Palm Oil-Based Products as Indonesian Foreign Exchange Heroes

  • English
  • Bahasa Indonesia

Since 2006, Indonesia has succeeded in overtaking Malaysia to occupy the position of the largest palm oil producer in the world. Based on ITC Trademap data, it shows that Indonesia has also succeeded in becoming the largest exporter of palm oil (crude palm oil/CPO and refined palm oil/RPO) in the world, with a share reaching 31 percent in 2020. In addition to exporting palm oil in both crude and refined forms, Indonesia also exports palm oil-based processed products such as cooking oil (and oleo foods), oleochemicals, and biodiesel.

If we look at the export value of palm oil products in the last two decades, it shows that there has been a significant increase, and even the growth rate has reached more than 2000 percent per year. The export value of palm oil products in 2000 was only USD 1.08 billion, then increased to USD 16.3 billion in 2010 and continued to increase to USD 22.9 billion in 2020.
palm oil
Source: BPS

Even the existence of palm oil industry to generate export foreign exchange has been proven in various economic crisis. For example, during the global financial crisis in 2008, the palm oil industry was able to survive and continue to contribute to generating foreign exchange exports of USD 15.4 billion. Even though the export of palm oil products decreased to USD 12.1 billion in 2009, the export performance of palm products again increased to USD 16.3 billion in 2010.

The global economic crisis caused by the COVID-19 pandemic in 2020 has also further proved the existence of the palm oil industry as a source of Indonesian foreign exchange. The export value of palm oil-based products (including CPO and RPO, crude and refined PKO, biodiesel, and oleochemicals) in 2020 reached USD 22.9 billion, or Rp 321.5 trillion (at an exchange rate of Rp 14,000). Foreign exchange for exports of palm products in 2020 is even higher than the conditions before the pandemic, which was only USD 20.2 billion in 2019.

The bright export performance of palm products in 2020 also succeeded in bringing palm products to the title as the main contributor to Indonesia’s export of foreign exchange. Even so, the export foreign exchange generated by palm oil products in that year was greater than the export foreign exchange generated by oil and gas products and mining products. Not only that, the palm oil industry also contributed to the breaking of the record for the highest trade balance surplus since 2011.

The high achievement of foreign exchange for exports of palm oil-based products occurred again in 2021. The export value for the January-August 2021 period reached USD 23.4 billion. Foreign exchange exports were 71.6 percent higher in this period compared to the January-August in 2020, or 1.7 percent higher for the entire year.

When compared to 2020, the amount of foreign exchange for exports of palm products was due more to the increase in global palm oil prices, especially for CPO and RPO products. Meanwhile, the export volume of these products actually decreased as a result of weak global demand. However, the positive trend of exporting palm products in 2021 shows an increase not only in terms of prices due to the booming prices, but also in export volume due to the energy crisis that occurred in India and China.

Due to its prominent achievements as a hero of foreign exchange exports who contributed to Indonesia’s economic growth during the pandemic, the palm oil industry is positioned as a strategic industry that has a role in the national economic recovery post-pandemic.

Therefore, to strengthen and enlarge the role of palm oil as a hero of Indonesia’s foreign exchange, which is beneficial for the national economic recovery, it requires strong commitment and efforts from stakeholders and the Indonesian people to create a conducive business climate for the national palm oil industry through a positive image of palm oil and improved governance for sustainable and competitive of palm oil industry.

Sejak tahun 2006, Indonesia berhasil menggeser Malaysia untuk menempati posisi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Selain menjadi produsen terbesar, data ITC Trademap menunjukkan bahwa Indonesia juga berhasil menjadi eksportir minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO dan Refined Palm Oil/RPO) terbesar di dunia dengan pangsa mencapai 31 persen pada tahun 2020. Selain mengekspor minyak sawit dalam bentuk crude dan refined, Indonesia juga mengekspor produk olahan berbasis sawit seperti minyak goreng (dan oleofood lainnya), oleokimia dan biodiesel.

Jika dilihat dari nilai ekspor produk sawit dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan bahkan laju pertumbuhannya mencapai lebih dari 2000 persen per tahun. Nilai ekspor produk sawit tahun 2000 hanya sebesar USD 1.08 miliar kemudian meningkat menjadi USD 16.3 miliar pada tahun 2010 dan terus meningkat menjadi USD 22.9 miliar pada tahun 2020.

palm oil
Source: BPS

Bahkan eksistensi industri sawit dalam menghasilkan devisa ekspor teruji pada berbagai kondisi ketidakstabilan ekonomi. Misalnya pada krisis finansial global tahun 2008, industri sawit mampu bertahan dan tetap berkontribusi menghasilkan devisa ekspor sebesar USD 15.4 miliar. Meskipun devisa ekspor produk sawit mengalami penurunan menjadi USD 12.1 miliar tahun 2009, namun kinerja ekspor produk sawit kembali meningkat menjadi USD 16.3 miliar tahun 2010.

Krisis ekonomi global yang ditimbulkan akibat Pandemi Covid-19 pada tahun 2020, juga semakin membuktikan eksistensi industri sawit sebagai sumber devisa Indonesia. Nilai ekspor produk sawit (mencakup CPO dan RPO, Crude dan Refined PKO, biodiesel dan oleokimia) pada tahun 2020 mencapai USD 22.9 miliar atau sebesar Rp 321.5 triliun (dengan kurs Rp 14,000). Devisa ekspor produk sawit di tahun 2020 bahkan lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum pandemi yakni hanya sebesar USD 20.2 miliar pada tahun 2019.

Kinerja ekspor produk sawit yang sangat berkilau di tahun 2020 juga berhasil membawa produk sawit menyandang predikat sebagai kontributor utama devisa ekspor Indonesia. Bahkan devisa ekspor yang dihasilkan produk sawit di tahun tersebut lebih besar dibandingkan dengan devisa ekspor yang dihasilkan oleh produk migas dan produk tambang. Tidak hanya itu, industri sawit juga turut berkontribusi terhadap pecahnya rekor surplus neraca perdagangan tertinggi sejak 2011.

Prestasi tingginya devisa ekspor produk sawit kembali terjadi pada tahun 2021. Tercatat nilai ekspor produk sawit periode Januari-Agustus 2021 mencapai USD 23.4 miliar. Devisa ekspor pada periode ini lebih tinggi sebesar 71.6 persen dibandingkan dengan Januari-Agustus 2020 atau sebesar 1.7 persen dibandingkan sepanjang tahun 2020.

Jika dibandingkan tahun 2020, besarnya devisa ekspor produk sawit lebih disebabkan lebih disebabkan karena peningkatan harga minyak sawit global khususnya pada produk CPO dan RPO, sementara itu volume ekspor kedua produk sawit tersebut justru mengalami penurunan sebagai dampak dari lemahnya demand global. Namun tren peningkatan ekspor produk sawit yang positif pada tahun 2021 tidak hanya disebabkan peningkatan dari segi harga akibat booming price yang terjadi, namun juga disebabkan karena peningkatan volume ekspor yang disebabkan akibat krisis energi yang terjadi di India dan China.

Berkat prestasinya yang sangat menonjol sebagai pahlawan devisa ekspor yang turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa pandemi, menjadikan industri sawit nasional diposisikan sebagai industri strategis yang memiliki peran dalam pemulihan ekonomi nasional pasca-pandemi.

Oleh karena itu, untuk memperkuat dan memperbesar peran sawit sebagai pahlawan devisa Indonesia yang bermanfaat bagi pemulihan ekonomi nasional, diperlukan komitmen dan upaya yang kuat dari stakeholder maupun masyarakat Indonesia untuk menciptakan iklim usaha industri sawit nasional yang kondusif melalui citra sawit positif serta perbaikan tata kelola yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Share this article

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on xing
Share on email

You may also like these articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *