Mengenal Carbon Sink (2025)

Share

Dalam upaya mengatasi perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan, peran dari carbon sink atau penyerap karbon menjadi semakin penting. Carbon sink adalah wadah alami atau buatan yang mampu menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer, membantu mengurangi konsentrasi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Beberapa penyerap karbon alami yang utama meliputi hutan, lautan, dan tanah. Selain itu, teknologi penyerap karbon buatan seperti Carbon Capture and Storage (CCS) dan Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS) juga semakin berkembang untuk mendukung mitigasi perubahan iklim.

Jenis-Jenis Carbon Sink Alami

Beberapa jenis carbon sink alami adalah hutan, laut, tanah dan beberapa perkebunan yang memiliki fungsi sama seperti hutan, salah satunya adalah perkebunan sawit.

Hutan sebagai Carbon Sink Alami

Hutan yang termasuk pohon dan tumbuhan, memiliki fungsi alami dalam menyerap CO₂ melalui proses fotosintesis. Selama fotosintesis, tanaman menyerap CO₂ dan mengubahnya menjadi biomassa yang disimpan di batang, akar dan tanah. Proses ini tidak hanya mengurangi jumlah karbon di atmosfer, tetapi juga memperkaya keanekaragaman hayati dan meningkatkan ketahanan ekosistem. Dengan manajemen hutan yang berkelanjutan dan upaya reboisasi, kemampuan hutan untuk menyerap karbon dapat ditingkatkan, memberikan solusi alami untuk mengurangi emisi karbon.

Lautan sebagai Carbon Sink Alami

Lautan menyerap sekitar 30% dari emisi CO₂ global setiap tahunnya, sehingga menjadikannya sebagai salah satu penyerap karbon alami terbesar di planet ini. Di lautan, CO₂ digunakan oleh organisme laut untuk fotosintesis atau disimpan dalam air laut. Proses ini juga berkontribusi pada pembentukan cangkang oleh organisme seperti terumbu karang. Seiring waktu, karbon dapat tersimpan di lapisan laut yang lebih dalam melalui proses fisika dan biologis.

Tanah Sebagai Carbon Sink Alami

Tanah berfungsi sebagai reservoir karbon yang penting melalui penyerapan bahan organik, seperti tanaman yang membusuk dan mikroorganisme. Proses dekomposisi tanaman dan sisa-sisa organik di tanah mengunci karbon di dalam tanah. Pengelolaan lahan yang baik, seperti pengolahan tanah konservatif, penggunaan penutup tanaman dan praktik pertanian organik, dapat meningkatkan penyimpanan karbon dalam tanah, sekaligus meningkatkan kesuburan dan produktivitas pertanian.

Perkebunan Sawit Sebagai Carbon Sink Alami

Menurut penelitian Henson (1999), sawit memiliki kemampuan untuk menyerap hingga 64,5 ton karbon per hektar setiap tahunnya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hutan tropis yang, berdasarkan studi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS, 2023), hanya mampu menyerap sekitar 25 ton karbon per hektar per tahun. Kemampuan penyerapan karbon yang tinggi ini menjadikan kelapa sawit sebagai salah satu tanaman paling efisien dalam mitigasi emisi karbon dioksida. Selain itu, proses biosequestrasi, yaitu penyimpanan karbon dalam biomassa, juga sangat penting dalam konteks perubahan iklim. Di Indonesia, stok karbon yang tersimpan dalam biomassa kelapa sawit rata-rata mencapai 40 ton per hektar, dengan potensi meningkat seiring bertambahnya umur tanaman.

1. Perkebunan Sawit sebagai Carbon Sink 01 scaled

Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak hanya berfungsi sebagai penghasil minyak nabati, tetapi juga sebagai solusi ekologis yang dapat membantu mengurangi emisi karbon. Seiring dengan pertumbuhan tanaman, jumlah karbon yang diserap dan disimpan terus meningkat, memberikan dampak jangka panjang dalam upaya pengurangan GRK di atmosfer

Jenis-Jenis Carbon Sink Artificial (Buatan)

Perkembangan teknologi dunia berhasil membuat dua teknologi penyimpanan karbon yang dapat dibuat oleh manusia, yaitu Carbon Capture and Storage (CCS) dan Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS).

Carbon Capture and Storage (CCS)

Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dirancang untuk menangkap emisi CO₂ dari sumber industri, seperti pembangkit listrik dan menyimpannya di formasi geologi bawah tanah. Teknologi ini efektif dalam mencegah emisi CO₂ masuk ke atmosfer lewat pengurangan emisi yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. CCS dapat diterapkan pada berbagai industri sehingga menjadikan CCS sebagai alat yang serbaguna untuk mitigasi emisi karbon.

co2 development EN

Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS)

Teknologi BECCS mengombinasikan produksi energi biomassa dengan teknologi CCS, di mana biomassa yang telah menyerap CO₂ saat tumbuh digunakan sebagai sumber energi. Emisi CO₂ yang dihasilkan selama produksi energi kemudian ditangkap dan disimpan. BECCS dianggap sebagai teknologi emisi negatif karena tidak hanya mengurangi emisi CO₂ tetapi juga dapat mengurangi konsentrasi CO₂ di atmosfer.

A cost optimal supply chain for biomass waste to energy or hydrogen based bioenergy

Mitigasi Perubahan Iklim Lewat Carbon Sink

Carbon Sink memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan siklus karbon global. Dengan menyerap dan menyimpan karbon di atmosfer, Carbon Sink dapat membantu mengurangi efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Namun, aktivitas-aktivitas manusia seperti deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil dan degradasi tanah telah mengurangi efektivitas carbon sink alami, sehingga menyebabkan perubahan iklim yang signifikan.

Salah satu tantangan utama dalam proses carbon sink adalah memastikan stabilitas dalam penyimpanan karbon dalam jangka panjang, misalkan, deforestasi yang berkelanjutan tidak hanya melepaskan karbon yang telah disimpan di hutan, tetapi juga mengurangi kemampuan masa depan hutan untuk menyerap karbon. Begitu juga, degradasi tanah dan pengasaman lautan dapat mengganggu kemampuan tanah dan lautan dalam menyerap karbon secara efektif.

Tantangan dalam Pengembangan Teknologi Carbon Sink

Penelitian-penelitian dalam carbon sink terus berkembang, terutama penelitian yang berfokus pada langkah dan cara yang efektif dalam meningkatkan kapasitas penyerapan karbon seperti CCS dan BECCS serta mengembangkan teknologi baru lainnya untuk menyerap karbon yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, biaya tinggi dalam produksi teknologi-teknologi carbon sink menjadi topik utama dalam pengembangan teknologi sistem carbon sink

file 20231220 29 qulhfw.jpg?ixlib=rb 4.1

Perkebunan Sawit Sebagai Solusi Alami dalam Carbon Sink

Menurut penelitian Henson (1999), kelapa sawit memiliki kemampuan menyerap hingga 64,5 ton karbon per hektar setiap tahunnya, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hutan tropis yang, menurut studi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS, 2023), hanya mampu menyerap sekitar 25 ton karbon per hektar per tahun. Kemampuan ini menjadikan kelapa sawit sebagai salah satu tanaman paling efisien dalam mitigasi emisi karbon dioksida serta didukung oleh proses biosequestrasi, yang merupakan proses penyimpanan karbon dalam biomassa secara alamiah.

Di Indonesia, stok karbon yang tersimpan dalam biomassa kelapa sawit rata-rata mencapai 40 ton per hektar, dengan potensi meningkat seiring bertambahnya umur tanaman, sehingga, menunjukkan bahwa kelapa sawit tidak hanya berfungsi sebagai penghasil minyak nabati tetapi juga sebagai solusi ekologis yang berkontribusi pada pengurangan emisi karbon jangka panjang.

Morfologi kelapa sawit yang merupakan tanaman tahunan dengan sistem akar kuat dan pertumbuhan cepat, serta daun lebat yang membentuk kanopi hampir penuh saat dewasa, dapat meningkatkan kemampuan penyerapan karbon. Masa produktif kelapa sawit yang lebih dari 25 tahun juga membuat sawit memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jangka waktu panjang. Satu siklus hidupnya pohon sawit yang mencapai 25-30 tahun dapat menjadikan kelapa sawit sebagai “mesin biologis” yang efisien dalam menyerap karbon secara konsisten. Karakteristik ini memberikan keunggulan dibandingkan dengan tanaman semusim seperti kedelai atau rapeseed yang memerlukan penanaman ulang setiap tahun.

Kesimpulan

carbon sink alami maupun buatan memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer guna mengurangi konsentrasi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Hutan, lautan dan tanah dapat berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang efektif, namun pengelolaannya harus lebih berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitasnya dalam mengatasi perubahan iklim.

Di sisi lain, teknologi buatan seperti Carbon Capture and Storage (CCS) dan Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS) memberikan solusi yang inovatif untuk menangkap dan menyimpan karbon dari hasil proses produksi berbagai industri. Namun, teknologi ini memiliki biaya yang tinggi dan masalah dalam skalabilitas. Kelapa sawit lewat kemampuan biosequestrasi yang lebih tinggi dibandingkan hutan tropis, menunjukkan potensi besar sebagai penyerap karbon alami. Dengan kemampuannya menyerap hingga 64,5 ton karbon per hektar setiap tahunnya dan masa hidup yang panjang, perkebunan sawit dapat menjadi salah satu solusi ekologis yang signifikan dalam pengurangan emisi karbon di dunia lewat Indonesia.

Share
0 0 votes
Berikan Rating Untuk Artikel Ini
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x