sorong, Sorong Selatan, Manokwari, Teluk Bintuni, Fak-Fak, Merauke Dan Lainnya
  1. Aglomerasi dari dua pola perkebunan kelapa sawit (pola BUMN-Plasma-Swadaya dan pola Korporasi swasta-Swadaya) dengan sektor-sektor jasa pendukung yang berkembang mampu membentuk suatu kawasan agropolitan yang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah tersebut.
  2. Hingga tahun 2013, setidaknya terdapat 50 kawasan pedesaan terbelakang/terisolir yang telah berkembang menjadi kawasan pertumbuhan baru dengan basis ekonomi sawit.

Jurnal Terkait Sawit dan Ekonomi Nasional

Ketahanan Ekonomi “Desa Sawit” Versus “Desa Non Sawit” – Jurnal PASPI Nomor 13 Tahun 2022

  • Ketahanan ekonomi yang dicapai Desa Sawit telah mencapai 58 persen dari kondisi ideal Ketahanan Ekonomi yang ditargetkan Pemerintah (dalam hal ini adalah Kemendesa PDTT).
  • Ketahanan Ekonomi yang terjadi pada Desa Non-Sawit baru mencapai 53 persen dari target tersebut.
  • Potensi untuk meningkatkan kemajuan ketahanan ekonomi masih terbuka luas baik pada Desa Sawit (42 persen) maupun Desa Non-Sawit (47 persen).

Economic Sustainability Industri Sawit Indonesia : Review dan Isu Strategis – Jurnal PASPI Nomor 42 Tahun 2021

  • Industri minyak sawit merupakan wahana sharing prosperity yang dapat membagi “kue ekonomi” yang dapat dinikmati oleh masyarakat baik pada level regional, nasional maupun global atau menghasilkan multilevel economic benefit.
  • Multilevel economic benefit tersebut akan sustainable, jika industri sawit sustainable secara ekonomi, bahkan besaran manfaat tersebut berpotensi untuk terus diperbesar melalui perbaikan aspek economic sustainablity dari industri sawit.
  • Tiga isu strategis untuk mencapai economic sustainablity dari industri sawit yakni peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi dan pendalaman hilirisasi.

Industri Sawit Mentransformasi Ekonomi Riau dari Non-Renewable Menjadi RenewableJurnal PASPI Nomor 30 Tahun 2021

  •  Perekonomian Riau sejak era Kolonial dibangun dengan andalan non-renewable resources berbasiskan minyak bumi dengan aktor utama korporasi multinasional.
  • Namun dalam 20 tahun terakhir, pangsa minyak bumi pada PDRB Riau terus mengalami penurunan dari 62 persen menjadi 14 persen tahun 2020.
  • Di sisi lain, Riau berhasil mengembangkan ekonomi berbasiskan sumberdaya yang lebih renewable yakni perkebunan sawit dengan aktor utama sinergitas perkebunan sawit rakyat, swasta dan BUMN (PTPN).
  • Industri sawit berhasil menggantikan posisi migas dengan pangsa ekspornya meningkat dari hanya 0.34 persen menjadi 60 persen.
  • Industri sawit telah mentransformasi ekonomi Riau dari non-renewable economy kepada renewable economy sekaligus juga merubah dari ekonomi unsustainable economy ke sustainable economy.

Perkebunan Sawit Mampu Merestorasi Degraded Land Menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi BaruJurnal PASPI Nomor 20 Tahun 2021

  • Perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang sebagian besar dibangun pada daerah-daerah degraded land telah berkembang menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
  • Perkebunan kelapa sawit sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru juga mampu berperan signifikan baik dalam pertumbuhan pendapatan petani maupun pertumbuhan ekonomi daerah.
  • Pengembangan perkebunan sawit mampu merubah daerah yang sebelumnya berupa degraded land menjadi berkembang dan tumbuh menjadi lokomotif pengurangan kemiskinan pedesaan dan perkotaan.

Perkembangan Kelapa Sawit di Provinsi LampungJurnal PASPI Nomor 24 Tahun 2018

  • Provinsi Lampung meskipun bukan sentra produksi kelapa sawit nasional, namun perkebunan kelapa sawit telah mulai berkembang di Lampung seiring semakin prospektifnya industri minyak sawit.
  • Luas area perkebunan kelapa sawit di Lampung telah mencapai 256 ribu ha pada tahun 2017 atau mengalami pertumbuhan rata – rata 6,24 % pertahun sejak tahun 2000.
  • Proporsi area kebun sawit di Provinsi Lampung masih didominasi Perkebunan Rakyat (PR) yang mencapai 54%.
  • Analisis finansial menunjukkan bahwa kebun sawit rakyat memiliki nilai B/C 3.98 dan NPV 21.299.697. Selain itu pendapatan usaha tani kelapa sawit rakyat yang diperoleh sejak tanaman berumur 4 tahun mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp 15.661.038/hektar/tahun.

Kelapa Sawit dalam Ekonomi Daerah dan Potensi Integrasi Kelapa SawitJurnal PASPI Nomor 22 Tahun 2018

  • Keberadaan perkebunan kelapa sawit terbukti memberikan dampak pada peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) pada daerah – daerah sentra kelapa sawit.
  • Manfaat perkebunan kelapa sawit juga masih memiliki potensi untuk ditingkatkan melalui program integrasi sawit dengan tanaman atau ternak.
  • Berdasarkan berbagai kajian yang dilakukan, menunjukkan bahwa dengan luasnya perkebunan kelapa sawit menjadi peluang untuk pengembangan ternak sebagai sumber pakan. Tanaman kelapa sawit belum menghasilkan dapat dilakukan integrasi dengan tanaman pangan atau tanaman temu temuan.
  • Integrasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sawit selama proses menunggu periode kelapa sawit menghasilkan tandan buah segar.

Kebijakan Nasional Dalam Industri Sawit Menuju Ekonomi Indonesia Pada Urutan 10 Besar DuniaJurnal PASPI Nomor 17 Tahun 2017

  • Keberhasilan Indonesia menjadi negara utama CPO di pasar dunia sejak tahun 2006, merupakan pendorong pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai peringkat ke-10 dunia pada tahun 2050.
  • Pasar minyak nabati dunia membuka peluang bagi Indonesia sebagai produsen utama dunia untuk tetap memimpin pasar CPO dunia.
  • Diperlukan suatu kebijakan nasional dalam tata guna tanah di Indonesia, untuk memanfaatkan ketersedaan lahan yang ada, sekaligus menempis persepsi negatif selama ini.

Pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Strategi Pembangunan Pedesaan TertinggalJurnal PASPI Nomor 38 Tahun 2015

  • Pembangunan perkebunan kelapa sawit dapat menjadi salah satu strategi dalam percepatan pembangunan daerah pedesaan tertinggal di Indonesia.
  • Kawasan pedesaan tertinggal yang tertinggal dalam segala hal memerlukan dorongan besar (bigpush) untuk keluar dari ketertinggalannya.
  • Pendekatan pembangunan perkebunan kelapa sawit yang mengkombinasikan investasi korporasi, investasi masyarakat (mandiri) dalam kelembagaan kemitraan kawasan industri masyarakat perkebunan (Kimbun) ternyata mampu menjadi pendorong yang kuat roda perekonomian daerah.

Minyak Sawit Mendorong Kesejahteraan Sumatera SelatanJurnal PASPI Nomor 27 Tahun 2015

  • Pembangunan kelapa sawit di Sumatera Selatan memiliki karakteristik yang berbeda dengan sentra produksi sawit lainnya di Indonesia. 
  • Salah satu faktor pendorong perkembangan sawit di Sumatera Selatan adalah pola PIR, khususnya oleh perkebunan swasta di Provinsi Sumatera Selatan.
  • Hasil pengkajian PASPI dampak pembangunan perkebunan sawit terhadap penurunan kemiskinan, mengangkat masyarakat petani ke level berpendapatan menengah, dan mendorong pertumbuhan PDRB yang selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Kontribusi Minyak Sawit dalam Perekonomian Kalimantan Tengah BerkelanjutanJurnal PASPI Nomor 26 Tahun 2015

  • Bila dibandingkan dengan dengan Provinsi lainnya di Pulau Kalimantan, maka terlihat bahwa Kalimantan Tengah memiliki kecepatan yang lebih besar dalam transformasi pembangunan ekonomi di Kalimantan dari “Ekonomi berburu“ ke “ekonomi agribisnis”.  
  • Pertumbuhan pangsa pertanian terus meningkat hingga Triwulan ke-2 2015, yakni 7.00%, sedangkan kontribusi tambang menurun 1.30%.
  • Data empiris juga menunjukkan kontribusi karet yang selama ini salah satu komoditas andalan ekspor Kalimantan Tengah, secara lambat laun juga semakin menurun dan digantikan oleh minyak sawit.
  • Strategi pembangunan sawit merupakan penggerak pembangunan perekonomian Kalimantan Tengah berkelanjutan.

FAQs

Apa yang dimaksud dengan Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) Desa Sawit dan bagaimana perkembangannya di tingkat nasional dan provinsi?

Bagaimana kontribusi devisa dari ekspor minyak kelapa sawit dalam neraca perdagangan non-migas Indonesia?

Bagaimana perkembangan hilirisasi produk kelapa sawit di Indonesia dan apa tantangan yang dihadapi?

Selama periode 2010-2020, industri hilirisasi kelapa sawit di Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan. Meskipun demikian, kebanyakan produk hasil hilirisasi masih termasuk dalam kategori produk antara dengan nilai tambah yang relatif rendah. Tantangan utama dalam hilirisasi adalah untuk mendalami lebih lanjut proses tersebut agar menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Bagaimana perubahan struktur ekspor Riau terkait produksi kelapa sawit?

Produksi kelapa sawit yang meningkat di Riau telah membawa perubahan pada struktur ekspor daerah tersebut. Dominasi produk migas dalam struktur ekspor Riau semakin menurun seiring meningkatnya ekspor produk kelapa sawit. Hal ini menggambarkan pergeseran fokus ekonomi daerah dari produk migas ke produk kelapa sawit.

Bagaimana proses restorasi degraded land melalui perkebunan kelapa sawit dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia?

Proses restorasi lahan yang terdegradasi melalui perkebunan kelapa sawit di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase: fase perintisan, fase percepatan, dan fase pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pada fase perintisan, lahan yang ditetapkan sebagai wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit dimulai dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Fase percepatan melibatkan perkembangan perkebunan inti dan/atau korporasi dengan melibatkan petani plasma. Pada fase pusat pertumbuhan ekonomi baru, pengembangan perkebunan sawit menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah.

Bagaimana peran perkebunan kelapa sawit dalam pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah berbasis industri sawit?

Terdapat beberapa pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah-daerah yang berbasis industri kelapa sawit di berbagai provinsi di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit di daerah-daerah tersebut berfungsi sebagai lokomotif dalam mengurangi kemiskinan di pedesaan maupun perkotaan. Keberadaan perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut.

Bagaimana perbandingan ketahanan ekonomi antara “Desa Sawit” dan “Desa Non-Sawit”?

Ketahanan ekonomi yang dicapai Desa Sawit telah mencapai 58 persen dari kondisi ideal Ketahanan Ekonomi yang ditargetkan Pemerintah. Di sisi lain, Ketahanan Ekonomi pada Desa Non-Sawit baru mencapai 53 persen dari target tersebut. Ada potensi untuk meningkatkan kemajuan ketahanan ekonomi baik pada Desa Sawit maupun Desa Non-Sawit.

Bagaimana industri sawit telah berkontribusi dalam transformasi ekonomi Riau dari non-renewable menjadi renewable?

Industri sawit berhasil menggantikan posisi minyak bumi dalam ekonomi Riau yang sebelumnya bergantung pada sumber daya non-renewable. Dengan pertumbuhan industri sawit, pangsa ekspornya meningkat secara signifikan. Industri sawit telah mentransformasi ekonomi Riau dari ekonomi yang tidak berkelanjutan menjadi ekonomi yang berkelanjutan dan lebih berbasis pada sumber daya terbarukan.

Bagaimana peran perkebunan kelapa sawit dalam pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung?

Meskipun bukan sentra produksi kelapa sawit nasional, perkebunan kelapa sawit di Provinsi Lampung telah berkembang dan memberikan dampak pada peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Pengembangan perkebunan sawit di Lampung juga memberikan peluang untuk integrasi dengan tanaman atau ternak, yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta pertumbuhan ekonomi daerah.

Share
0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x