Palm Oil-Based Avtur Successfully Shows Good Performance in Ground Test

  • English
  • Bahasa Indonesia

Energy is currently one of the basic needs for humans that must be met to carry out daily activities. Since the issue of fossil fuels and petroleum that continues to deplete and the increase in carbon emissions resulting from fossil energy, many countries, including Indonesia, have developed renewable energy that is more environmentally friendly and low-emissions.

One of the renewable energies that is developing in Indonesia is biofuel as a substitute for fossil fuels as a means of reducing the dependence on fossil fuels. The use of biofuels is also an effort pushed by the government to maintain national energy stability, which is in line with the government’s priority program in achieving the energy mix by 2025, and as part of Indonesia’s comitment to realizing Nationally Determined Contribution (NDC).

The palm oil industry through downstream palm oil products contributes as a feedstock for renewable energy sources. After successfully developing palm biodiesel, Indonesia still continues to innovate to produce other palm oil-based fuels. The discovery of a Katalis Merah Putih offers great hope for the development of other biofuel innovations, such as bio hydrocarbon products (green diesel, green gasoline, and green avtur) as a renewable energy source in Indonesia.

Palm oil greenfuel development progress is relatively fast and significant. In 2020, Pertamina conducted a production trial by processing palm oil into green diesel (D-100) at the Dumai refinery with a production volume of 1000 barrels and has also carried out performance trials. Trials of co-processing of palm gasoline (green gasoline) have also been carried out at the Plaju refinery and the Cilacap refinery. The latest news says that soon the palm gasoline produced by the IVO factory, which is sourced from smallholder oil palm plantations, will be ready to be used in all official cars of the Muba Regency Government.

Meanwhile, trial production (co-processing) green aviation fuel at the Cilacap refinery is expected to end by the end of 2020. There is a difference between the raw materials of palm oil, where green diesel and green gasoline are produced from palm oil (RBDPO), while the raw material for green avtur is palm kernel oil (RBDPKO). After the production test is carried out, green avtur then enters the performance test in aircraft that use palm oil-based avtur (green avtur) or bioavtur.

 

To see how the performance of bioavtur was affected, some tests were carried out, namely two static testin the test-cell owned by PT. Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia on the CFM56-3 engine that uses avtur fuel (Jet A1) and Bioavtur (J2.0 and J2.4). From these tests, it shows that the performance of engines that use bioavtur provides the same correlation with using avtur Jet A1.

palm oil avtur
Source: Liputan6.com

Furthermore, on September 6, 2021, a carried out ground test was on the CN 235-220 aircraft Flying Test Bed (FTB) that uses J.24 Bioavtur as fuel for aircraft, consisting of a mixture of 2.4 percent palm kernel oil that has been processed by using a catalyst.

The ground test was led by Captain Adi Budi of Apron Hangar Aircraft Services PTDI for 20 minutes. For the duration of the test, 50 liters of bioavtur were used up. The trial result shows that everything is normal and within the limits, no engine surges or flameouts. The use of this bioavtur also does not cause problems or indications of contamination in the engine, both in the first strength test with flight idle to maximum power and maximum pressure. The ground test is the last stage before the flight test is carried out.

As stated by Iman Kartolaksono Reksowardojo, who is also a lecturer at ITB, stated that bioavtur has advantages such as low emissions, no need for new infrastructure and change of aircraft engine because the carbon element of bioavtur is compatible. In addition, bioavtur users also do not need to carry out special maintenance but are checked regularly as usual.

With the results of the ground test on aircraft that use green avtur or bioavtur which shows quite good perfomance, it provides optimism for Indonesia in order to reduce imports of fossil avtur and realize energy security based on low emissions and eco-friendly. It is hoped that the results of other tests, such as flight tests using bioavtur fuel, will also show good performance results so that they can be produced commercially immediately.

Energi saat ini menjadi salah satu kebutuhan dasar bagi manusia yang harus dipenuhi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Sejak bergulirnya isu bahan bakar fosil dan minyak bumi yang terus menipis dan meningkatnya emisi karbon yang dihasilkan dari energi fosil, banyak negara termasuk Indonesia melakukan pengembangan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi.

Salah satu energi terbarukan yang dikembangkan di Indonesia adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai substitusi Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil untuk mengurangi ketergantungan sumber energi fosil. Penggunaan BBN juga menjadi upaya yang didorong pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional yang sejalan dengan program prioritas pemerintah dalam mencapai bauran energi pada tahun 2025 serta sebagai bagian dari komitmen Indonesia dalam pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC).

Industri sawit melalui hilirisasi produk sawit berkontribusi sebagai feedstock biofuel (BBN). Setelah berhasil mengembangkan biodiesel sawit, Indonesia masih terus berinovasi menghasilkan BBN berbasis sawit lainnya. Ditemukannya katalis merah putih juga menjadi harapan besar untuk pengembangan inovasi BBN lainnya yaitu produk greenfuel atau biohidrokarbon (green diesel, green gasoline dan green avtur) sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia.

Progres pengembangan greenfuel sawit relatif signifikan dan cepat. Pada tahun 2020, Pertamina melakukan uji coba produksi dengan mengolah minyak sawit menjadi green diesel (D-100) di Kilang Dumai dengan volume produksi 1000 barel dan juga telah melakukan uji coba perfoma. Uji coba produksi co-processing bensin sawit (green gasoline) juga telah dilakukan di Kilang Plaju dan Kilang Cilacap. Kabar terbaru menyebutkan bahwa tidak lama lagi bensin sawit yang dihasilkan oleh pabrik IVO berbasis sawit rakyat siap untuk digunakan di seluruh mobil dinas Pemkab Muba.

Sementara itu, uji coba produksi (co-processing) green avtur di Kilang Cilacap dilakukan pada akhir tahun 2020. Terdapat perbedaan antara bahan baku produk greenfuel sawit ini, dimana green diesel dan green gasoline dihasilkan dari minyak sawit (RBDPO), sementara bahan baku green avtur adalah minyak inti sawit (RBDPKO). Setelah dilakukan uji produksi, green avtur berbasis minyak sawit kemudian memasuki tahap uji perfoma pada pesawat yang menggunakan bahan bakar green avtur berbasis minyak sawit atau Bioavtur.

Untuk melihat bagaimana kinerja bioavtur maka dilakukan sejumlah pengujian, yaitu dua kali uji statik di test-cell milik PT. Garuda Maintanance Facility (GMF) AeroAsia pada mesin CFM56-3 yang menggunakan bahan bakar avtur Jet A1 dan Bioavtur (J2.0 dan J2.4). Dari pengujian tersebut menunjukan bahwa performa mesin yang menggunakan bioavtur memberikan korelasi yang sama dengan menggunakan avtur Jet A1.

palm oil avtur
Source: Liputan6.com

Selanjutnya pada tanggal 6 September 2021, dilakukan ground test pada pesawat CN235-220 Flying Test Bed (FTB) yang menggunakan bahan bakar Bioavtur J.24 sebagai bahan bakar untuk pesawat yang terdiri dari campuran dari 2.4 persen minyak inti sawit (RBDPKO) yang telah diolah dengan menggunakan katalis.

Ground test tersebut dipimpin oleh Captain Adi Budi dari Apron Hanggar Aircraft Services PTDI selama 20 menit. Dengan durasi tes tersebut, bioavtur yabf habis sebanyak 50 liter. Hasil uji tes menunjukkan semua dalam keadaan normal dan masuk ke dalam limitasi tidak ada engine surge atau flameout. Penggunana bioavtur ini juga tidak menimbulkan masalah maupun indikasi terjadiya kontaminasi pada mesin baik pada uji kekuatan pertama kali dengan flight idle hingga maksimum power dan tekanan maksimum. Ground test merupakan tahap terakhir sebelum dilakukan flight test.

Seperti yang disampaikan oleh Iman Kartolaksono Reksowardojo yang juga Dosen ITB, mengungkapkan bahwa bioavtur memiliki sejumlah keunggulan seperti rendah emisi, tidak perlu infrastruktur baru dan mengubah engine karena unsur karbon bioavtur cocok dengan mesin pesawat terbang. Selain itu, pengguna bioavtur juga tidak perlu melakukan perawatan khusus melainkan diperiksa berkala seperti biasanya saja.

Dengan hasil uji ground test pada pesawat yang menggunakan bahan bakar green avtur atau Bioavtur yang meunjukkan hasil yang cukup baik, memberikan optimistik bagi Indonesia dalam rangka mengurangi impor avtur fosil serta mewujudkan ketahanan energi berbasis energi yang rendah emisi dan ramah lingkungan. Diharapkkan hasil pengujian lainya seperti flight test dengan menggunakan bahan bakar bioavtur ini juga menunjukkan hasil perfoma yang baik sehingga dapat segera diproduksi secara komersil.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *